Hiperhidrosis, Masalah Kesehatan dan Psikologis

hiperhidrosis-masalah-kesehatan-dan-psikologis

Oleh: dr.Husin Rotan, MKT.

Hiperhidrosis meru­pa­kan suatu keadaan di mana tubuh ber­ke­ringat secara ber­lebihan sehingga da­pat mem­pengaruhi kualitas hidup. Ke­ringat yang terjadi pada manusia me­rupakan proses vital dan secara fisio­logis di­pengaruhi oleh termoregula­tor, aktivitas harian, dan emosional, yang berasal dari kelenjar keringat.

Sebagian besar kelenjar keringat adalah tipe eccrine, terdistribusi pada seluruh tu­buh dengan penyebaran ter­besar di daerah aksila, di su­sul telapak tangan, dan tela­pak kaki. Kelenjar ke­ringat mulai berperan aktif saat pubertas dan menghasilkan cair­an kental.

Termoregulator diperlu­kan untuk mem­pertahankan suhu tubuh dan ho­meostatis. Keringat dapat meningkat saat berada di keramaian, cuaca terik, aktivitas berat dan saat emosional, ini masih dapat dikategorikan wajar. Ke­ringat yang terjadi bila sampai meng­ganggu peker­jaan dan pengaulan, dinama­kan hiperhidrosis.

Hiperhidrosis dapat dikla­sifi­ka­sikan secara primer dan sekunder. Hi­per­hidrosis pri­mer biasanya tidak diketahui penyebabnya, simetris bilateral, umum­nya di daerah ak­sila, tela­pak tangan dan kaki, serta wajah dan jarang pada kulit kepala dan lipatan paha. Hiperhidrosis sekunder bisa fo­kal dan general, dengan pe­nyakit yang mendasari dan pema­kaian me­di­kamentosa.

Secara epidemiologi, hi­perhidrosis ter­jadi 1-3% pada populasi AS, de­ngan kurang setengah penderita yang ber­konsultasi pada dokter. Riwa­yat ke­luarga penderita hi­per­hidrosis dila­por­kan berhu­bungan erat dengan pre­dispo­sisi genetik, prevalensi seim­bang antara pria dan wanita, akan tetapi wa­nita cenderung mencari pertolongan medis.

Hiperhidrosis diduga da­pat diaki­batkan oleh dis­fung­si dari su­sunan sa­raf simpatik dan parasimpatik dengan neu­­rotransmisi asetilkolin. Hi­per­hid­rosis juga berkaitan dengan ling­ku­ngan dan emo­sional sebagai pencetus mi­salnya stress, kecemasan, al­kohol, heat stroke, dan lain-lain. Penderita akan merasa malu bila adanya ke­ri­ngat ber­lebihan sehingga minder un­tuk berjabat tangan (sa­lam­an), atau meng­­hindar da­ri keramaian semisal pesta, karena dapat tercium aroma kuat dari keringat badan.

Bentuk khas hiperhidrosis fokal se­perti Harlequin syndrome dan Frey’s syndrome. Harlequin syndrome da­erah yang keringat berlebihan ter­lihat kemerahan, unilateral di­sertai kom­pen­satorik secara kontralateral terjadi anhidrosis akibat kerusakan saraf sim­patik, baik di daerah pu­sat (batang otak) dan perifer.

Sedang Frey’s syndrome, adalah ke­lainan hiperhidrosis akibat gusta­to­rik fokal misal­nya saat makan ma­ka­nan pe­das, juga bisa akibat kom­pen­sasi keringat pada pende­rita diabetes, dan terakhir efek gustatorik bisa ter­jadi se­cara herediter.

Hiperhidrosis dapat dite­gakan ber­da­sarkan gangguan keringat fokal, pendekatan tes Minor’s starch iodine: laru­tan iodine dioleskan di kulit de­ngan bubuk tepung, apabila berkontak dengan keringat akan terlihat warna violet. Distribusi cairan violet akhir­nya ditentukan area mana yang mun­cul. Itulah hiperhidrosis fokal.

Banyaknya keringat dapat dite­n­tu­kan melalui sudometri kuantitatif, yang diukur de­ngan kapsul plexiglas dengan aliran air berkesinambungan, baik secara spontan maupun disti­mulasi. Sebagai contoh menggu­na­kan asetilkolin ion­toforesis atau Quantitative Sudomotor Axon Reflex Test (QSART).

Gravi­metri merupakan tes yang nya­man dalam menen­tukan kuantitas keringat ak­sila, yang mana kertas pe­nya­ringan diselipkan di lipatan ketiak selama 1-5 menit,dan ditimbang, bila jumlah keri­ngat di aksila melebihi kadar 50 ng/min, di telapak tangan dan kaki melebihi kadar 20 ng/min, di­pertimbangkan pa­tologis.

Pengobatan hiperhidrosis dapat di­bagi berdasarkan atas konservatif dan operatif, an­tara lain:

A. Secara topical, antiperspirant yang mengandung ga­ram aluminium dengan konsentrasi 1-2%, alumi­ni­um chloride konsentrasi 15-25%, efek samping dapat mengiritasi kulit, rasa ter­ba­kar akibat penyumbatan sa­luran kelenjar keringat secara mekanik dan pemakaian jang­ka panjang terjadi atrofi sel sekretoris.

B. Astringent sebagai pe­makaian luar (tropikal) se­per­ti formaldehyde dapat me­nyebabkan reaksi alergi dan iritasi kulit.

C. Gustatorik pada pende­ri­ta diabe­tes mellitus atau Frey’s syndrome, de­ngan 0,5% glycopyrrholate (bahan da­sar asetilkolin) secara to­pikal.

D. Metode lain misalnya tap water ion­tophoresis seba­gai pilihan untuk te­rapi hi­perhidrosis telapak tangan dan kaki, hati-hati dalam penggunaan pada wanita ha­mil dan pasien me­ng­una­kan pacemaker,

E. Injeksi botulinum toxin efektif (non operatif), untuk hiperhidrosis fo­kal secara intradermal dan mengham­bat pelepasan asetikolin dari si­naps sudomotor.

F. Pilihan operasi yakni endoscopic thoracic sympathectomy pada saraf ganglia simpatik thorax 2 atau 3, sympathectomy lebih efektif pada hiperhidrosis telapak tangan mencapai 85%.

G. Untuk hiperhidrosis ge­neralisata dipertim­bang­kan medikamentosa dengan obat anti kolinergik dengan per­­timbangan medis, harus memper­ha­tikan efek samping seperti mulut ke­ring, retensi urin, konstipasi dan gang­gu­an memori.

()

Baca Juga

Rekomendasi