Para peserta dan narasumber seminar nasional dan pelatihan penggerak perdamaian di Aula Aula Kampus II IAKN Tarutung, Silangkitang, foto bersama, Kamis (11/11) (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Silangkitang - Program Studi Pendidikan Penyuluh Agama Institut Agama Kristen Negeri Tarutung, mengggelar seminar nasional dan pelatihan penggerak perdamaian dengan tema 'Revolusi Mental Menuju Universitas Kristen Negeri (UKN) yang Inklusif' di Aula Kampus II IAKN Tarutung, Silangkitang, sejak 8-11 November 2021.
Kegiatan ini bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, organisasi keberagaman dan perdamaian, Paritas Institute.
Direktur Paritas Institute, Penrad Siagian, menjelaskan tentang inklusifitas teologi dan juga peran Kristen di ruang publik keberagaman. Menurutnya, dunia pendidikan sangat diharapkan perannya untuk memperbincangkan keberagaman di ruang publik.
"Ruang publik harus terus dijaga menjadi inklusif, menjadi ruang bersama yang setara, tempat menyatakan ekspresi kemajemukannya,” kata Penrad.
Untuk itu dia mengharapkan, dibutuhkan sikap dewasa dan kerendahan hati menerima dan menghormati beragam perbedaan di dalamnya.
“Sehingga peran dan kontribusi yang beragam dapat menjadi sebuah harmoni dalam ke-Indonesiaan,” ujarnya.
Dewan Pengawas Paritas, Andreas Yewangoe mengatakan, toleransi memang penting, namun yang paling utama adalah sikap saling menghargai.
“Kita harus terus mendorong terwujudnya teologi kerendahan hati, yang menyelaraskan agama dan iman. Pancasila adalah realitas pluralisme Indonesia, sekaligus merupakan ruang publik yang sudah tersedia. Tugas generasi mudalah untuk melanjutkannya,” tuturnya.
Dekan FIPK IAKN Tarutung, Dame Taruli, menyampaikan tentang implementasi budaya kerja berdasarkan kasih di lingkungan IAKN Tarutung.
Ketua Program Studi PPA IAKN Tarutung, Hanna Dewi Aritonang mengatakan dihari kedua dan ketiga diadakan pelatihan agen penggerak perdamaian.
"Mereka dibekali dengan metode berpikir kritis, menganalisis keberagaman di Tapanuli Utara dengan analisa sosial, melakukan kampanye perdamaian melalui tulisan," ujarnya.
(CAN/CSP)