Satgas Pangan Temukan Penimbunan MinyaKita, Penelusuran Mendalam Harus Dilakukan

Satgas Pangan Temukan Penimbunan MinyaKita, Penelusuran Mendalam Harus Dilakukan
Satgas Pangan Temukan Penimbunan MinyaKita, Penelusuran Mendalam Harus Dilakukan (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Minyak goreng dengan merek MinyaKita yang diduga sengaja ditimbun di salah satu gudang distributor di Kota Medan ditemukan Satgas Pangan Sumut saat melakukan sidak.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, temuan tersebut sangat perlu untuk ditindaklanjuti. Dari sejumlah sumber yang didapat Gunawan, angkanya sekitar 75 ton yang ditimbun.

Jika mengacu kepada konsumsi minyak goreng per kapita masyarakat Kita Medan yang sekitar 0.25 liter per minggu, maka 75 ton bisa memenuhi kebutuhan minyak goreng sekitar 300 ribu orang dalam satu minggu.

“Cukup signifikan jumlahnya, dan tentunya harga MinyaKita ini memiliki batas harga jual yang diatur sebesar Rp 14 ribu per liternya. Kalau mengacu kepada data PIHPS saat ini saja, harga minyak goreng curah dijual di kisaran Rp 15 ribu per Kg,” kata Gunawan, Selasa (14/2).

Jadi, lanjutnya, kalau MinyaKita yang ada sebanyak 75 ton ini bisa disalurkan semuanya ke masyarakat miskin di Kota Medan, maka akan mampu memenuhi sekitar 11 hari kebutuhan minyak goreng masyarakat miskin di Kota Medan yang berjumlah 187 ribuan menurut data BPS.

“Kalau seandainya 75 ton di lepas di pasar, memang masih belum akan memberikan dampak penurunan harga minyak goreng yang signifikan,” ujarnya.

Menurut hitungan Gunawan, setidaknya dibutuhkan 615 ton minyak goreng dalam 1 pekan untuk menekan harga di Kota Medan. Tetapi yang perlu dilakukan adalah untuk menemunkan praktim penimbunan serupa di tempat lainnya.

“Kalau mengacu kepada apa yang diutarakan Sekretaris Satgas Pangan Naslindo Sirait, beliau menyatakan bahwa produksi MinyaKita (ditimbun) itu dilakukan sekitar November dan Desember 2022, maka memang temuan ini menjadi linier dengan kenaikan harga minyak goreng curah selama ini,” sebutnya.

Berdasarkan data PIHPS, harga minyak goreng curah di Sumut sempat ditransaksikan di harga Rp 12.500 per Kg pada Oktober 2022. Mulai naik di rata-rata harga Rp 13.500 per Kg pada November, dan mencapai lebih dari harga HET (Rp 14 ribu) pada Januari 2023 hingga saat ini.

“Dugaan penurunan pasokan memang bisa menjadi pemicu kenaikan harga miyak goreng curah itu sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, kalau melihat tren harga CPO yang belakangan ini ditransaksikan di kisaran 3.800 hingga 4.000 ringgit per ton. Sementara dalam 1 tahun belakangan harga CPO dalam tren turun, dan masih lebih rendah dibandingkan dengan 4 bulan terakhir di tahun 2022 (sempat di atas 4000 ringgit per ton). Maka tren kenaikan harga minyak goreng curah, justru terjadi disaat ada tren penurunan harga CPO di pasar global.

Akan tetapi, sambung Gunawan, temuan penimbunan oleh Satgas Pangan ini masih sedikit untuk menyimpulkan bahwa memang telah terjadi penimbunan dalam skala besar yang membuat harga minyak goreng curah mengalami kenaikan.

“Karena dari data yang saya dapat dari Pemprov Sumut, ada 16 produsen dan 30 distributor minyak goreng yang bisa ditelusuri lebih jauh lagi,” ucapnya.

“Indikasi awal yang memicu kenaikan harga minyak goreng memang terlihat. Namun selanjutnya kita serahkan saja kepada Satgas Pangan (KPPU) untuk melakukan pendalaman,” lanjutnya.

Dan, sebutnya, perlu dilakukan penelusuran lebih dalam lagi untuk mengungkap potensi praktim penimbunan serupa, yang diharapkan temuannya bisa lebih besar dari yang saat ini.

“Jadi jangan sampai kita berhenti di titik ini. Kita memang harus melakukan upaya ekstra lagi, agar fenomena lainnya terungkap dan kita berkesimpulan pada satu hal yang sama. Agar kebijakan yang kita ambil nantinya tepat dalam mengungkap serta mengatasi kenaikan harga minyak goreng belakangan ini,” tandasnya.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi