Ketangguhan Para Perempuan Mendaki Loser-Leuser

Ketangguhan Para Perempuan Mendaki Loser-Leuser
Ketangguhan Para Perempuan Mendaki Loser-Leuser (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Hiruk-pikuk kemeriahaan acara pergantian tahun yang biasanya ditandai dengan raungan sirene, tiupan trompet, rentetan dentum mercon dan warna-warni kembang api menghiasi langit malam, kali ini tak ada.

Yang ada hanya desiran angin kencang dan suara gesekan cabang ranting pohon. Juga, sayup-sayup terdengar gemericik air sungai pegunungan di dasar lembah. Suasana haru dan sakral menyergap pikiran dan hati.

“Perjalanan turun dari Loser seolah berlomba dengan guyuran hujan menuruni lembah-lembah curam dengan rimba belantara lebat antara bivak Kandang Badak, menyeberangi Sungai Alas, mengejar waktu agar bisa berkemah yang terakhir di Gunung Pucuk Angkasan, sebelum sampai di Dusun Keudah,” pesan singkat WhatsApp dari Lim Yani (31/12/2024).

Larut malam, Lim Yani mengirim pesan lagi, “Kami sudah sampai di Pucuk Angkasan, tadi menjelang Maghrib. Kami baru saja rayakan pergantian tahun di Gunung Pucuk Angkasan. Kebanyakan pendaki tertidur kelelahan. Hanya beberapa orang yang masih terjaga. Kami cuma ngobrol ringan, saling salaman mengucapkan selamat tahun baru. Berdoa supaya tetap sehat dan bisa berbagi manfaat nantinya”.

Lim Yani adalah ibu seorang anak yang mahasiswa tahun pertama, merupakan seorang pendaki wanita yang ikut dalam Mega Ekspedisi Loser-Leuser 2024.

Bagi Lim Yani, perempuan paro-baya campuran Cina-Batak ini, pendakian ke Gunung Leuser adalah untuk yang kedua kalinya sembari merayakan Hari Ibu (22/12/2024) dan tepat merayakan hari ulang tahunnya yang ke-49 di puncak Gunung Leuser.

Jika kali ini ia terlibat pendakian bersama organisasi Shelter Garut yang diketuai Adul, maka pada tahun 2019 lalu, saat sudah berusia 44 tahun ia ikut pendakian bersama organisasi SANGKALA, di mana ia lah kini yang menjadi ketuanya. Ia mengikuti jejak seniornya Ramadhani yang mendaki Gunung Loser-Leuser 2 kali.

Ramadhani melakuan pendakian pertama saat berusia 24 tahun pada tahun 1987 dan pendakian kedua pada 32 tahun setelahnya, yakni saat sudah berusia 57 tahun pada tahun 2019.

Lim Yani dan Ramadhani adalah sedikit dari perempuan Indonesia yang siap secara fisik dan mental. Meski sudah paro-baya masih mampu melakukan pendakian gunung melalui lintasan panjang dengan waktu yang lumayan lama.

Dibutuhkan waktu lebih dari 12 hari untuk mendaki sampai ke puncak-puncak Gunung Pucuk Angkasan, Gunung Bivak, Gunung Tanpa Nama, Gunung Karang Putih, Gunung Loser dan Gunung Leuser yang terdapat di dalam kawasan konservasi Taman Nasional di Aceh.

Pada Mega Ekspedisi Loser-Leuser 2024 ini, ada 8 orang pendaki wanita dengan berbagai usia. Selain Lim Yani, ada Rusda (24) dari Bogor, Nadia (25) dari Bandung, Marta (28) dari Tarutung, Naomi (29) dari Jakarta, Dewi (34) dari Malaysia, Maria (43) dari Garut dan Dian (46) dari Lombok.

Mereka semua ini membuktikan bahwa kaum perempuan bukan lah makhluk lemah. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada Kartini, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Martha Kristina, Cut Meuthia, Cut Nyak Din, Siti Manggopoh, Rasuna Said, Rohana Kuddus, Maraddia Balanipa, Maria Walanda, Opu Daeng Risadju, dan banyak lagi lainnya.

Para wanita pendaki Mega Ekspedisi Loser-Leuser 2024 dan para perempuan pejuang kemerdekaan adalah kaum perempuan tangguh Indonesia yang mengagumkan dan layak diteladani oleh generasi millenial atau gen-Z masa kini.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi