Yunita Lestari, guru di UPT SD Negeri 03 Lubuk Cuik, Kabupaten Batubara, yang menciptakan media belajar matematika bernama “Catur Numerik”. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Batu Bara - Kreativitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran terus bermunculan. Salah satunya datang dari Yunita Lestari, guru di UPT SD Negeri 03 Lubuk Cuik, Kabupaten Batubara, yang menciptakan media belajar matematika bernama “Catur Numerik”.
Media ini dirancang khusus untuk siswa kelas rendah (kelas I-III SD) agar mereka lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan melalui permainan interaktif.
“Media pembelajaran saya ini untuk kelas rendah. Namanya Catur Numerik. Anak-anak akan memilih satu angka yang mereka inginkan, lalu diletakkan di kotak tertentu,” jelas Yunita kepada Analisa, Selasa (11/11/2025).
Ia menerangkan, permainan ini memiliki petunjuk atau “clue” yang mudah diingat oleh anak-anak. “Kalau maju dua kotak berarti tambah, kalau mundur berarti kurang. Kanan itu tambah, kiri itu kurang,” ujar Yunita sambil menunjukkan cara bermainnya.
Sebagai contoh, jika anak memegang angka empat lalu maju dua kotak, hasilnya adalah enam. “Anak-anak akan memindahkan angka itu ke kotak yang sesuai, kemudian guru memberi instruksi berikutnya. Jadi mereka belajar berhitung sambil bermain,” tambahnya.
Yunita mengaku ide pembuatan Catur Numerik muncul setelah ia mengikuti program pelatihan tiga bulan yang diinisiasi oleh Tanoto Foundation. Dalam pelatihan itu, para guru diminta menciptakan media pembelajaran inovatif yang belum pernah ada sebelumnya.
“Tiga bulan semenjak Tanoto memberikan pendampingan dan ide, saya mulai berpikir untuk buat media yang berbeda. Karena bapak fasilitator juga bilang, coba buat yang belum pernah ada. Jadi saya berusaha membuat sesuatu yang benar-benar baru,” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa inspirasinya datang dari pengamatannya terhadap konten pembelajaran di media sosial. “Saya sering lihat di TikTok, belum pernah ada media seperti ini. Jadi saya coba saja bikin,” katanya.
Hasilnya pun dirasakan langsung di kelas. Menurut Yunita, siswa tampak lebih tertarik dan aktif saat belajar dengan Catur Numerik. “Mereka lebih antusias karena ada bendanya. Mereka bisa lihat langsung hasilnya, dan saling bantu kalau ada yang belum paham angka,” tutur Yunita.
Media ini juga mendorong interaksi positif antar siswa. Anak-anak tidak hanya belajar berhitung, tetapi juga belajar bekerja sama dan saling mengoreksi dengan cara yang menyenangkan.
Program inovasi pembelajaran dari Tanoto Foundation, kata Yunita, telah memberi banyak manfaat bagi guru dan sekolah. “Sekolah kami direkomendasikan ikut oleh Tanoto, dan kami langsung setuju karena kepala sekolah bilang, ikuti saja, ambil ilmunya,” pungkasnya.
Melalui inovasi seperti Catur Numerik, Yunita berharap semakin banyak guru yang berani berkreasi dan menciptakan media pembelajaran baru yang membuat anak-anak belajar dengan gembira.
(DEL)