Misi Literasi Pangan BULOG Sumut: Edukasi Gen Z Medan Agar Melek Tata Kelola Beras Nasional (Analisadaily/Reza Perdana)
Analisadaily.com, Medan – Suasana Gudang Pulo Brayan Darat I Perum BULOG Kanwil Sumut tampak berbeda dari biasanya pada Selasa (21/4/2026). Puluhan siswa/i SMP Swasta Ikal dan SMK Kartika tampak antusias mengikuti kunjungan edukatif bertajuk “BULOG Dorong Literasi Pangan Melalui Kunjungan Edukatif Siswa.”
Acara berlangsung cair dan penuh tawa saat Pemimpin Wilayah (Pimwil) Perum BULOG Kanwil Sumut, Budi Cahyanto, menyambut para siswa dengan berbagai tebakan jenaka berhadiah uang tunai. Salah satunya saat ia melontarkan pertanyaan, "Bapak-bapak apa yang tidak bisa berenang?" yang dijawab dengan kompak oleh siswa, "Bapaknya burung!"
Di balik candaan tersebut, Budi membawa misi penting: mengenalkan peran strategis BULOG dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia kepada generasi muda.
“Saya ingin adik-adik mengenal lebih jauh peran BULOG. Ibarat Pertamina yang mengelola bensin dan solar, atau BRI di bidang perbankan, BULOG adalah BUMN yang ditugaskan pemerintah secara profesional untuk melayani masyarakat di bidang pangan,” ujar Budi di hadapan para pelajar.
Budi menjelaskan bahwa saat ini pemerintah memberi mandat kepada BULOG untuk mengelola empat komoditas utama: beras, jagung, kedelai, dan minyak goreng. Ia menekankan bahwa tugas BULOG bukan sekadar menimbun barang, melainkan memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga (3K) di seluruh pelosok negeri.
“Indonesia ini luas, tidak semua daerah produksi beras. Papua atau Maluku mungkin tidak punya sawah sebanyak di Sumut atau Aceh. Di sinilah peran BULOG, mengumpulkan beras dari daerah surplus untuk dikirim ke daerah yang membutuhkan agar seluruh rakyat Indonesia punya akses yang mudah terhadap pangan pokoknya,” jelasnya.
Kepada para pelajar, Budi juga memperkenalkan produk beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang kemasannya identik dengan warna hijau. Ia menjelaskan bahwa harga beras tersebut bisa murah karena adanya subsidi dari pemerintah yang berasal dari pajak masyarakat.
“Misalnya harga beli dari petani itu Rp14.000, tapi di depan gudang BULOG hanya dijual Rp11.300. Selisihnya itu subsidi dari pemerintah, dari pajak yang dibayar orang tua kalian saat bekerja. Jadi, beras ini benar-benar untuk kepentingan masyarakat,” tambah Budi.
Selain SPHP, Budi juga memaparkan program Bantuan Pangan gratis untuk keluarga kurang mampu serta peran BULOG dalam menyalurkan minyak goreng "Minyakita" dan jagung subsidi bagi peternak untuk menjaga harga telur tetap stabil.
Melalui kegiatan literasi pangan ini, BULOG berharap para siswa tidak hanya tahu bahwa nasi berasal dari padi, tetapi juga memahami ekosistem besar di baliknya—mulai dari keringat petani, pengelolaan gudang, hingga kebijakan subsidi pemerintah yang menjaga piring makan rakyat tetap terisi.
(RZD/RZD)