Abdul Rahim Siregar ST, MT (Analisadaily/istimewa)
Bulan ini menjadi salah satu periode yang penuh ujian bagi bangsa Indonesia. Di tengah harapan besar rakyat terhadap percepatan pembangunan dan kesejahteraan, berbagai persoalan justru muncul secara bersamaan.
menyatakan bahwa pendidikan bukan persiapan hidup, melainkan kehidupan itu sendiri.* Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia berulang kali menegaskan bahwa investasi kesehatan merupakan investasi produktivitas bangsa. Adapun infrastruktur harus dipastikan tidak hanya membangun beton dan aspal, tetapi juga menciptakan konektivitas ekonomi dan keadilan sosial.
Kenaikan harga BBM dan sembako yang terus menekan daya beli masyarakat harus menjadi perhatian utama pemerintah. Rakyat kecil tidak membutuhkan penjelasan yang rumit; mereka membutuhkan solusi yang nyata. Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan tidak bertambah, maka yang terancam bukan hanya ekonomi rumah tangga, tetapi juga stabilitas sosial. *Pengusaha dunia Henry Ford pernah mengatakan bahwa bisnis yang baik adalah bisnis yang melayani masyarakat.* Dalam konteks negara, kebijakan yang baik adalah kebijakan yang melindungi rakyat. Pemerintah perlu memperkuat subsidi yang tepat sasaran, memperbaiki distribusi logistik, dan menutup ruang spekulasi yang merugikan masyarakat.
Pada akhirnya, pemerintah tidak boleh memandang gelombang demonstrasi jilid II sebagai ancaman, melainkan sebagai momentum koreksi nasional. Mahasiswa, guru besar, dosen, ulama, tokoh masyarakat, dan rakyat yang turun menyuarakan aspirasi pada hakikatnya sedang mengingatkan bahwa cita-cita reformasi belum selesai. *Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa kekuasaan dan agama adalah dua saudara kembar; agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Tanpa fondasi moral, kekuasaan akan rapuh.* Karena itu, sikap paling elegan bagi Presiden, DPR dan kabinet hari ini adalah mendengar, mengevaluasi, memperbaiki, dan bergerak bersama seluruh elemen bangsa. Sebab sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari kesalahan, melainkan bangsa yang berani mengakui kekurangan dan segera memperbaikinya demi masa depan rakyat dan generasi yang akan datang.
Berita kiriman dari: Sekretaris FPKS DPRD Sumut - Mahasiswa S3 Manajemen UMSU











