Oase di Balik Sekolah Sawit Lestari

Oase di Balik Sekolah Sawit Lestari
Siswa sedang menebar pupuk pada program Sekolah Sawit Lestari (Analisadaily/nirwansyah sukartara)

Analisadaily.com, Labuhanbatu - Matahari menggantung hangat di langit Kecamatan Silangkitang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), Provinsi Sumatera Utara, Selasa (10/6/2026). Sinarnya menembus sela-sela pelepah kelapa sawit yang berjajar rapi di belakang gedung sekolah kejuruan. Saat itu waktu menunjukkan Pukul 10.15 WIB.

Dengan seragam praktik dan ember pupuk di tangan, para siswa kelas XI berjalan menyusuri lorong-lorong kebun. Mereka berhenti tak jauh dari batang pohon sawit, lalu menaburkan pupuk sesuai dosis. Sesekali terdengar arahan dari gurunya, disambut anggukan para siswa yang tampak begitu akrab dengan tanaman yang selama ini menjadi denyut nadi perekonomian daerah mereka.

Perjalanan menuju sekolah ini bukan tanpa tantangan. Jalanan berlubang yang membelah kawasan perkebunan sempat membuat perjalanan kami sedikit tersesat. Untungnya ada google map dan pemandu jalan yang akhirnya bisa mengantarkan kami sampai di Desa Suka Dame, salah satu desa yang di dalamnya berdiri sekolah yang menjadi harapan bagi anak-anak “kebun” di Kecamatan Silangkitang. Sekolah itu adalah SMK Negeri Silangkitang. Sekolah yang dulunya tak banyak peminat, malah sekarang kebanjiran peminat.

“Saya masih ingat, 2015 sewaktu saya datang ke sekolah ini, jumlah siswa nya itu masih 86 orang,” kenang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Negeri Silangkitang, Florius Herry Nababan, S.TP.

Sekolah ini dulunya sama sekali tak menjadi perhatian masyarakat di Labusel. Bahkan banyak anak-anak di desa lebih memilih masuk SMA dibandingkan SMK. Susah sekali rasanya meningkatkan jumlah siswa di sekolah tersebut. Entah apa yang salah dengan sistem pengajarannya, namun bagi Nababan sulit bagi mereka menambah jumlah siswa pada setiap ajaran baru.

Dua tahun ia berada di sekolah tersebut, perlahan sekolah itu mulai tumbuh dan berkembang. Sebagai sekolah kejuruan dengan jurusan Agribisnis Tanaman Perkebunan, mereka dituntut bekerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (Dudi). Dari kerja sama itulah harapan anak-anak di Silangkitang bangkit lewat Program Sekolah Sawit Lestari yang diusung oleh Asian Agri melalui anak perusahaannya yakni PT Supra Matra Abadi (SMA).

Kerja sama itu didapatkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT SMA, yang secara letak geografis perusahaannya tak terlalu jauh dengan SMK Negeri Silangkitang. Di tahun 2017, PT SMA memberikan mereka bibit sawit Topaz, yang merupakan varietas kelapa sawit unggul yang diproduksi Asian Agri. Bibit sawit itu lalu ditanam di areal seluas 1 hektare yang letaknya persis di belakang sekolah.

“Dulu areal ini sempat ditanam pohon karet. Tapi tak terawat dengan baik. Akhirnya mati,” kata Nababan.

Karena tak termanfaatkan dengan baik, akhirnya sekolah dan PT SMA sepakat untuk memanfaatkan lahan tersebut ditanam sawit agar hasilnya bisa menjadikan sekolah lebih mandiri. Dan tujuan itu sesuai dengan tujuan Program Sekolah Sawit Lestari yang diusung Asian Agri.

Pusat Edukasi dan Laboratorium

Bukan hanya keuntungan bagi siswa, Kepala SMK Negeri Silangkitang, Dina Karyawati Saragih mengatakan bahwa setelah mendapat Program Sekolah Sawit Lestari, sekolah mereka menjadi lebih mandiri. Di tahun 2020, sawit yang mereka rawat mulai panen. Uang hasil penjualan sawit awalnya digunakan lebih dulu untuk membeli pupuk berkualitas. Selanjutnya baru untuk keperluan siswa dan guru. Saat ini, dengan uang hasil panen sawit yang telah terkumpul, SMK Negeri Silangkitang benar-benar mandiri. Mereka menggunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan ekstrakurikuler siswa, seperti membeli bola dan raket bulutangkis, biaya les tambahan siswa, serta membantu siswa yang tidak mampu.

“Saat bulan Ramadan, kita memberikan bantuan sembako kepada siswa kita yang tidak mampu. Begitu juga beberapa waktu lalu, uang penjualan buah sawitnya kita gunakan untuk membantu biaya perobatan telinga siswa yang sakit,” ucap Dina.

Belum lama ini, mereka juga berkurban sapi dari hasil panen sawit. Dagingnya dibagikan ke masyarakat di sekitar sekolah. Bahkan untuk guru sendiri, uang hasil penjualan sawit pernah mereka gunakan untuk membantu guru yang melahirkan. “Termasuk membeli seragam yang saya pakai hari ini,” kata Dina sambil menunjuk seragam putih yang ia pakai dengan guru lainnya.

Ada tiga seragam guru yang mereka jahit sendiri dari uang penjualan sawit. Penghasilan penjualan sawit sendiri cukup membantu karena mereka bisa panen dua kali dalam sebulan. Dari 108 bibit sawit yang ditanam, 105 pohon bisa berbuah dengan kualitas yang baik. Tiga pohon lagi sengaja dipangkas sebagai tempat untuk membuat pupuk kompos.

Peningkatan Skill dan Membludak

Dari Program Sekolah Sawit Lestari, peluang lainnya dalam pengembangan skill siswa dan guru juga terbuka lebar untuk SMK Silangkitang. Asian Agri lewat PT SMA berulang kali memberikan pelatihan terhadap guru dan siswa, seperti pelatihan pilot drone dan pembibitan. Siswa mereka juga ditampung di dunia kerja.

Dan yang paling penting, kata Dina setelah Program Sekolah Sawit Lestari ini berjalan di SMK Negeri Silangkitang, jumlah siswa mereka jadi membludak. “Pendaftar kita melimpah. Kita kewalahan menampungnya. Akhirnya banyak siswa yang kita tolak. Semua warga mau menyekolahkan anaknya di sini,” katanya.

Total siswa mereka saat ini telah mencapai 300 orang. Sampai saat ini sudah 35 persen dari lulusan SMK Negeri Silangkitang yang telah diterima bekerja di dunia industri, seperti di PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), PTPN IV, sejumlah perusahaan perkebunan swasta, termasuk di PT SMA yang merupakan anak perusahaan Asian Agri. Sisa lulusannya juga banyak yang menjadi petani sawit dan hanya sedikit yang bekerja di luar sektor perkebunan.

Koordinator CSR Asian Agri Wilayah Sumatera Utara, Muchtar mengatakan bahwa Program Sekolah Sawit Lestari diberikan kepada SMK Negeri Silangkitang karena selaras dengan yang dibutuhkan sekolah. Apalagi katanya jarak perusahaan mereka dengan sekolah sangat dekat.

“Kita pasti mengutamakan di sekitar areal perusahaan kita lebih dulu. Dan ternyata karena mereka punya areal lahan yang tidak dimanfaatkan, makanya kita usung memberikan CSR lewat Program Sekolah Sawit Lestari,” ujarnya.

Ia menilai bahwa CSR mereka sudah tepat sasaran. Ia apresiasi karena saat ini SMK Negeri Silangkitang sudah lebih mandiri. Bahkan ada juga lulusan dari mereka yang direkrut langsung oleh PT SMA. Untuk CSR lainnya kata Muchtar juga banyak diberikan kepada penerima manfaat lainnya. Sekolah lain di Labusel ada yang menerima bantuan alat praktikum. Begitu juga masyarakat di sekitar lokasi telah diberikan bantuan oleh perusahaan.

Satu-satunya di Sumut

Untuk di Sumatera Utara, Media Relation Asian Agri, Lidia Veronika Ginting mengatakan bahwa SMK Negeri Silangkitang merupakan satu-satunya sekolah yang mendapatkan Program Sekolah Sawit Lestari. Secara keseluruhan, sekolah yang mendapatkan program ini ada 6 sekolah. Lima sekolah lagi yakni 1 sekolah di Riau (SMK Negeri 1 Kerinci) dan 4 sekolah lagi di wilayah Jambi yakni, SMA Negeri 11 Batanghari, SMP Negeri 28 Terusan, SD Negeri 29/1 Terusan dan SMK Negeri 6 Lubuk kambing.

Tujuan utama program ini sendiri bagaimana sekolah yang selama ini memiliki keterbatasan sehingga bisa menjadi lebih mandiri secara ekonomi untuk mengembangkan kemampuan siswanya dengan memanfaatkan lahan yang dimilikinya. “Program ini hadir sebagai solusi ekonomi bagi masyarakat di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah perkebunan,” katanya.

Selain itu, Asian Agri juga kata Lidya memiliki Program Desa Sawit Mandiri (DSM). Program ini hampir mirip dengan Sekolah Sawit Lestari. “Hanya saja ini memanfaatkan lahan desa yang tidak produktif agar lebih bernilai ekonomi bagi desa dengan melakukan penanaman sawit,” ucapnya.

Untuk DSM ini di Riau ada dua desa yakni Desa Ukui 2 dan Desa Simpang Perak Jaya. Sementara di Jambi ada 2 desa yakni Desa Penyabungan dan Desa Terusan. “Pada intinya Program CSR Asian Agri senantiasa diselaraskan dengan pemerintah setempat dan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Asian Agri sendiri terus berkomitmen sesuai dengan visi Asian Agri 2030 yakni sebuah transformasi bisnis berkelanjutan yang berlandaskan filosofi 5C yakni memberikan manfaat bagi community (komunitas), bagi country (negara), climate (iklim), customer (pelanggan), dan pada akhirnya juga bermanfaat untuk company (perusahaan).

Melalui empat pilar utama itu, Asian Agri berupaya membangun kemitraan yang saling menguntungkan, baik itu dengan petani kecil, mendorong pertumbuhan masyarakat, memperkuat perlindungan iklim, serta memastikan produksi yang bertanggung jawab.

Gubernur Sumatera Utara melalui Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Alexander Sinulingga mengapresiasi program Sekolah Sawit Lestari yang diusung Asian Agri. Ia menegaskan bahwa ke depan kemitraan antara SMK dengan Dudi harus diperkuat. Karena hal itu adalah kunci untuk menciptakan lulusan yang kompeten dan siap kerja. Kolaborasi ini bertujuan agar kurikulum SMK selaras dengan kebutuhan industri lokal dan potensi wilayah Sumatra Utara. Dan yang dilakukan Asian Agri telah menjawab itu. “Ke depan saya ingin memastikan lagi bahwa program sekolah khususnya SMK di Sumut harus berfokus pada peningkatan skill (keterampilan) siswa yang berorientasi langsung pada kebutuhan pasar tenaga kerja saat ini,” harap Alex.

Menjadi Oase

Munculnya Sekolah Sawit Lestari ini juga menjadi oase bagi anak-anak pedalaman di Kabupaten Labusel dan beberapa provinsi lainnya di Indonesia. Terutama bagi seorang yatim piatu bernama Rafa Adira Pratama. Siswa SMK Negeri Silangkitang yang berusia 15 tahun tersebut memiliki mimpi besar untuk menjadi petani sawit yang tetap memperhatikan lingkungan sekitar. Ia tak pernah kehilangan semangat belajar meski kedua orangtuanya sudah tidak ada lagi. Dari Sekolah Sawit Lestari, Rafa banyak belajar tentang perkebunan.

“Sekarang hanya tinggal bersama kakek dan nenek di Desa Sialang Pamoran. Masuk ke sini karena sekolahnya bagus. Mudah-mudahan saya bisa mengejar cita-cita saya kalau gak jadi petani sawit saya ingin jadi polisi hutan,” katanya.

Bukan hanya Rafa, harapan yang sama juga disampaikan Novita, siswi kelas XI Agribisnis Tanaman Perkebunan SMK Negeri Silangkitang. Ia rela merantau jauh dari orangtuanya demi mengejar mimpinya bekerja di perkebunan. “Orangtua saya di Rokan Hulu. Saya tinggal sama saudara di sini biar bisa kerja di perkebunan,” ucapnya.

Abang Novita saat ini bekerja di perkebunan dan cukup sukses. “Ingin seperti abang saya keterima di perkebunan. Dan mudah-mudahan bisa punya kebun sawit sendiri,” ucap gadis berhijab tersebut.

Mimpi Rafa dan Novita ini adalah gambaran kecil dari mimpi anak-anak lainnya yang ada di Silangkitang. Mereka beruntung karena berkesempatan belajar dari Program Sekolah Sawit Lestari. Mereka menemukan harapan baru melalui program ini. Bagi mereka, Sekolah Sawit Lestari lebih dari sekadar program CSR. Ia adalah oase dan sumber kehidupan yang mengalirkan manfaat bagi ia, teman-temannya, sekolah, guru dan masyarakat sekitar. Program ini juga menjadi solusi berkelanjutan (sustainability), di mana kebun kelapa sawit yang kerap diidentikkan dengan eksploitasi lingkungan, namun lewat program ini, citra itu diubah. Sekolah Sawit Lestari mengajarkan mereka cara bertani dan mengelola sawit yang baik dan ramah lingkungan kepada siswa. Karena bagi mereka program ini adalah oase dan sumber kehidupan.

Penulis:  Nirwansyah Sukartara
Editor:  Bambang Riyanto

Baca Juga

Rekomendasi