Risna Yanti Merawat Mimpi Lewat Sastra (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Natal - Hamparan pantai yang membentang di pesisir barat Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, tak hanya menyimpan kekayaan alam, tetapi juga melahirkan kisah-kisah tentang ketekunan. Dari Desa Pasar VI, Kecamatan Natal, seorang perempuan membuktikan bahwa mimpi dapat tumbuh dan menjangkau banyak orang melalui sastra.
Lahir di Natal pada 27 Oktober 1990, Risna tumbuh di tengah kehidupan masyarakat pesisir yang sederhana. Debur ombak, suasana kampung, dan dinamika kehidupan sehari-hari menjadi ruang yang memperkaya imajinasinya. Kecintaannya terhadap membaca perlahan berkembang menjadi kegemaran menulis yang mulai ia tekuni secara serius sejak 2017.
Perjalanan pendidikannya dimulai di SD Negeri 148046 Sosial Pasar V Natal, kemudian berlanjut ke SMP Negeri 1 Natal, MAN Natal, hingga menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Graha Nusantara pada 2015. Pada tahun yang sama, ia mulai mengabdikan diri sebagai guru di MAN 2 Mandailing Natal, profesi yang masih dijalaninya hingga kini.
Di sela-sela aktivitas mengajar, Risna terus merawat kecintaannya terhadap sastra. Baginya, menulis bukan sekadar menyusun cerita, tetapi juga cara mengabadikan pengalaman, menyampaikan nilai-nilai kehidupan, sekaligus mengajak orang lain mencintai literasi.
Perjalanan kepenulisannya dimulai lewat novel Rinai Yang Jatuh Perlahan pada 2017. Setahun kemudian ia menerbitkan kumpulan cerpen Ilalang Senja dan Hujan. Semangat berkaryanya terus berlanjut melalui Burung Burung Camar, kumpulan cerpen dan puisi yang terbit pada 2020, disusul Rosa Liris (Analogi Rasa) pada 2021. Pada 2025, ia kembali menghadirkan novel yang berjudul Retak, karya yang menurutnya menjadi proses penulisan paling panjang dibanding buku-buku sebelumnya.
"Menulis buku biasanya memerlukan waktu sekitar tiga hingga enam bulan. Namun khusus novel Retak, saya membutuhkan waktu hampir satu tahun hingga naskah selesai," tuturnya, Minggu (28/6/2026).
Menurut Risna, tantangan terbesar dalam menulis bukanlah merangkai kata, melainkan menjaga agar ide tetap hidup di tengah kesibukan sebagai pendidik.
"Kadang ide benar-benar buntu karena aktivitas mengajar. Tapi kalau inspirasi datang, dalam waktu satu jam saya bisa menyelesaikan satu cerpen," katanya.
Pengalaman itu membuatnya percaya bahwa inspirasi tidak pernah bisa dipaksakan. Ia datang dari peristiwa-peristiwa sederhana, percakapan sehari-hari, maupun pengalaman hidup yang kemudian berkembang menjadi cerita.
Namun perjalanan literasi Risna tidak berhenti pada buku-buku cetak. Ia juga mulai mengikuti perkembangan teknologi dengan memanfaatkan platform digital sebagai ruang baru untuk berkarya sekaligus menjangkau pembaca yang lebih luas.
Sejumlah novelnya kini dapat dinikmati melalui aplikasi Komunitas Bisa Menulis (KBM) dan Good Novel yang tersedia di Play Store. Melalui platform tersebut, karya dipublikasikan secara bertahap dalam bentuk bab demi bab sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan cerita secara berkala.
"Di Good Novel karya yang saya unggah berupa novel yang diterbitkan per bab. Begitu juga di KBM, pembaca bisa mengaksesnya melalui aplikasi setelah mengunduhnya di Play Store," jelas Risna.
Beberapa karya yang telah dipublikasikannya di platform digital antara lain Kabut Rindu Dimata Ibu, Prahara Luka, dan 30 Tahun Cintaku Ayah. Kehadiran platform digital, menurutnya, menjadi peluang baru bagi penulis daerah untuk memperkenalkan karya kepada pembaca yang lebih luas tanpa dibatasi jarak.
Meski memanfaatkan teknologi, Risna tetap meyakini bahwa esensi menulis tidak pernah berubah. Sastra tetap menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, membangun empati, dan menumbuhkan budaya membaca.
Ia berharap karya-karyanya mampu menginspirasi, terutama di kalangan pelajar, agar tidak menjauh dari dunia literasi meski hidup di era serba digital.
"Saya berharap pembaca, terutama anak-anak sekolah, bisa tetap mencintai literasi. Jangan sampai semangat membaca hilang karena sekarang banyak orang yang mulai jarang membaca," ujarnya.
Semangat berkarya itu pun belum berhenti. Risna mengaku tengah menyiapkan novel baru yang mengangkat hubungan emosional antara seorang ayah dan anak perempuan. Baginya, kasih sayang seorang ayah memiliki peran besar dalam membentuk kehidupan seorang anak dan layak diangkat menjadi sebuah cerita.
Saat ini, ia masih menyusun kerangka cerita agar novel tersebut memiliki alur yang kuat sebelum mulai ditulis secara utuh. Proses itu, menurutnya, menjadi bagian penting agar setiap karya tidak hanya selesai, tetapi juga mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.
Dari sebuah desa di pesisir barat Madina, Risna Yanti terus membuktikan bahwa karya sastra tidak mengenal batas geografis. Melalui buku-buku yang telah diterbitkan, platform digital yang dimanfaatkannya, serta karya-karya baru yang sedang dipersiapkan, ia menenun mimpi sekaligus mengajak generasi muda percaya bahwa siapa pun dapat menjadi penulis. Sebab, bagi Risna, setiap cerita yang ditulis adalah langkah kecil untuk menjaga agar budaya literasi tetap hidup di tengah perubahan zaman. (RES)(WITA)











