Oleh: Arifin
Analisadaily.com, Kisaran - Di ruang produksi yang panas dan bising, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) justru sedang sibuk “menulis” sesuatu yang sunyi: jejak hijau untuk bumi. Tema besar industri modern memang sudah bergeser. Angka produksi saja tidak cukup. Kini ada pertanyaan lain: apa yang tersisa untuk anak cucu? Tanpa hutan yang menahan air, tanpa pantai yang dijaga mangrove, rantai produksi itu sendiri bisa runtuh.
Di titik inilah INALUM memilih jalur berbeda. Sebagai perusahaan pengolahan aluminium tanpa aktivitas tambang langsung, mereka tidak menunggu kerusakan terjadi baru diperbaiki. Mereka mencegah. "Konservasi merupakan bagian penting dari komitmen INALUM dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan," kata Benny Wiwoho, Direktur Strategic Support & Human Capital. "Kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang," ujarnya lagi, Kamis (18/6/2026).
Buktinya bisa dilihat di lereng Danau Toba. Sejak 2018, INALUM sudah menanam kembali 2.304 hektare Daerah Tangkapan Air (DTA). Tahun 2025 saja ditargetkan 500 hektare. Di Perumahan Paritohan, berdiri Taman Kehati seluas empat hektare. Di sana tumbuh kemenyan, suren, andaliman, dan puluhan spesies endemik lain. Sejak 2022, sudah 1.455 pohon endemik dibudidayakan di sana.
Jejak itu berlanjut ke pesisir. Di Batu Bara, 15.000 bibit mangrove ditanam pada 2025 lewat program “Pohon Asuh”. Tujuannya bukan hanya hijau, tapi juga menahan abrasi dan menguatkan desa pesisir menghadapi perubahan iklim. Pantai Sejarah dan Pantai Perjuangan pun tak luput.
INALUM memetakan spesies yang terancam punah versi IUCN, lalu melindungi habitatnya. Di langit Batu Bara, burung migran seperti Bangau Bluwok dan Kedidi Besar masih singgah. Data 2024 mencatat 148.978 ekor burung air di sepanjang pantai timur Sumut.
Agar mereka tetap nyaman, INALUM membuat program Bird Watching dan sosialisasi Perdes perlindungan burung. Perubahan juga terjadi di pabrik. Energi dari PLTA kini menopang 95,51 persen proses produksi aluminium INALUM pada 2025, naik dari 94,24 persen setahun sebelumnya. Motoruc diesel diganti listrik, memangkas emisi 4,2 ton CO² setiap tahun. "Upaya ini merupakan wujud tanggung jawab kami untuk menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak bagi bisnis, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan," ucap Daniel Hutahuruk, Ka-Grup Layanan Strategis INALUM.
Dari bibit kemenyan di Paritohan, mangrove di Kuala Sipare, hingga listrik air Danau Toba, INALUM memang sedang menulis. Bukan di atas kertas, tapi di atas tanah, air, dan udara. Sebuah jejak yang diharapkan tidak terhapus waktu. Karena pada akhirnya, keberlanjutan bukan slogan. Ia adalah syarat agar industri, manusia, dan alam bisa hidup bersama lebih lama.











