Waspadai Nyeri Kepala dan Kejang, Bisa Jadi Gejala Tumor Otak

Waspadai Nyeri Kepala dan Kejang, Bisa Jadi Gejala Tumor Otak
Dokter spesialis saraf Columbia Asia Hospital Medan, dr. R.A. Dwi Pujiastuti, M.Ked(Neu), Sp.S(K), saat memberikan penjelasan kepada wartawan dalam kegiatan media gathering yang digelar di Columbia Asia Hospital Medan, Senin (29/6/2026). (Analisdaily/Mulyadi hutahaean)

Analisadaily.com, Medan - Masyarakat Kota Medan khususnya dan Sumatera Utara pada umumnya diimbau untuk tidak menganggap remeh keluhan nyeri kepala yang berkepanjangan maupun kejang. Kedua gejala tersebut dapat menjadi tanda adanya tumor otak sehingga perlu segera diperiksakan ke dokter.

Imbauan itu disampaikan dokter spesialis saraf Columbia Asia Hospital Medan, dr. R.A. Dwi Pujiastuti, M.Ked(Neu), Sp.S(K), dalam kegiatan media gathering yang digelar di Columbia Asia Hospital Medan, Senin (29/6/2026).

"Banyak masyarakat menunda konsultasi karena mengira hanya sakit kepala biasa. Padahal, sakit kepala yang terus-menerus, gangguan penglihatan mendadak, mual, muntah, hingga penurunan keseimbangan dapat menjadi tanda adanya tekanan di dalam otak yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut," ujar dr. Dwi.

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) itu menjelaskan, tumor otak kini tidak lagi identik dengan penyakit pada usia lanjut. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 72,2 persen kasus tumor otak di Indonesia ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 18 hingga 59 tahun.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa gejala yang sering dianggap sepele, seperti sakit kepala berkepanjangan, gangguan penglihatan, maupun gangguan keseimbangan, tidak boleh diabaikan karena dapat menjadi indikasi gangguan serius pada otak.

Data WHO juga menunjukkan kanker otak menyumbang sekitar 1,5 persen dari seluruh kasus kanker di Indonesia. Sementara itu, prevalensi tumor otak diperkirakan mencapai 8–10 kasus per 100.000 penduduk dan terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Sayangnya, banyak pasien baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut akibat terlambat menjalani pemeriksaan.

"Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan tumor otak adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal. Tidak semua sakit kepala merupakan tanda tumor otak. Namun, jika keluhan berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau disertai gangguan neurologis lainnya, sebaiknya segera diperiksakan," katanya.

Ia menambahkan, deteksi dini sangat membantu dokter dalam menegakkan diagnosis secara akurat sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan terapi.

Penanganan tumor otak, lanjutnya, memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai tenaga medis sesuai kondisi pasien. Ketepatan diagnosis menjadi faktor penting dalam menentukan terapi yang tepat sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat.

Dr. Dwi menjelaskan, tumor otak dipengaruhi berbagai faktor, antara lain faktor genetik yang diperparah dengan pola hidup tidak sehat. Karena itu, masyarakat yang memiliki riwayat keluarga dengan tumor otak dianjurkan menerapkan gaya hidup sehat, seperti tidak merokok, menghindari konsumsi minuman beralkohol, serta membatasi makanan yang mengandung bahan pengawet.

"Paparan radikal bebas dan toksin, seperti dari rokok, alkohol, makanan tinggi bahan pengawet, maupun konsumsi ikan asin secara berlebihan, dapat menyebabkan kerusakan sel," jelasnya.

Untuk menentukan penanganan yang tepat, pasien harus menjalani pemeriksaan terlebih dahulu. Pilihan terapi dapat berupa operasi, radioterapi, maupun kemoterapi, tergantung kondisi masing-masing pasien.

"Kasus yang paling sering kami tangani umumnya disertai gangguan kepribadian dan kelumpuhan. Karena itu, jangan pernah menyepelekan sakit kepala, terutama jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan sejak dini akan memberikan peluang pengobatan yang lebih baik. Jangan takut untuk berobat dan berkonsultasi dengan dokter," tegasnya.

Sementara itu, CEO Columbia Asia Hospital Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, mengatakan layanan neurologi yang cepat dan tepat menjadi kebutuhan penting karena banyak penyakit saraf berkembang tanpa gejala yang spesifik pada tahap awal.

"Semakin cepat pasien mendapatkan pemeriksaan dan diagnosis yang tepat, semakin besar peluang memperoleh penanganan yang optimal. Karena itu, edukasi mengenai tanda-tanda awal gangguan saraf menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat," ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan diagnosis sendiri maupun menunda pemeriksaan apabila mengalami gejala neurologis yang menetap atau semakin berat. Konsultasi sejak dini dengan dokter akan membantu mendeteksi gangguan lebih cepat sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih besar, terutama bagi masyarakat usia produktif yang memiliki mobilitas tinggi. (MUL)

Baca Juga

Rekomendasi