Mentan Beri Kuliah Umum di USU, Ajak Mahasiswa Kawal Swasembada Pangan

Mentan Beri Kuliah Umum di USU, Ajak Mahasiswa Kawal Swasembada Pangan
Menteri Pertanian RI, Andi Arman Sulaiman bersama Rektor USU Prof Muryanto Amin dan Wagub Sumut, H Surya. (Analisadaily/Irin)

Analisadaily.com, Medan - Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman mengajak kalangan perguruan tinggi, khususnya mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), untuk mengambil peran aktif dalam memperkuat swasembada pangan nasional melalui inovasi, riset, dan kritik yang konstruktif.

Ajakan tersebut disampaikan Mentan saat memberikan kuliah umum bertajuk Kolaborasi Generasi Muda Menuju Swasembada Pangan di Auditorium USU, Rabu (15/7/2026). Kegiatan itu dihadiri Rektor USU Prof. Muryanto Amin, Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya, jajaran PTPN III, sivitas akademika, serta ratusan mahasiswa.

Dalam paparannya, Mentan menilai mahasiswa USU memiliki karakter kritis sekaligus konstruktif. Menurutnya, sikap tersebut menjadi modal penting bagi generasi muda dalam mengawal pembangunan nasional.

Ia juga mengapresiasi semangat mahasiswa yang tetap produktif di tengah keterbatasan, termasuk mahasiswa yang telah mampu menulis buku maupun berjuang membiayai kuliahnya sendiri tanpa bergantung kepada orang tua. Karakter seperti itu dinilai perlu terus dibina karena mahasiswa merupakan calon pemimpin bangsa di masa mendatang.

Selain memberikan motivasi, Mentan memaparkan sejumlah capaian pemerintah di sektor pertanian. Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan dan bahkan mulai mengekspor beberapa di antaranya.

"Cadangan Beras Pemerintah tekag mencapai 5,22 ton. Dan berdasarkan dari FAO selaku Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Indonesia peringkat 2 di dunia di tahun 2026 ini," ujarnya.

Menurutnya, masih terdapat kesalahpahaman di masyarakat mengenai kondisi ketahanan pangan nasional karena beredarnya berbagai narasi yang tidak didukung data.

Dalam dialog bersama mahasiswa, Mentan menyampaikan berbagai data mengenai kondisi pangan nasional, termasuk produksi beras dan komoditas strategis lainnya. Penjelasan tersebut, menurutnya, membuat mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai perkembangan sektor pertanian.

Ia menegaskan pemerintah membuka ruang seluas-luasnya terhadap kritik yang berbasis data dan bersifat membangun. Masukan dari masyarakat, akademisi, maupun mahasiswa dinilai menjadi bagian penting dalam menyempurnakan kebijakan pemerintah.

"Terkait adanya laporan dugaan penyimpangan yang disampaikan salah seorang mahasiswa,
akan melakukan verifikasi terlebih dahulu. Apabila terbukti terjadi pelanggaran, izin pihak terkait akan dicabut sesuai arahan Presiden bahwa tidak ada toleransi terhadap praktik yang melanggar aturan," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Mentan juga menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah di sektor pertanian, di antaranya penurunan harga pupuk sekitar 20 persen yang disebut sebagai capaian pertama sejak Indonesia merdeka.

Ia menambahkan, di tengah kenaikan harga beras dunia, harga beras di dalam negeri tetap stabil karena produksi nasional mengalami surplus dan stok beras pemerintah dalam kondisi mencukupi.

Pemerintah juga terus membuka peluang ekspor komoditas pertanian seiring adanya permintaan kerja sama dari sejumlah negara. Fokus pemerintah ke depan, menurutnya, adalah meningkatkan produksi, mempertahankan swasembada pangan, serta memperkuat hilirisasi di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan sektor produktif lainnya.

Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Pertanian dan USU untuk memperkuat kerja sama pengembangan komoditas strategis, termasuk gambir dan sejumlah produk pertanian lainnya.

Sementara itu, Rektor USU Prof. Muryanto Amin menekankan pentingnya dialog dalam lingkungan akademik sebagai sarana membangun kesadaran publik yang berlandaskan data dan fakta.

Menurutnya, berbagai informasi mengenai capaian swasembada pangan perlu diuji secara objektif dengan mengacu pada data resmi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kata dia, harus menjadi dasar dalam proses pengambilan kebijakan sehingga setiap klaim dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Rektor menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta menjadi kebutuhan dalam menjawab tantangan ketahanan pangan. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga mampu mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

"Sebagai contoh, riset pengembangan varietas kedelai yang dilakukan peneliti USU telah berlangsung selama tiga tahun dan kini memasuki tahap uji coba di empat lokasi. Penelitian tersebut ditargetkan mampu menghasilkan produktivitas kedelai hingga 2,5–3 ton per hektare pada lahan seluas 500–1.000 hektare," ucapnya.

Menurut Muryanto, kerja sama dengan Kementerian Pertanian nantinya diarahkan pada pemanfaatan hasil riset tersebut secara nyata. Pemerintah direncanakan membeli hasil pengembangan bibit unggul, kemudian melibatkan petani dan mahasiswa dalam proses pembibitan serta penyemaian sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Selanjutnya, hasil panen akan diserap oleh offtaker yang ditunjuk pemerintah, dengan Bulog menjadi salah satu pihak yang diproyeksikan berperan menyerap produksi, setelah seluruh aspek teknis dan hasil penelitian lapangan dinyatakan memenuhi syarat.

(WITA)

Baca Juga

Rekomendasi