Menghubungkan Kembali Jalur Jelajah Orangutan Sumatera di Pakpak Bharat

Menghubungkan Kembali Jalur Jelajah Orangutan Sumatera di Pakpak Bharat
Menghubungkan Kembali Jalur Jelajah Orangutan Sumatera di Pakpak Bharat (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Pakpak Bharat - Desa Perolihen, Kecamatan Sitelu Tali Urang Jahe Kabupaten Pakpak Bharat adalah salah satu desa penghasil durian di Sumatera Utara. Musim panen durian di kabupaten ini diprediksi akan jatuh pada bulan Agustus. Biasanya, warga akan berjaga-jaga di lading untuk menghalau datangnya monyet ekor panjang atau siamang hingga orangutan sumatera (Pongo abelii).

Beberapa waktu lalu, Sekretaris Desa Perolihen, Erwin Berutu, mengatakan orangutan biasanya muncul saat buah durian mulai masak. Satwa tersebut kerap membuat sarang di pohon durian apabila tidak mendapat gangguan dari manusia. Menurutnya hampir tiap pohon durian didatang orangutan.

“Kalau tidak diganggu masyarakat, dia akan membuat sarang di situ. Tapi kalau diusir, dia pindah. Nanti kalau sudah sepi, biasanya datang lagi," kata Erwin.

Menurutnya, keberadaan orangutan berbeda dengan monyet ekor panjang (bodat) maupun siamang. Orangutan hanya datang pada musim buah, sedangkan monyet hampir setiap hari memasuki kebun warga dan merusak tanaman.

“Durian yang belum masak dijatuhkan, tanaman masyarakat juga diganggu. Kalau siamang juga kadang mengganggu, tapi tidak separah monyet," ujarnya.

Erwin Berutu
Erwin mencontohkan, pada musim durian setahun lalu, masyarakat sempat melihat tiga individu orangutan yang terdiri atas satu induk dan dua anaknya. Saat itu petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) juga datang ke lokasi untuk melakukan pemantauan.

"Yang terlihat waktu itu ada tiga. Kata petugas, kemungkinan induk dengan dua anak. Sekarang menjelang musim buah sudah ada yang terlihat lagi, tetapi baru satu individu," katanya.

Selain memanfaatkan pohon durian, warga juga kerap menemukan orangutan di pohon ara yang sedang berbuah. Kehadiran burung rangkong menjadi penanda alami bahwa pohon tersebut sedang menghasilkan buah yang juga menjadi sumber pakan orangutan.

"Kalau ada suara rangkong di pohon ara, biasanya pohon itu sedang berbuah," kata Erwin.

Ia menyebut keberadaan orangutan diketahui berada di beberapa lokasi, di antaranya kawasan Siranggas dan Batu Ardan. Namun, sejauh ini warga belum pernah mengetahui adanya pergerakan individu yang sama di kedua lokasi tersebut karena dipisahkan sungai dan jarak yang cukup jauh.

Masyarakat kini lebih memahami cara menangani kemunculan orangutan setelah mendapat sosialisasi dari BBKSDA Sumut dan sejumlah organisasi konservasi. Jika orangutan bersarang di pohon durian, warga hanya mengusirnya menggunakan asap dari api kecil atau suara bising. Cara itu dinilai lebih aman dibanding tindakan yang dapat melukai satwa.

Erwin mengakui masih ada sebagian kecil masyarakat yang belum memahami pentingnya perlindungan orangutan. Namun, menurut dia, sosialisasi mengenai status perlindungan satwa beserta ancaman sanksi hukum membuat kesadaran warga semakin meningkat.

Menghubungkan Kembali Jalur Jelajah Orangutan Sumatera di Pakpak Bharat
"Saya pernah menjadi kader di beberapa NGO dan ikut menyampaikan kepada masyarakat bahwa orangutan itu satwa yang dilindungi. Jadi kalau melihat orangutan, masyarakat sekarang lebih memilih melapor daripada mengganggunya," katanya.

Selain berbagi ruang dengan satwa liar, masyarakat juga mengaku semakin memahami batas kawasan hutan di sekitar desa. Pembukaan lahan baru, lanjutnya, di kawasan berhutan kini jauh berkurang setelah adanya sosialisasi pemerintah.

"Kalau sekarang sudah tidak ada lagi pembukaan lahan. Masyarakat sudah tahu kawasan hutan. Apalagi daerah yang di dalam medannya curam dan hutannya masih lebat, sudah tidak diganggu lagi," ujarnya.

Meski demikian, Erwin berharap pemerintah memberikan kejelasan mengenai lokasi program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) yang pernah disampaikan kepada masyarakat. Ia mengaku belum mengetahui secara pasti letak areal yang disebut akan dialokasikan melalui program tersebut.

"Kami hanya mendengar ada sekitar 82 hektare, bahkan ada informasi 116 hektare. Tetapi sampai sekarang masyarakat belum tahu persis batas dan lokasinya," katanya.

Koordinator Riset Yayasan Orangutan Sumatera Lestari/Orangutan Information Centre (YOSL/OIC), Susandro Frima Sitorus, salah satu meta populasi orangutan sumatera berada di sini, di SM Siranggas dan Hutan Lindung Batu Ardan.

Kedua kawasan hutan itu terpisah oleh pembangunan jalan lintas dan pemukiman. Namun, berdasarkan ground check yang dilakukan di Desa Perolihen menemukan bahwa masih ada kemungkinan membangun koridor yang dapat menghubungkan dua bentang habitat orangutan itu.

"Kami melakukan ground check untuk melihat apakah masih ada pohon-pohon dengan kanopi yang saling terhubung antara lanskap SM Siranggas dan Hutan Lindung Batu Ardan. Dari hasil asesmen hari ini, kami tidak menemukan adanya kanopi yang terhubung," katanya.

Dijelaskannya, mengingat orangutan adalah satwa arboreal yang hampir seluruh aktivitas hariannya dilakukan di atas pohon. Karena itu, keberadaan tajuk pohon yang saling menyambung menjadi syarat penting agar satwa dapat berpindah dari satu kawasan hutan ke kawasan lainnya tanpa harus turun ke tanah.

"Ketika lanskap sudah terfragmentasi, orangutan membutuhkan kanopi yang saling terhubung agar tetap bisa bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya," ujarnya.

Susandro Frima Sitorus
Selain orangutan, masyarakat sekitar juga masih melaporkan keberadaan satwa lain seperti siamang dan owa yang kerap terlihat, terutama ketika musim durian. Sandro menjelaskan, terputusnya konektivitas habitat terutama dipicu oleh pembangunan jalan lintas yang membelah kawasan hutan serta keberadaan permukiman.

Akibatnya, populasi orangutan di SM Siranggas dan Hutan Lindung Batu Ardan berpotensi terisolasi satu sama lain.

"Jika kondisi ini terus berlangsung, populasi di kedua lanskap akan terpisah. Dalam jangka panjang dapat terjadi perkawinan antarkerabat (inbreeding) yang menurunkan keragaman genetik dan meningkatkan risiko kepunahan populasi," katanya.

Berdasarkan hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun 2016, diperkirakan terdapat sekitar 90 individu orangutan di bentang habitat SM Siranggas dan Hutan Lindung Batu Ardan. Saat itu kedua kawasan masih dipandang sebagai satu metapopulasi yang saling terhubung.

Untuk memulihkan konektivitas tersebut, OIC mengusulkan pembangunan koridor ekologis melalui penanaman pohon yang mampu membentuk kembali sambungan kanopi antarfragmen hutan.

Setelah vegetasi tumbuh dan tajuk pohon mulai menyatu, langkah berikutnya dapat dilengkapi dengan pembangunan koridor artifisial berupa jembatan tali yang membantu satwa arboreal menyeberangi area terbuka.

"Kita membutuhkan perencanaan pembangunan koridor ekologis melalui penanaman pohon. Setelah kanopi mulai terhubung, baru dapat didukung dengan koridor artifisial berupa jembatan tali," ujarnya.

Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya penting untuk menghubungkan SM Siranggas dengan Hutan Lindung Batu Ardan, tetapi juga menjaga konektivitas habitat orangutan menuju bentang Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

"Konektivitas kedua kawasan ini menjadi penting karena merupakan bagian dari habitat orangutan Sumatra yang terhubung dengan bentang Kawasan Ekosistem Leuser," katanya.

Susandro menegaskan, menjaga hubungan antarfragmen hutan menjadi salah satu langkah penting dalam mempertahankan populasi orangutan sumatra di luar kawasan inti Leuser. Tanpa konektivitas habitat, populasi satwa liar berisiko semakin terisolasi dan kehilangan kemampuan mempertahankan keragaman genetik dalam jangka panjang.

Hal senada diungkapkan Manajer Program Green Justice Indonesia, Sofian Adli. Pria yang akrab dipanggil Ali ini mengatakan kawasan Hutan Lindung Batu Ardan dan Suaka Margasatwa Siranggas merupakan dua blok habitat orangutan yang saat ini terpisah akibat fragmentasi lanskap.

"Yang sedang kami dorong adalah terjadinya konektivitas satwa, khususnya orangutan, antara blok Batu Ardan dan Siranggas," katanya.

Menurutnya, GJI bersama sejumlah organisasi mitra, termasuk YOSL/OIC, telah mengidentifikasi jalur pergerakan orangutan di sekitar kedua kawasan tersebut. Hasil identifikasi itu menjadi dasar penyusunan rencana pembangunan koridor satwa.

Ali menjelaskan, konektivitas tersebut penting agar populasi orangutan di kedua kawasan tidak terus terisolasi. Dengan adanya jalur penghubung, individu dari masing-masing populasi memiliki peluang untuk berpindah dan berkembang biak sehingga keragaman genetik tetap terjaga.

Selain pemulihan habitat, GJI juga menilai peningkatan pemahaman masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya konservasi. Pihaknya berencana memperkuat peran masyarakat melalui program penyadartahuan konservasi sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih ramah satwa liar.

Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah mengembangkan sistem agroforestri yang menghasilkan buah-buahan sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menyediakan sumber pakan alami bagi satwa.

"Harapannya masyarakat tidak lagi bergantung pada pembukaan lahan atau ekspansi perkebunan sawit. Agroforestri bisa menjadi pilihan yang menguntungkan masyarakat sekaligus mendukung konservasi," ujarnya.

Sofian Adli
Menurutnya, keberhasilan menjaga populasi orangutan di bentang lokasi ini tidak hanya bergantung pada pemulihan koridor habitat, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan.

“Dengan kombinasi restorasi lanskap dan penguatan kapasitas masyarakat, konektivitas habitat orangutan di wilayah tersebut diharapkan dapat kembali pulih,” katanya.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi