Akibat Keracunan MBG, SPPG Polres Asahan Ditutup Sementara

Akibat Keracunan MBG, SPPG Polres Asahan Ditutup Sementara
Wabup Asahan yang juga Satgas MBG Rianto didampingi Kordinator Wilayah (Korwil) BGN Asahan Adiadma Arif Harahap dan Plt Direktur RSUD HAMS Eka Wilda Sari menjenguk siswa MTsN 2 Kisaran yang keracunan MBG dari SPPG Polres Asahan, Selasa (15/9/2026). (Analisadaily/istimewa )

Analisadaily.com, Kisaran - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bekerja sama dengan yayasan Kemala Bayangkari milik Polri dalam hal ini Polres Asahan ditutup sementara usai dugaan kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di MTsN 2 Kisaran. Penutupan dilakukan sambil menunggu hasil uji laboratorium makanan dari Dinas Kesehatan dan BPOM.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Bupati Asahan yang juga Ketua Satgas MBG, Rianto didampingi Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Asahan, Adiadma Arif Harahap dan Plt Direktur RSUD HAMS Eka Wilda Sari saat mengecek kondisi korban di RSUD H. Abdul Manan Simatupang (HAMS) Kisaran, Selasa (15/9/2026).

Rianto mengatakan dugaan sementara makanan yang disantap siswa kurang steril sehingga memicu keluhan pusing dan sakit perut. "Diduga makanan yang disantap anak-anak kurang steril, sehingga mengakibatkan pusing kepala dan sakit perut," ujar Rianto.

Dia juga menjelaskan total siswa yang terdampak sebanyak 22 orang. Sebanyak 19 orang dirawat di RSUD HAMS Kisaran dan tiga orang di RS Wira Husada. Kondisinya dilaporkan sudah membaik. "Alhamdulillah keadaannya sudah semakin membaik. Beberapa orang bahkan infusnya sudah dicabut dan sudah bisa bermain mengunjungi temannya," katanya.

Pemerintah Kabupaten Asahan, lanjut Rianto menerbangkan, akan menanggung seluruh biaya pengobatan siswa. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait kejadian ini. Menurutnya, saat ini di Kabupaten Asahan terdapat sekitar 81 dapur MBG yang aktif. Pola pengelolaannya, dapur dibangun oleh investor kemudian diserahkan sepenuhnya ke SPPG.

"Dapur secara pengelolaan sudah tidak ada kaitan dengan pemilik. SPPG dipimpin kepala SPPG, di dalamnya ada ahli gizi, ahli akuntansi, dan 47 relawan. Mereka yang melaksanakan kegiatan kerja sama dengan mitra untuk pengadaan barang dan pengelolaan," jelas Rianto.

Ia menambahkan kejadian ini diduga karena kesalahan pengelolaan. Namun penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan. Dugaan awal, daya tahan tubuh siswa yang berbeda-beda menjadi salah satu faktor mengapa tidak semua siswa dalam satu kelas terdampak. "Apapun ceritanya, ini harus dievaluasi agar makanan tetap sehat, layak dan higienis untuk dikonsumsi," tegasnya.

Sementara itu, Korwil BGN Asahan, Adiadma Arif Harahap, menyatakan pihaknya telah melakukan investigasi terhadap dapur yang menyuplai MBG tersebut. Sampel makanan sudah diambil oleh Dinas Kesehatan Asahan. "Saat ini dalam kondisi investigasi, dapur kami nyatakan disuspensi atau ditutup sementara. Diberhentikan dan tidak boleh beroperasi sementara," ujar Adiadma.

Penutupan berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan, hingga hasil lab keluar dan seluruh poin perbaikan dipenuhi oleh pihak dapur.

(ARI/DEL)

Baca Juga

Rekomendasi