Menjaga Hutan Adat Mandiri, MHA Tapanuli Utara Dibekali Pelatihan Teknologi SMART Patrol

Menjaga Hutan Adat Mandiri, MHA Tapanuli Utara Dibekali Pelatihan Teknologi SMART Patrol
Menjaga Hutan Adat Mandiri, MHA Tapanuli Utara Dibekali Pelatihan Teknologi SMART Patrol (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Tapanuli Utara — Upaya pelestarian hutan dan perlindungan wilayah adat di Kabupaten Tapanuli Utara kini memasuki babak baru yang lebih modern.

Sebanyak kurang lebih 50 peserta yang tergabung dalam kelompok penjaga hutan atau Pargomgom Forest dari empat Masyarakat Hukum Adat (MHA), yakni MHA Simardangiang, MHA Aek Tandiang, MHA Sitolu Ompu, dan MHA Hopong, mengikuti kegiatan Pelatihan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) Patrol.

Kegiatan yang diselenggarakan pada 28 hingga 30 September 2026 di Desa Simardangiang, Kecamatan Pahae Julu ini diinisiasi oleh Green Justice Indonesia (GJI) bekerja sama dengan Orangutan Information Centre (OIC).

Pelatihan ini dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan wilayah adat secara terstruktur, di mana masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan ingatan atau catatan tradisional, melainkan memanfaatkan teknologi digital.

Selama tiga hari, para peserta mendapatkan kombinasi materi kelas, diskusi kelompok, simulasi navigasi darat menggunakan GPS dan aplikasi SMART Mobile, pengenalan tanda satwa, pemasangan camera trap, hingga protokol Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta pertolongan pertama di lapangan.

Dalam pemaparannya pada hari pertama, Alpin dari OIC menjelaskan bahwa pendekatan Smart Patrol sangat krusial untuk menghasilkan data lapangan yang konsisten, mulai dari rekaman jalur perjalanan, temuan jejak dan sarang satwa, hingga bukti aktivitas ilegal seperti pembalakan liar.

"Smart Patrol merupakan metode pengamanan hutan modern yang mengintegrasikan observasi lapangan dengan teknologi pencatatan berbasis data digital. Berbeda dengan patroli tradisional yang hanya mengandalkan ingatan atau catatan sederhana, Smart Patrol menuntut adanya prinsip efektivitas, efisiensi, serta pengumpulan data yang terstruktur dan konsisten," ujar Alpin.

Ia juga menegaskan bahwa keselamatan tim di lapangan senantiasa menjadi hal yang utama dalam setiap perancangan kegiatan patroli.

"Keselamatan tim adalah prioritas utama. Pentingnya perencanaan jalur patroli, kelengkapan alat pelindung diri, serta koordinasi yang solid antara ketua tim, anggota, and pemangku kawasan," tambahnya.

Sementara itu, pada sesi teknis navigasi darat, Abdul atau yang akrab disapa Bedul menjelaskan pentingnya penguasaan alat seperti GPS genggam dan ponsel pintar bagi warga lokal agar tidak tersesat sekaligus mampu merekam titik koordinat temuan secara akurat.

"Pemahaman navigasi darat sangat vital dalam patroli hutan guna mencegah tim tersesat, menemukan kembali lokasi temuan penting, serta melaporkan data koordinat secara akurat," ungkap Bang Bedul.

Selain penguasaan teknologi pemetaan dan pengenalan keanekaragaman hayati, termasuk perlindungan Orangutan Sumatra dan Tapanuli, pelatihan di hari ketiga turut membekali peserta dengan keterampilan darurat medis non-invasif lapangan melalui materi K3 dan Ranger Life Saver (RLS) yang dipandu oleh Joko.

Peserta dilatih langsung cara menangani pendarahan hebat menggunakan teknik tourniquet darurat, membuat tandu evakuasi dari pakaian, hingga mencegah hipotermia di tengah hutan.

Melalui kegiatan ini, seluruh komunitas MHA sepakat untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan wilayah adat mereka dengan memegang teguh slogan kelompok, yaitu "Kenali, Miliki, Lindungi".

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi