Sariati saat mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di SLB Pembina Aceh Tamiang. Sarana dan prasarana kelas masih utuh sebelum bencana banjir bandang di Aceh Tamiang pada 27 November 2025. (Analisadaily/Istimewa)
Oleh : Irin Juwita
“Sebelum mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah, ia lebih dulu mengenal dunia mereka dari rumah,”.
Adalah Sariati, 48 tahun, guru di sekolah luar biasa (SLB) yang ada di Aceh Tamiang. Hari itu, Rabu, 12 Agustus 2026, cuaca di Aceh Tamiang sedikit gerimis. Lumpur sisa pascabencana banjir mulai menghilang. Di Rumah Kreatif Tamiang binaan Pertamina EP Rantau Field, di Jalan Ir. Juanda, Aceh Tamiang, cerita tentang Sariati pun dimulai.
Senyum Sariati tergambar ketika berbicara tentang keputusannya untuk mengajar di SLB pada 2013. Bermula dari mengikuti aturan sebagai guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang harus memenuhi 24 jam mengajar per minggu di 2012.
Ketika itu, Sariati mengajar bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Aceh Tamiang. Ia kesulitan memenuhi jam mengajar karena jumlah guru IPS di sekolah tersebut cukup banyak.
Saat itu, ada tujuh guru. Sariati pun mencari cara agar jam mengajarnya terpenuhi. Ia mencari sekolah lain. Pilihan itu akhirnya membawanya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina Aceh Tamiang, di Desa Landuh, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Di sekolah itu tidak ada guru IPS di tingkat SMP Luar Biasa tersebut. Ia pun memilih pindah. Mulai dari situ, per 2013 Sariati menjadi pendidik untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Tekadnya untuk mengajar di lingkungan dengan anak berkebutuhan khusus, semakin tertarik saat itu. Sebelum mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di ruang kelas, ia lebih dulu belajar memahami dunia itu dari rumah.
Sebagai ibu dari anak berkebutuhan khusus, membuatnya ingin belajar memahami lebih jauh dunia yang selama ini ia hadapi di rumah. “Saya ingin belajar hingga saat ini bagaimana cara menangani anak yang berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Di SLB Pembina Aceh Tamiang, ia bukan hanya belajar menjadi guru. Tetapi juga belajar memahami anak-anak dengan kebutuhan khusus. Pengalaman itu, perlahan memberinya pengetahuan yang kemudian bisa ia terapkan dalam mendampingi anaknya sendiri.
Sebaliknya, sebagai seorang ibu dengan anak berkebutuhan khsusus ia memiliki cara pandang berbeda ketika berhadapan dengan siswa di sekolah.
“Jadi selama lebih 10 tahun saya mengajar di SLB, banyak pengalaman yang dilewati dan berbagai cerita bersama anak-anak didik,” ungkapnya.
Sariati melihat sebagian dari anak anak didiknya yang dahulu membutuhkan banyak pendampingan kini mulai mampu berdikari. Baginya, sebagai seorang guru perkembangan itu sangat berarti.
Sariati saat mengajar dengan duduk di lantai bersama siswanya. Sarana dan prasarana belum lengkap pascabanjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025 lalu.
Banjir Bandang
Peristiwa Banjir Bandang yang melanda Aceh Tamiang pada 27 November 2025 lalu menjadi memori yang tidak pernah dia lupakan. Ada kesedihan terdengar dari suaranya ketika mengingat bencana yang meluluhlantakkan Aceh Tamiang.
Di malam itu, debit air terus meningkat setelah lima hari berturut-turut hujan melanda Aceh Tamiang tanpa henti. Sariati dan keluarganya semula mengira air tidak akan sampai ke rumah akhirnya harus keluar pada sekitar pukul 01.00 WIB.
Air sudah setinggi pinggang ketika mereka berusaha menuju tempat yang lebih tinggi. Bersama anak-anak, Sariati kemudian mengungsi ke lantai dua masjid yang berjarak kurang dari 100 meter dari rumahnya.
Sementara, sekolah tempatnya mengajar juga tidak luput dari banjir. Bahkan, menurut Sariati, lebih dari 90 persen kawasan sekolah terdampak paling parah.
Setelah air surut, persoalan belum selesai. Lumpur masih memenuhi lingkungan sekolah. Ruang-ruang harus dibersihkan dan sebagian fasilitas belum bisa digunakan. Kegiatan belajar akhirnya dilakukan seadanya.
Sebagian siswa yang kondisinya memungkinkan diarahkan kembali belajar di tempat yang lebih tinggi, termasuk di masjid yang telah dibersihkan. Di sekolah itu ada berbagai anak dengan berkebutuhan khusus, ada yang Tuna Rungu, Tuna Daksa, Tuna Grahita, Tuna Netra, Autis dan lainnya. Bagi siswa tunanetra, kondisi jalan yang masih berlumpur menjadi kendala tersendiri.
Lebih dari sebulan mereka harus beradaptasi dengan keadaan tersebut. Ketika sekolah mulai kembali digunakan, aktivitas belajar pun belum sepenuhnya normal.
Lewat foto-foto yang ditunjukkanya, Sariati mengajar anak-anak dengan seadaanya. Papan tulis kecil terletak di lantai. Ia bersama dengan anak-anak duduk melingkar di menghadap papan tulis.
Di tengah kondisi tersebut, Sariati tetap menjalankan perannya sebagai guru, mengajar anak-anak dengan fasilitas yang seadanya. Dulu bangunan sekolah kokoh dengan sarana dan prasarana yang lengkap kini hilang karena bencana alam yang terjadi.
“Kalau saat ini masih ada beberapa ruangan masih dalam proses perbaikan. Peralatan untuk kegiatan keterampilan seperti Tata Boga dan Tata Busana belum tersedia. Laboratorium komputer juga belum dapat digunakan,” ungkapnya.
Diakui Sariati, ia tidak hanya menghadapi keterbatasan fasilitas, tetapi juga mendampingi anak-anak yang masih menyimpan ketakutan setelah mengalami banjir. Setiap kali hujan turun, sebagian anak kembali teringat pada pengalaman sebelumnya.
Bagi Sariati, kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa dampak bencana tidak berhenti ketika air sudah surut. Anak-anak masih membutuhkan rasa aman untuk kembali belajar seperti sebelumnya.
Program TJSL "Kelas Berdaya" yang dilaksanakan Pertamina EP Rantau Field.
Program TJSL “Kelas Berdaya”
Karena itu, kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung menjadi penting. Salah satunya melalui “Kelas Berdaya” yang didukung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari Pertamina EP Rantau Field. Anak-anak diajak belajar mengenai lingkungan, kemudian mempraktikkannya dengan menanam pohon di lingkungan sekolah.
Mereka tidak hanya diberi penjelasan tentang manfaat pohon. Anak-anak juga belajar jenis pohon yang ditanam, cara menanam dan cara merawatnya. Setelah mendapatkan materi di dalam kelas, mereka diajak langsung ke lapangan.
Pelatihan dari Pertamina EP Rantau Field ini merupakan ilmu dasar yang harus dipahami seluruh lapisan masyarakat termasuk masyarakat berkebutuhan khusus. Kelas Berdaya ini diikuti siswa SLBN setingkat SD, SMP dan SMA dengan berbagai latar belakang kebutuhan khusus.
Pertamina menggandeng kelompok binaan Satgas Digdaya dan Program Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP).
Sariati yang mendampingi melihat antusias dari anak-anak. Menurutnya, pembelajaran semacam itu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar menerima teori di dalam kelas. "Kalau langsung praktik itu kan anak-anak lebih memahami apa yang mereka pelajari," ujarnya.
Hal yang sama sebelumnya disampaikan Wakil Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, Budi Gunawan. Baginya, pendidikan kebencanaan serta kepedulian lingkungan sangat penting bagi siswa dan siswi yang memerlukan pendekatan khusus.
Karena itu, kegiatan Kelas Berdaya memberikan pengetahuan baru tentang cara pengurangan resiko bencana dan kelestarian lingkungan.
“Program ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka, diajarkan terlibat dalam aksi penghijauan dan belajar mitigasi bencana. Kelas Berdaya sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri, kepedulian sosial dan karakter peduli terhadap lingkungan," ujarnya.
Budi juga mengatakan Pertamian EP Rantau Field juga memberikan bantuan puluhan jenis alat kebersihan. Seperti sapu, serokan, kain pel dan ember. Dukungan Pertamina sebelumnya juga hadir melalui sejumlah program lain, di antaranya panel surya, kolam dan bibit untuk budidaya ikan, serta sayuran dengan sistem aquaponik.
Field Manager (FM) Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah menyampaikan wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang berkelanjutan. Program Kelas Berdaya diharapkan memberikan dampak positif dalam meningkatkan kapasitas para siswa dan siswi berkebutuhan khusus.
"Kami percaya bahwa perubahan selalu diawali dengan langkah-langkah sederhana. Seperti menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan dan membangun kepedulian sejak dini," ungkap Mulki.
Program Kelas Berdaya dirancang secara khusus dengan materi pelatihan yang mudah dipahami melalui metode visual dan praktik langsung. Siswa diperkenalkan langkah-langkah pencegahan dan evakuasi yang harus diambil dalam situasi darurat dan kepedulian untuk selalu menjaga lingkungan sekitar.
Tomi menambahkan program PPM Pertamina EP Rantau Field di SLBN Pembina Aceh Tamiang merupakan program bidang sosial salah satunya pengembangan pendidikan inklusif Aceh Tamiang sejak 2024 hingga saat ini.
Sektor pendidikan dipilih karena pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Melalui program ini, PT Pertamina EP Rantau Field berupaya mendukung peningkatan akses dan kualitas pendidikan, pengembangan kapasitas peserta didik, serta terciptanya kesempatan belajar yang lebih baik bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Sariati ingin anak-anak didiknya diberi kesempatan untuk berdaya.
“Pertamina EP Rantau Field ingin menjalan program tepat sasaran dan memberikan manfaat berkelanjutan. Berdasarkan hasil Assessment SLBN Pembina Aceh Tamiang terpilih sebagai salah satu integrasi fokus kami dalam lingkup pendidikan dan inklusif mengingat latar belakang Aceh Tamiang memiliki tingkat difabel yang tinggi,” ungkapnya.
Kolaborasi yang dilakukan dengan SLBN Pembina Aceh Tamiang dilakukan sejak tahun 2024. Program Pendidikan Inklusif memiliki kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity Building) untuk siswa-siswi SLBN Pembina Aceh Tamiang dan guru.
Beberapa kegiatan peningkatan kapasitas dilakukan dalam agenda Kelas Berdaya, Pertamina Mengajar, pendidikan kebencanaan inklusif, hingga inisiasi Sekolah Energi Berdikari di 2025.
Tidak hanya itu, Program Pendidikan Inklusif juga memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana baik dalam hal akademik maupun non akademik. “Seperti penyediaan peralatan penunjang vokasi seperti peralatan bengkel, peralatan baking, Aquaponik (edukasi lingkungan) dan juga peralatan penunjang pengolahan sampah organik dan anorganik,” sebutnya.
Pada saat bencana di akhir 2025, Pertamina EP Rantau Field turut memberikan bantuan seperti, bantuan sembako saat tanggap darurat bencana. Kemudian dilanjutkan saat pemulihan bencana, turut dilakukan pula Kelas Berdaya berbasis Trauma Healing, pengadaan media belajar, pengadaan peralatan kebersihan, penanaman pohon di area sekolah, dan Kelas Berdaya Budaya serta Lingkungan.
Bagi Pertamina, perusahaan memastikan sarana dan fasilitas yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Tim CID PT Pertamina EP Rantau Field melaksanakan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan Program Pendidikan Inklusif, termasuk memastikan sarana dan prasarana yang diberikan dapat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik oleh pihak sekolah.
“Perusahaan juga melibatkan Tim Green Warrior sebagai kelompok yang turut berperan dalam menjaga, merawat, dan mendukung keberlanjutan pemanfaatan sarana dan prasarana di lingkungan sekolah. Melalui keterlibatan tim ini, diharapkan tumbuh rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga fasilitas agar tetap berfungsi dan memberikan manfaat jangka Panjang,” ungkapnya.
Kesempatan Berdikari
Bagi Sariati, berbagai dukungan yang diberikan Pertamina menjadi berarti ketika benar-benar dapat digunakan untuk membantu proses belajar dan melatih kemandirian anak-anak. Ia juga berharap perhatian terhadap anak-anak SLB tidak berhenti ketika mereka menyelesaikan pendidikan.
Sariati melihat adanya Inklusi Coffee dan Bengkel Berdaya di Rumah Kreatif Aceh Tamiang binaan Pertamina EP Rantau Field, sebagai salah satu ruang yang dapat membuka kesempatan bagi lulusan SLB untuk tidak hanya berada di rumah, tetapi juga memiliki kesempatan bekerja dan mengembangkan kemampuan.
Di kelas, Sariati mungkin terlihat seperti guru yang sedang mengajarkan pelajaran kepada murid-muridnya. Namun, perjalanan hingga ia berdiri di sana sebenarnya bermula dari rumahnya sendiri.
Dari seorang ibu yang ingin memahami cara mendampingi anaknya, ia kemudian menemukan jalan menjadi guru bagi banyak anak berkebutuhan khusus. Pengalaman itu pula yang membuat Sariati tidak sekadar melihat anak-anak SLB dari sisi keterbatasan mereka.
Ia melihat kemampuan yang bisa tumbuh ketika mereka diberi kesempatan. Dan setiap kali seorang anak mulai mampu melakukan sesuatu sendiri, bagi Sariati, di situlah salah satu alasan mengapa ia memilih bertahan di dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus.
(WITA)