Pojok Pers Oleh : War Djamil

Berita Tanpa Kritik

Berita Tanpa Kritik
Berita Tanpa Kritik (Analisadaily/istimewa)

INI sebuah pilihan. Ini sikap atau kebijakan manajemen media. Ya, hasil diskusi tiga komponen. Pemilik, penerbit dan pengelola (= redaksi), memilih hanya menyiarkan informasi atau berita yang bagus saja, tanpa kritik.

Kondisi media yang “megap-megap”, menjadi alasan utama. Tujuannya agar pihak-pihak yaitu instansi, perusahaan swasta dan lembaga serta organisasi, memilih media tersebut sebagai wadah publikasi.
Titik berat pemberitaan yakni hanya memberitakan hasil-hasil positif atau capaian dari instansi/perusahaan swasta/lembaga. Jika ada prestasi, itu yang dibesar-besarkan.
Contoh lain. Sumbangan sosial kepada masyarakat. Tak luput batuan bagi warga terdampak akibat musibah/bencana alam. Juga diutamakan realisasi dari program tanggungjawab sosial perusahaan bagi masyarakat sekitarnya, yang populer dengan singkatan CSR _(corporate social responsibility)_ .
Berhasilkah kebijakan itu ? Sejumlah media menyatakan berhasil dengan peringkat lumayan. Artinya, media tersebut mendapat beberapa iklan, diundang meliput serta dikirimi _press-release_ dengan tarif tertentu, namun tidak mengikuti tarif iklan (di bawah tarif iklan).
Hal khusus, jika meliput aktivitas perusahaan atau instansi. Liputan akan menjadi laporan lapangan untuk satu halaman koran. Atau, tayangan berulang dengan topik agak berbeda untuk media siber _(online media)_ .
Inti aktivitas peliputan semacam itu yakni adanya penerimaan ke kas perusahaan, guna biaya operasional media. Jika koran, tertutup biaya cetak serta gaji wartawan/karyawan yang jumlah personil memang “dipangkas” sehingga tinggal sedikit saja.
Bagi media siber. Sama. Untuk biaya operasional dan sewa gedung plus gaji tiga sampai lima wartawan (redaksi).
Mengapa media memilih sikap sedemikian, bisa bertahan ? Ternyata, sebagian instansi/perusahaan swasta/lembaga, lebih memilih publikasi berita positif yang sekaligus menjadi laporan ke pihak atasan. Arti lain, akan mendapat penilaian positif dari atasan. Ini perlu, agar tak bergeser. Mendapat pujian dari atasan. Ini penting agar tidak terkena mutasi.
Bagi perusahaan swasta ? Tentu citra sangat penting. Agar nama baik perusahaan tetap terjaga. Kemitraan dengan berbagai pihak, khususnya untuk kerjasama bisnis, akan berlanjut.
Sisi lain. Produk yang dipasarkan, agar tetap menjadi pilihan konsumen. Begitu ada publikasi jelek yang disorot media, mereka pihak perusahaan sangat gusar, karena pemasaran akan terganggu.
Lalu. Sebuah pertanyaan : Tepatkah media tanpa kritik ? Di mana fungsi kontrol sosial media yang menjadi salah satu kekuatan pers di dunia ?
Ini kontradiksi. Jika ada empat fungsi pers yaitu sebagai media informasi, media edukasi, media hiburan serta fungsi pengawasan (= kontrol sosial). Di sini, media tersebut meninggalkan satu fungsi.
Ini tak lazim dalam jurnalisme. Tetapi, dalam era ini. Di mana media dalam kondisi “di ujung tanduk”, pilihan itu dilakukan dengan sangat terpaksa, demi kesinambungan hidup media. Itu fakta. Apa boleh buat.
Meski kritik tajam akan muncul, pihak-pihak dengan pilihan itu tidak bergeming. Mengapa ? Karena tiada pilihan lain. Trik-trik … entah berapa sudah dicoba, namun gagal.
Ini fenomena dalam jurnalisme yang patut ditelaah. Apakah sikap ini akan sama, dengan sikap tatkala semua pihak, menerima nasib koran yang “mati” satu persatu di mancanegara ?
Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa

Baca Juga

Jurnalisme “Akan Mati” ? Tidak !
26 Okt 2026 10:16 WIB

Jurnalisme “Akan Mati” ? Tidak !

Klarifikasi & Verifikasi
19 Okt 2026 12:07 WIB

Klarifikasi & Verifikasi

Trump Larang 3 Media
12 Okt 2026 13:00 WIB

Trump Larang 3 Media

Suntikan Dana ?
09 Okt 2026 17:56 WIB

Suntikan Dana ?

Dedikasi & Risiko
28 Sep 2026 15:02 WIB

Dedikasi & Risiko

Media Watch
21 Sep 2026 13:51 WIB

Media Watch

Medsos Fitnah ? Tidak Semua !
14 Sep 2026 13:58 WIB

Medsos Fitnah ? Tidak Semua !

Mana Diklat Pers ?
07 Sep 2026 21:06 WIB

Mana Diklat Pers ?

Rekomendasi