Pojok Pers Oleh : War Djamil

Jurnalisme “Akan Mati” ? Tidak !

Jurnalisme “Akan Mati” ? Tidak !
Jurnalisme “Akan Mati” ? Tidak ! (Analisadaily/istimewa)

MAKIN di ujung tahun. Makin di nanti jawaban atas nasib media massa di dunia. Mengapa ? Bagai penantian. Tak cuma berbulan-bulan. Tetapi bertahun-tahun. Media di mancanegara bagai tiada henti. Mencari trik, supaya ketemu solusi. Dengan harapan, media tidak mati. Hasilnya apa ?

Kematian media datang juga. Tak terelakkan. Berbagai lembaga pers dunia mencatat. Ribuan koran, yang sempat jaya, kini tiada. Beberapa stasiun televisi juga tutup atau beralih manajemen. Dan, sejumlah radio tak mengudara lagi.
Itu fakta. Meski yang masih hidup, coba bertahan (survive). Namun, lahir sebuah pertanyaan dari pakar, akademisi dan penerbit media : Jurnalisme “akan mati” ? Ternyata senada. Kalangan yang selama ini terkait erat dengan aktivitas pers menjawab dengan satu kata : Tidak!
Saya coba berdiskusi dengan beberapa akademisi dan pengelola media. Apakah hal kontradiksi sekarang. Yakni, sebagian besar media tergolong memprihatinkan, bahkan ada yang berani bilang “terpuruk”. Lantas, dinyatakan : Jurnalisme akan terus hidup. Bagaimana logikanya ?
Jawaban untuk itu, tak perlu berandai-andai. Namun, harus dengan pilihan konkret. Lebih-kurang dapat disebut : Lakukan beberapa hal prinsipil sehingga jurnalisme bertahan sampai kapanpun. Bukan main ! Optimisme seratus persen. Apa itu ?
Pertama , informasi tergolong kebutuhan utama. Kita mengenal alasan mendasar pers hadir di tengah peradaban manusia. Pers melaksanakan tugas ini dalam kaitan pemenuhan “hak atas informasi” (rights to information) . Dan, hak masyarakat untuk tahu (rights to know) .
Kedua , kerja-kerja jurnalistik harus dilakukan wartawan profesional. Jika profesionalisme itu mampu dipertahankan insan pers, tentu jurnalisme bertahan.
Ketiga , karya-karya jurnalistik dari wartawan profesional dapat disebut sebagai informasi akurat. Publik boleh percaya. Istimewa dari media arus utama (mainstream media) , secara umum publik percaya atas sajian yang disiarkan. Tiada informasi bohong/palsu.
Keempat , media yang dikelola dengan manajemen baik, termasuk wartawan/redaksi yang memiliki pengetahuan serta keterampilan jurnalistik, akan menjadi media pilihan publik. Ini bermakna, jurnalisme tetap kuat.
Kelima , jajaran redaksi mutlak taat pada etika profesi pers. Di sini, penerbit dan awak media, mempertaruhkan kredibilitas dan integritas, sehingga jurnalisme terjaga. Saat peliputan dan sajian informasi, mengacu pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) di tiap negara, justru bagai jaminan atas eksistensi jurnalisme itu.
Keenam , semua pihak sepakat. Jika ada aturan/kode etik dan ketentuan pers, diyakini bukan hanya memberi proteksi bagi kalangan pers semata, melainkan pula perlindungan kepada publik. Kekuatan proteksi pers ini, bagian dari wujud jurnalisme dalam arti luas (= kemerdekaan pers).
Ketujuh , pers teguh membela kebenaran. Tidak berpihak pada sisi-sisi yang merusak penegakan keadilan. Di sini tingkat kepercayaan publik diberikan pada pers (= jurnalisme).
SETIDAKNYA tujuh sisi-sisi tersebut, jika dijiwai dan diterapkan maksimal, pendapat yang menyatakan jurnlisme terus hidup, agaknya menjadi kenyataan.
Tentu. Dengan catatan, kiranya patut dipisahkan antara media dengan jurnalisme. Artinya, media boleh saja mati atau ganti manajemen. Tetapi jurnalisme terus hidup, melalui kerja-kerja dan karya-karya jurnalistik dari buah tangan wartawan profesional.
Kita lihat kenyataan, seraya mengamati derapnya.
Anda boleh setuju atau tidak dengan tujuh butir terurai di atas. Beda pendapat, bukan hal tabu. Namun, jurnalisme punya keistimewaan. Anda bisa buktikan. Semoga tahun 2026 ini bukan kematian jurnalisme dunia.

19 Okt 2026 12:07 WIB

Klarifikasi & Verifikasi

12 Okt 2026 13:00 WIB

Trump Larang 3 Media

Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa

Baca Juga

Suntikan Dana ?
09 Okt 2026 17:56 WIB

Suntikan Dana ?

Dedikasi & Risiko
28 Sep 2026 15:02 WIB

Dedikasi & Risiko

Media Watch
21 Sep 2026 13:51 WIB

Media Watch

Medsos Fitnah ? Tidak Semua !
14 Sep 2026 13:58 WIB

Medsos Fitnah ? Tidak Semua !

Mana Diklat Pers ?
07 Sep 2026 21:06 WIB

Mana Diklat Pers ?

Pers = Kelompok Kritis
01 Sep 2026 16:45 WIB

Pers = Kelompok Kritis

Rekomendasi