Romantisme dan Tragedi dalam Neka

Nevatuhella. Baru pertama kali saya membaca cerpen Eep Saefulloh Patah. Baru juga saya mengetahui kalau-kalau Eep, pakar Ilmu Sosial Politik adalah juga seorang penulis cerpen. Menurut Damiri Mahmud, cerpen-cerpen Eep themanya sederhana-sederhana dan romantik.

Pada hari yang sama, dimuatnya cerpen Eep di Harian Kompas (Minggu, 18 Mei 2014), cerpen rekan Sugeng Satya Dharma juga dimuat di Harian Analisa. Saya hanya sampai membaca judul cerpen Sugeng, FUIT. Saya merasa perlu energy berlebih untuk membaca cerpen Sugeng yang saya kira tidak sederhana. Saya dahulukan membaca cerpen Eep. Betul-betul saya nol ketika mulai membacanya. Sesudah membacanya tersentak. Begitukah adanya? Getirnya politik.

Neka, judul yang dipilih Eep. Menceritakan kegetiran yang harus diterima seorang mahasiswi asal Timor Timur (Neka). Di penghujung kekuasaan Suharto, bersamaan dengan merebaknya keinginan masyarakat Timor Timur untuk melepaskan diri Indonesia. Ingin  menjadi sebuah Negara yang berdaulat.

Adalah tokoh aku (Dina) yang menjadi narasi jalannya cerita. Aku adalah teman dekat Neka. Sama-sama kuliah di salah satu Universitas di Jakarta. Tinggal dalam satu kamar kos. Neka bisa kuliah di Jakarta, berbekal kecerdasannya mendapat beasiswa penuh dari Negara. Ratusan mahasiswa seperti Neka  ada di Jakarta.

Neka pro-integrasi. Dalam berbagai diskusi tentang Timor Timur, digelar marathon di Jakarta. Pada saat itu Eep mengatakan, diskusi bukan sebagai sarana bergenit-genit mahasiswa, tapi merupakan keharusan yang tak dapat ditolak. Neka selalu kebagian menjadi narasumber para sarjana dan elit-elit politik yang berkepentingan. Neka sendiri mengalami benturan kepentingan antara Jakarta dan Dilli. Di satu pihak, Neka mengamini integrasi, tapi apa yang diberikan Jakarta, memukulnya. Timor Timur ibarat anak kandung Indonesia yang disia-siakan. Sebaliknya kemerdekaan Timor Timur sudah ditunggangi oleh begundal-begundal yang rakus kekuasan. Bukan murni dari rakyat Timor Timur.

Ratusan mahasiswa sama dengan fikiran Neka. Dalam kegalauan inilah, keluarga Neka menyurati Neka. Mereka meminta agar Neka segera pulang ke Dilli sehubungan dengan keadaan ayahnya yang dikabarkan sakit parah. Inilah plot awal atau pembuka cerita yang dibangun Eep.

Di awal cerita, saya kira Eep akan memunculkan kisah romantis dan sederhana, rupanya tidak. Begitupun di lebih separo jalinan cerita, Eep masih sempat memapar kecantikan yang dimiliki Neka (romantisme di tengah petaka yang akan terjadi). Namanya juga cerita, bukan berita.

Neka mengatakan: “Ini bukan sekedar soal ayah pasti. Ini soal keselamatan diriku!” Menyikapi permintaan keluarganya memintanya pulang.

Kepada sang Aku (Dina) sekalipun gadis cantik, Neka tak punya keberanian menceritakan apa yang sedang dialaminya, yang mengganggu fikirannya.

“Tabungan keberanianku untuk pulang belum cukup!“ Keluh Neka. Foto seorang ayah yang sedang sekarat terbawa-bawa dalam mimpinya. Ayahnya yang telah membesarkannya dalam keagungan pilihannya. Menjadi seorang Kristen yang baik. Menggantung asa ke masa depan Neka, dengan setiap Minggu pagi membawa Neka ke gereja.

Ayahnya digambarkan Neka dengan takzim sebagai orang yang berjasa mengajarinya tentang pentingnya makro dan mikro kosmos bagi orang Timor Timur. Juga lelaki yang menukarkan prinsip hidupnya yang keras dengan kemiskinan tapi dengan tetap menunjukkan tanggung jawab penuh untuk keluarganya.

Setelah berkelahi dengan berbagai ketakutannya, Neka mengambil keputusan untuk pulang ke Dilli. Sesampainya di Pelabuhan Dilli, seseorang yang tak kukenal, tapi mengaku utusan keluargaku, menjeputku. Aku tak dibawanya pulang ke rumah, tapi dibawanya ke dalam sebuah hutan.

Dengan mata tertutup, aku dibawa ke sebuah tempat dan dihadapkan pada sekelompok orang yang menginterogasiku dengan buas. Aku dipaksa mengaku sebagai agen intelijen yang dikirim Jakarta. Aku juga ditanyai berulang-ulang tentang hubunganku dengan Lopez. Menyangkut Lopez, mereka seperti membutuhkan setiap detil. Entah untuk apa dan kenapa.

Mereka menyiksaku tanpa ampun karena aku tak punya jawaban yang mereka harapkan. Selepas dua hari di interogasi, pada sebuah malam, seorang lelaki menyergapku dan memperkosaku tanpa suara.

Tahukah kamu Dina, siapa lelaki itu? Di hari berikutnya aku tahu bahwa lelaki itu adalah pamanku sendiri.

Thema yang Besar

Thema Neka besar, universal. Kepentingan seseorang atau golongan selalu memakan korban, menzalimi orang lain yang tak sepaham. Lopez, teman Neka, sang martir yang ditusuk dadanya berkali-kali karena mencela para begundal yang mengatas namakan rakyat Timor Timur. Ingin kemerdekaan dari Indonesia, mengatakan: “Bahwa sesungguhnya, rakyat Timor Timur bukan ingin merdeka dari Jakarta, tapi sejatinya ingin merdeka dari para begundal yang mengatas namakan rakyat Timor Timur yang melarat”

Esok hari setelah mengatakan pendapatnya di atas dalam sebuah diskusi di Pasar Minggu Jakarta, tubuh Lopez mengapung di sungai Ciliwung. Ciliwung berdarah.

Karakter Tokoh

Ingat tokoh Antonio Samson dalam “Kota yang Mencabar”, novel F. Sionil Jose. Mahasiswa yang menjadi korban Rezim Marcos detik-detik ketika akan jatuh. Atau tokoh seorang pemuda bernama Robert, dalam Les Miserable. Revolusi Prancis yang menjadi latar novel ini. Beratus, bahkan ribuan tokoh telah banyak yang menjadi korban satu kudeta atau kemauan sekelompok orang.

Revolusikah? Referendumkah? Atau Kudeta? Sehari sesudah Ali Rajai dilantik sebagai Presiden Iran kala terjadi Revolusi Iran di tahun 1983, Ali Rajai berlumuran darah dan langsung menemui ajalnya.

Karakter Neka tidak unik, melainkan sebatas pilihan untuk mewakili ratusan mahasiswa yang pro Jakarta, yang ketakutan diburu oleh orang-orang pro-kemerdekaan. Termasuk Lopez, yang murni pro-integrasi, pahlawan Indonesia yang seyogianya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Siapa peduli saat itu. Jakarta juga sedang gaduh oleh Soeharto yang sudah melenceng habis dari konstitusi Negara. The Smiling Genderal sudah disebut-sebut sebagai rezim, penguasa yang zalim. Suharto tak ingin kehilangan kekuasaannya saat itu. 32 tahun dia berkuasa dengan tangan besi. Ratusan mahasiswa berdemo di depan Gedung DPR Senayan, memintanya untuk turun dari jabatan presiden. Rakyat sudah muak.

Neka lahir dari tangan seorang pengamat politik yang cerdas memilih cerpen sebagai medianya. Cerpen, atau karya sastra lain sejatinya sebagai wadah dari ketidaksiapan medium lain mengantar pesan-pesan kemanusiaan.

Apakah yang dialami Neka benar terjadi, terpulang pada penilaian diri kita sendiri. Sebatas kemungkinankah? Rekayasakah, atau imaji-imaji pengarang sendiri. Sejauh yang bisa saya fikirkan, mungkin seumur hidup saya tak kan bisa menulis cerpen semacam yang ditulis Eep ini.

Sejarah secara langsung mengikat Eep pada kejadian (waktu) yang menjadi latar cerita. Sementara dia sendiri, setiap waktu berkutat dengan teori-teori politik dan bersua dengan orang-orang yang mengalami berbagai dampak politik yang terjadi.

Penulis Ketua Himpunan Sastrawan Kembang Karang Tanjungbalai

()

Baca Juga

Rekomendasi