Wagub dan Iklan

Oleh: H. Sofyan Lubis. Siapa pun tahu Deddy Mizwar itu aktor film, sutradara dan bintang iklan. Tapi orang juga tahu ia kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Panggilan jiwanya sebagai seniman ternyata tak dapat ditinggalkan. Buktinya sampai sekarang iklan-iklan yang dibintanginya tetap tayang di televisi. Begitu juga sinetron “Para Pencari Tuhan” yang kini sudah mencapai jilid 8.

Deddy Mizwar bukanlah aktor pertama yang menjabat sebagai Wagub Jabar. Sudah ada pendahulunya, Dede Jusuf. Cuma Dede hanya tampil sebagai bintang iklan obat sakit kepala. Iklan itu tetap tayang di televisi di samping billboard ukuran besar saat ia menjabat Wagub Jabar. Ada lagi Rano Karno yang kini menjadi Pelaksana Tugas Gubernur Banten. Sinetron “Si Doel”nya ditayang ulang di televisi.

Tetap tampilnya Deddy Mizwar sebagai bintang iklan bukan tidak mendapat reaksi dari orang-orang Jawa Barat. 15 hari setelah dilantik sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat, beberapa tokoh masyarakat bertemu dengannya. Tepatnya Jumat 28 Juni 2013. Pertemuan itu difasilitasi Wakil Ketua DPRD UU Rukmana dan berlangsung di lobi gedung DPRD Jawa Barat.

Tokoh-tokoh yang mewakili budayawan, akademisi dan pengamat politik/hukum itu merasa “gerah” dengan iklan Deddy Mizwar di televisi. Mereka mendesak penayangannya dihentikan. Di dalam pertemuan itu Deddy Mizwar berjanji akan merenegosiasi kontrak iklan yang ditandatangani sebelum ia menjabat sebagai wagub; tidak akan menandatangani kontrak baru; hanya akan tampil untuk tayangan iklan masyarakat.

Janji itu tetap saja jadi janji. Kenapa? Karena di bulan Ramadan 1435 H, persis satu tahun pertemuannya dengan tokoh-tokoh Jabar, iklan yang dibintanginya tetap ditayangkan. Begitu juga sinetron “Para Pencari Tuhan”. Iklan dan sinetron itu baru. Misalnya iklan salah satu obat maag berlatarbelakang Gedung Merdeka dan menara mesjid. Siapa pun tahu, Gedung Merdeka ada di Jalan Asia-Afrika Bandung, tak jauh dari Mesjid Agung. Sinetron “Para Pencari Tuhan” bukan tayangan ulang,sudah jilid 8 yang diproduksi 2014.

Tokoh-tokoh masyarakat Jabar yang tahun lalu merasa “gerah” dengan tayangan iklan tersebut tak banyak lagi terdengar suaranya. Ada juga reaksi, tapi tak segencar dulu. Hidayat Nur Wachid, dedengkot PKS, membelanya. Katanya, penampilan Deddy Mizwar di dalam “Para Pencari Tuhan” merupakan dakwah.

Dalam satu diskusi di Bandung setelah itu, Ruhut Sitompul tak berkeberatan penampilan Deddy Mizwar tersebut. Ia mencontohkan dirinya yang juga main sinetron saat menjadi anggota DPR-RI. Alasannya, asal tidak mengganggu tugas. Dan memang, Deddy Mizwar melakukannya tidak pada hari kerja, Senin-Jumat.

Siapa pun tahu sinetron “Para Pencari Tuhan” berthemakan dakwah. Pertanyaannya apakah dakwah itu seperti yang disebut Deddy Mizwar merupakan layanan masyarakat? Bagaimana imej masyarakat, utamanya masyarakat Jawa Barat yang wagubnya berperan sebagai Bang Jack di dalam sinetron itu?

Harus diakui Deddy Mizwar memang menjiwai betul perannya sebagai Bang Jack. Sama halnya ketika berperan sebagai Jenderal Naga Bonar di dalam film “Naga Bonar”. Ia memang aktor. Kalau barangkali ia tidak dapat dipisahkan dari “Para Pencari Tuhan”, apa yang dilakukan Alfred Hitchcock perlu jadi pemikiran Deddy Mizwar.

Alfred Hitchcock adalah sutradara dan produser kenamaan film-film suspens. Orang yang pernah menonton film-filmnya dapat melihat Hitchcock selalu tampil di filmnya. Dan cukup sekali lewat. Tanpa bicara. Patut juga Deddy Mizwar hanya sekali saja tampil di dalam setiap jilid “Para Pencari Tuhan”, tanpa bicara.

Iklan kain sarung salah satu merk juga disiapkan untuk penayangan di bulan Ramadan. Hal ini biasa dilakukan setiap produsen kain sarung, baju koko dan peci. Begitu juga iklan obat maag berlatar belakang Gedung Merdeka. Nama jalan Asia Afrika jelas ditonjolkan. Apa maksud? Semua orang tahu itu adalah Bandung, Jawa Barat. Jelas itu iklan komersiil. Susah untuk menjelaskan kalau dikatakan itu iklan layanan masyarakat.

Pejabat publik yang tampil sebagai bintang iklan memang bukan Deddy Mizwar saja. Masih ada yang lain. Contohnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Gita Wiryawan ketika masih jadi Menteri Perdagangan saat akan mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat, Ketua DPR-RI Marzuki Alie dan Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie. Semua iklannya ditayangkan di televisi.

Dahlan Iskan tampil dengan iklan jamu masuk angin. Apakah itu iklan layanan masyarakat, padahal jelas ia menyebutkan merk dagangnya? Marzuki Alie dan Jimly Asshidiqie memang hanya berkata, produk-produk Indonesia tanpa menyebut merk dagang. Tapi dilatar belakangnya berderet barang-barang dengan merk dagangnya. Mungkin barangkali tayangan iklan Gita Wiryawan bisa masuk iklan layanan masyarakat. Cuma anehnya, setelah konvensi iklan itu tak ada lagi.

Memang tidak ada undang-undang yang melarang pejabat publik untuk menjadi bintang iklan. Hanya saja ini menyangkut masalah etika, moral. Pejabat publik patut menjaga imej. Mereka harus sadar, kebebasannya akan terampas begitu menjadi pejabat publik. Mungkin tak seluruhnya, tapi yang jelas mereka tidak akan bisa lagi sebebas saat sebelum menjadi pejabat publik. Ada aturan, ada etika yang perlu diperhatikan.

Medan pernah punya walikota yang juga berdarah seniman, Agus Salim Rangkuti. Ia jadi walikota 1 April 1980-31 Maret 1990. Salah satu filmnya yang cukup dikenal, “Sungai Ular”. Tapi begitu menjadi walikota, ia tak main film lagi.

Kini menjadi pertanyaan, apakah nantinya akan ada Gubernur atau Wakil Gubernur Sumatera Utara yang juga menjadi aktor atau bintang iklan? Kita tunggu saja. ***

Penulis lulusan SMA Kesatria Medan 1960, alumni Lemhannas KRA 24, anggota DPR-RI 1997-1999

()

Baca Juga

Rekomendasi