Analisadaily.com, Medan - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Tatung Konghucu Indonesia (TAKIN) resmi melantik Marjianto Hajati sebagai Ketua pengurus TAKIN Sumbagut dan Andy sebagai Ketua pengurus TAKIN Kota Medan. Meski digelar sederhana di Karibia Boutique Hotel namun, tidak mengurangi makna acara tersebut.
"Pasca dilantiknya para pengurus TAKIN Sumbagut dan Kota Medan masa bakti 2026-2031. Berharap eksistensi para pengurus bisa menjalankan amanah ini dengan baik. Legalitas TAKIN harus mendaftarkan ke instansi terkait seperti Kesbangpol agar pemerintah Daerah mengetahui keberadaan TAKIN tersebut. Harapan kami para pengurus tetap semangat mudah-mudahan dalam 1 tahun banyak Tatung yang mendaftarkan Altar nya masing masing. Semoga TAKIN Sumut dapat berkembang dan tertata dengan baik, jelas Rudy Leonard usai prosesi pelantikan, Sabtu (18/4/2026) di Harbor Room Karibia Boutique Hotel Medan.
Lebih jauh, sejarah Tatung bermula dari kehidupan manusia pada zaman raja Tiongkok kuno. Pada masa itu dikenal 2 cara metode pengobatan. Yakni cara pengobatan dengan menggunakan ramu-ramuan yang disebut pengobatan tradisional tabib untuk jenis penyakit nyata pada umumnya, namun untuk penyakit karena gangguan roh jahat, biasanya melalui pengobatan Tatung secara spiritual melalui pertolongan para Shen Ming.
"Namun berkembang zaman, prosesi pengobatan oleh Tatung semakin dibutuhkan umat Khonghucu, selain pengobatan para Shen Ming juga melakukan pembersihan lingkungan yang dinamai tolak bala saat penutupan hari raya Imlek dengan arak-arakan Tatung yang kini menjadi tradisi yang menarik perhatian dunia. Sampai saat ini Tatung masih berfungsi sebagai pengobatan spiritual dari gangguan roh jahat,"jelansnya.
Tapi mengapa Pontianak (Kalbar) yang dijadikan sebagai Dewan Pimpinan Pusat untuk Yayasan TAKIN? Karena dari 38 provinsi di Kalbar yang paling banyak umat Konghucu yang berprofesi Tatung.
Dewan Pembina TAKIN, ZL Muslim Linggouw dalam sambutannya menyampaikan, acara pelantikan yang berlangsung sederhana ini merupakan keabsahan bahwa agama Konghucu dilayani secara hukum di Indonesia. Sama halnya dengan perkembangan aliran kepercayaan, dengan kultur masyarakat Indonesia yang religius kebebesan beragama di Indonesia sangat penting.
"Agama Khonghucu sudah eksis sejak tahun 1965. Baru dipulihkan kembali hak sipilnya pada tahun 2000 saat era Presiden Gus Dur. Kita sebagai warga Indonesia yang beragama Khonghucu selepas orde baru, saat ini di kolom KTP kita sudah ada, begitu juga dengan pernikahan cara Khonghucu juga sudah resmi. Sejak era reformasi kebebesan beragama berkembang pesat khususnya untuk agama minoritas seperti Konghucu sangat diberi kebebasan. Mari bersama-sama menjaga amanah. Menjaga kondusivitas Indonesia,"tegasnya.
Ketua TAKIN Sumbagut yang baru dilantik, Marijanto Hajati atau yang akrab disapa "Babe Sultan" dalam sambutan singkatnya yang berapi-api menegaskan, ia dipilih menjadi ketua berkat dukungan teman-teman semua. "Saya akan berupaya membuat TAKIN Menyala,"sebutnya.
Ketua TAKIN Kota Medan Periode 2026-2031, Andy dalam sambutan singkatnya menjelaskan, "Ingin memajukan Takin seperti di Kalbar harap dukungan dari Ketum. Agar umat Khonghucu tahu Tatung Menyala,"ungkapnya.
Sementara Ketua Panitia, Herryamgo, SS dalam laporannya mengatakan, pelantikan Takin ini merupakan bagian dari upaya memilihara budaya warisan leluhur. "Kalau bukan kita siapa lagi. Ini gunanya kita bentuk TAKIN Sumbagut. Semangat dan keinginan memajukan budaya leluhur kita mulai dari sejak pelantikan bersatu padu untuk memajukan budaya,"ungkapnya.
Tampak hadir dalam kesempatan itu, Dewan Pengawas Takin yang juga Anggota DPRD Sergai, Budi, SE, Ketua PHDI Sumut, M Manugren, Pembina Takin Yowan Chua dan para tamu undangan lainnya.











