Ribuan Umat Islam Salat Id di Lapangan Merdeka Medan

Ramadan Didik Umat Islam Jadi Manusia Bertaqwa

Medan, (Analisa). Ibadah puasa yang dilaksanakan selama bulan Ramadan telah mendidik umat Islam mencapai kedudukan yang tertinggi dan mulia yakni menjadi manusia yang bertakwa. 

"Sesungguhnya ketaqwaan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Ketaqwaan membuat seseorang memiliki sinar dalam hatinya, sehingga kehidupannya senantiasa berbuah kebaikan bagi dirinya dan orang lain," kata Dr H Ardiansyah, Lc, MA saat menjadi khatib Salat Idulfitri 1435 H/2014 M di Lapangan Merdeka Medan, Senin (28/7). 

Salat Idulfitri dihadiri ribuan umat Islam dari berbagai penjuru kota Medan. Salat Id juga dihadiri Gubsu dan Wagubsu, Gatot Pujo Nugroho ST, dan Ir HT Erry Nuradi, MSi dan Walikota Medan, Dzulmi Eldin dengan imam Drs H Syarifuddin Hazmi Lubis (qori Sumatera Utara). 

Ardiansyah menjelaskan, ketaqwaan juga membuat seorang hambah berani dan tegar mengarungi kehidupan serta tidak merasa takut, sebab ia senantiasa merasakan kehadiran Allah SWT dalam dirinya. 

Selain itu, selama ramadan umat Islam juga ditempah memiliki kemampuan untuk membedakan yang hak dan batil karena merupakan anugerah dari Allah SWT. "Tidak semua orang memiliki kemampuan itu, sekalipun ia cerdas dalam bidang yang lain. Oleh karena itu, dalam kehidupan ini kita menemukan manusia yang cerdas intelektuaitasnya, namun kering spritualitasnya. Semoga madrasah Ramadan yang lalu telah mengasah ketajaman spiritual kita," kata Ardiansyah 

Dia menegaskan, madrasah Ramadan mengembalikan hambah-hambah Allah kepada kesucian dirinya. Untuk mengukur kadar ketaqwaan, lanjut Ardiansyah ada karakter kaum yang bertaqwa (muttaqin) sebagaimana dijelaskan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra yakni karakter pertama, takut kepada Allah SWT.  Artinya, orang orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah dengan ilmu yang dimiliki bukan hanya ulama dalam pengertian mereka mengetahui ilmu agama saja, atau sering disebut ustaz atau kyai, tetapi termasuk dalamnya ilmuan dan cendikiawan muslim. Dengan ilmu pengetahuannya ia menyadari dan mengakui keagungan ciptaan Allh di alam semesta. 

"Dengan ilmu yang dimilikinya mampu mengantarkan dirinya kepada rasa takut sekaligus kagum kepada alam semesta ciptaan Allah SWT. Dengan ilmu itu pula muncul pada dirinya rasa takut akan murka dan azabNya, sehingga ia senantiasa berbuat sesuai dengan ajaran agama dan menjauhi dari larangannya," jelasnya. 

Karakter kedua, yakni beramal sesuai Alquran. Artinya mengedepankan nilai-nilai Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dalam setiap aspek kehidupan. Keputusan yang ia tetapkan sejalan dengan semangat Alquran dan as Sunnah. "Alquran mengandung pokok ajaran dan garis besar ajaran Islam, sedangkan penjabarannya terdapat dalam hadis. Misalnya, ibadah salat. Di dalam Alquran hanya menyebutkan perintah untuk mendirikannya, sedangkan tatacara pelaksanaannya dijelaskan dalam Sabda Nabi Muhammad SAW. Artinya, tidaklah dapat seorang muslim melaksanakan salat jika hanya mengandalkan informasi dari Alquran dan mengabaikan hadis, demikian juga dengan amal ibadah lainnya seperti puasa, zakat, dan haji," katanya. 

Karakter ketiga yakni sifat Qanaah (merasa cukup) dengan yang sedikit. Sifat Qanaah artinya merasa cukup dengan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada dari jalan-jalan halal, sekalipun tidak banyak. "Walaupun dengan berbagai cara, seseorang mampu mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, namun hal itu tidak ia lakukan karena ia berada bahagia dan cukup dengan yang halal walaupun sedikit," katanya.

Kekayaan Hati

Dia menambahkan, menurut Rasulullah SAW, kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati dan jiwa yang senantiasa merasa cukup dengan rezeki halal. “Jika seseorang menuruti setiap permintaan hawa nafsunya, maka sekalipun ia telah memiliki emas sebesar gunung Uhud, niscaya ia akan mencari lagi dan terus berusaha untuk memiliki gunung emas yang kedua, sekalipun lewat jalan haram. Demikian seterusnya hingga mulut tersumbat oleh tanah atau meninggal dunia,” ujarnya. 

Karakterk terakhir yakni mempersiapkan diri untuk hari berpulang (kematian). Ardiansyah menjelaskan, setiap kita akan meninggalkan dunia ini untuk menuju ke alam barzah kemudian ke alam barzah kemudian kea lam akhirat. "Perjalan yang akan ditempuh sangatlah jauh, setiap orang menyadari bahwa ia kelak akan melakukan perjalanan jauh, maka ia akan mempersiapkan bekal yang cukup. tidak ada bekal yang lebih baik dari ketaqwaan itu sendiri," katanya. 

Di akhir ceramah, Ardiansyah menjelaskan pribadi taqwa adalah pribadi yang sempurna dengan empat karakterk utama yakni pribadi yang takut keada Allah SWT, peribadi yang selalu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan petunjuk Tuhan, pribadi yang mempunyai jiwa dan nafsu terkendali dengan syariat agama, dan peribadi yang senantiasa mempersiapkan diri untuk hari berpulang. "Pribadid yang dibentuk oleh Ramadan seperti inilah pribadi yang dapatkembali kepada fitrah manusia, fitra hambah Allah yang suci,"ujarnya. 

Sementara Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho usai salat Id kepada wartawan mengatakan Idulfitri harus menjadi momentum untuk meningkatkan ketaqwaan sebagaimana telah ditempah melalui madrasah ramadan selama sebulan penuh. Selain itu, dia minta kepada umat Islam untuk mempererat tali silaturahim. 

Hal senada juga disampaikan Walikota Medan, Dzulmi Eldin. Dia mengakui untuk mempererat silaturahim antar sesama umat Islam bisa saling kunjung mengunjungi dan dirinya juga menggelar open house sebagai bentuk untuk mempererat silaturahim. (maf)

()

Baca Juga

Rekomendasi