Revivalisme Pre-Raphaelite Brotherhood

Oleh: Heru Maryono.

Pada Abad XIX, di Eropa banyak bermunculan aliran seni lukis. Salah satu di antaranya Pre-Raphaelite Brotherhood (PRB).

Raphael ialah tokoh pelukis Renaissance Puncak. Pre (sebelum) di depan nama tersebut, menunjuk era sebelum Renaissance Puncak. Ditambah Brotherhood (persaudaraan). Tentu di dalamnya menampung peminat gaya lukisan sebelum Renaissance Puncak.

Serupa Neo Classic (Neo Klasik). Dikatakan kreatif, tetapi menyerap masa lalu. Bedanya, Neo Klasik mengutip kisah-kisah Yunani dan Romawi. PRB menyerap visualisasi Gothic (Gotik) dan Renaissance Awal.

Tokoh Neo Klasik ialah Jacques Louis David. Kisah tentang Yunani, dijumpai dalam lukisannya berjudul the Death of Socrates. Kisah Romawi dijumpai dalam lukisannya berjudul the Oath of the Horatii. Lukisan pertama mengisahkan hukuman mati yang dijalani Sokrates (Filosuf Yunani) dengan cara minum racun.

Lukisan berikutnya mengisahkan perang antar penduduk kota (cities). Roma melawan Alba Longa. Roma tempat hunian Keluarga Horatii. Alba Longa tempat hunian Keluarga Curiatii. Padahal banyak terjadi ikatan pernikahan antara Horatii dan Curiatii. Ketika ”Sumpah Bertempur Melawan Curiatii” dikumandangkan pria-pria Horatii, kontan pihak perempuan bersuamikan Curiatii tidak kuasa menahan tangis.

Sekalipun sesama mengutip masa lalu, tetapi nasibnya berbeda. Neo Klasik (Abad XIX) memperoleh kemashuran bersamaan dengan Realisme dan Romantikisme. Tidak demikian dengan PRB. Kurang bergaung di kancah sejarah.

Barangkali ini akibat ambiguitas rumpun alirannya. Seperti terlihat pada lukisan the Mirror of Venus. Lukisan tersebut karya tokoh PRB, bernama Sir Edward Burne-Jones. Tipikal figur yang dilukiskan juga muncul dalam Pomona Tapestry Design, hasil kerja sama dengan William Morris. Desain ini masuk rumpun Art Nouveau. Demikian halnya Burne-Jones. Dia juga dikenal sebagai tokoh Art Nouveau.

Sejalan dengan PRB. Serapan masa lalu dalam Art Nouveau disebut nostalgia. Seni Kontemporer memperkenalkan istilah appropriation. Artinya meminjam. Tidak berbeda dengan kata Neo dalam Neo Klasik. Dalam arsitektur (Abad XIX), muncul Neo Gothic (Neo Gotik) yang menyerap arsitektur Gotik.

Serapan yang sama juga memunculkan nama berbeda. Seperti dijumpai pada Gothic Revival (Gotik Revival). Revival artinya membuat, membangun atau memproduksi sesuatu yang baru. Di dalamnya ditambahkan unsur yang pernah ada sebelumnya. Arsitektur Gotik Revival (AGR) diartikan bangunan baru yang mengadopsi unsur-unsur Gotik. Sebagai contoh, AGR di Amerika (Abad XIX). Pintu di balkon mengadopsi motif Tracery dari Gotik. Ventilasi di atas pintu bercorak Trefoil dari Gotik. Motifnya berupa daun berkelopak bulatan tiga. Bila berkelopak empat, namanya Quatrefoil. Terlihat sebagai penghias penyangga balkon yang menyatu dengan pilar teras rumah. Ornamen pada gabled (atap segi tiga), mengikuti pola Decorated Style gaya Gotik.

Neo Gotik bermula dari Jerman. Sikap chauvinistic yang mengagungkan diri, dalam arsitektur ditunjukkan melalui Konsep Alpiner. ”Bangunan Gotik berkarakter Alpiner dan Jerman sebagai pewarisnya”. Ekspresionisme (Jerman) dalam arsitektur tertular sikap narsistik.

Konsepnya mengagungkan Kemolekan Diri (Anthropomorphic Sympathy). Direalisasikan dengan perwujudan kelamin sebagai ide bangunan melambangkan kejantanan dan kewanitaan. Art Nouveau yang mengagungkan diri sebagai Imperialis, menambahkan ragam hias (dari koloninya). Katedral Sagrada Familia di Barcelona, memenuhi kriteria untuk digolongkan dalam ketiga aliran ini.

Hingga sekarang Neo Gotik tetap subur. Bangunan ANZ (the Australia and New Zealand Banking Group Limited) World Headquarters di Melbourne, diklaim sebagai the Gothic Bank atau ANZ Gothic Bank.

Seperti Sagrada Familia, bangunan tersebut ambigu dalam rumusan konsepnya. Keberadaannya juga dikatakan Post-Modern. Merujuk batasan Post-Modern sebagai Kombinasi Oposisi Biner, misal antara Modern dan Tradisional. Bentuk atap bangunan ANZ World Headquarters (AWH) mengingatkan pada rumah adat Karo yang dikemas secara modern. Adapun ciri Gotik terlihat pada pola Perpendicular Style, berupa penerapan rusuk-rusuk vertikal. Kesan menjulang tinggi, dalam Katedral Gotik sebagai manifestasi menuju Keagungan Tuhan. Dalam AWH, untuk menunjukkan keagungan duniawi.

PRB merujuk lukisan Early Italian Artists (Pelukis Italia Awal atau Renaissance Awal). Pendapat ini dikemukakan John Ruskin (sekaligus Pakar Art Nouveau). Pada era tersebut dijumpai gaya lukisan Lyrical Tradition. Dua pelukis di antaranya Benozzo Gozzoli dan Sandro Botticelli. Masing-masing lukisannya berjudul the Journey of the Magi dan the Adoration of the Magi.

Kejelasan garis mempertegas bentuk dan berwarna cerah menjadi ciri-cirinya. Dalam PRB muncul kembali pada lukisan Love and the Maiden, karya John Roddam Spencer-Stanhope, serta karya Burne-Jones di atas.

Ruskin juga menyatakan. Pelukis PRB bagaikan Ahli Botani dan Geologi, serta Arsitek dan Desainer Interior. Kualitas botani terlihat pada lukisan William Dyce, berjudul Titian’s First Essay in Colour. Kualitas interior terlihat pada karya John Melhuish Strudwick, berjudul the Music of a Bygone Age.

Melukiskan interior serba detail, setara lukisan Gotik Akhir, karya Jan van Eyck, berjudul Arnolfini Marriage. Lukisan Botanical Garden, setara karya Van Eyck yang lain, berjudul Adoration of the Lamp. Lukisan ini merupakan salah satu panel lukisan poliptych (banyak panel), berjudul Ghent Altarpiece.

Sejalan dengan pola adopsi dalam AGR. Lukisan PRB juga dapat digolongkan Revivalisme. Di Medan, barangkali gayanya dapat disematkan pada lukisan berjudul Pasar Buah, karya Budi Siagian. Betapa tidak? Nostalgia saat yang bersangkutan kuliah di Yogyakarta, kelihatannya melekat sangat kuat. Tercermin pada kelentikan jari-jari tangan perempuan yang dilukiskan. Penggambarannya melengkung secara berlebihan, mengingatkan pada kelentikan jari-jari tangan wayang kulit. Serupa AGR yang tidak meniru Katedral Gotik. Demikian pula Budi Siagian. Figur wayang kulit juga tidak ditiru.

Setara transfusi darah. Tanpa mengikuti kepribadian pendonor, yang penting memberi daya hidup. Cukup!

Penulis; dosen senirupa Unimed

()

Baca Juga

Rekomendasi