Oleh: Mihar Harahap.
MENARIK membaca antologi puisi “Aliran Sungai Nyuatan” karya Korrie Layun Rampan. Terus-terang, melihat bentuk puisinya, kita ingat puisi-puisi Denny JA. Karena berbeda dengan puisi pada umumnya, lalu dia menyebutnya Puisi Esai. Korrie yang juga berbeda, menamakan puisinya Sajak Lirik Naratif. Meski kita tidak sedang membahas puisi Denny, jika terdapat kesamaan bentuk, maka kita yakin pasti ada perbedaannya.
Dalam dunia sastra, sengaja mencontoh karena terpengaruh, asal tidak menjiplak (plagiat) adalah biasa. Bukanlah suatu perbuatan haram. Setidaknya H. B. Jassin membuktikan hal itu terhadap roman Hamka atau puisi Chairil Anwar misalya. Apalagi kalau Korrie belum pernah membaca puisi-puisi Denny, berarti secara tak sengaja atau kebetulan sama. Karena itu, kita lebih cenderung melihat perbedaan tinimbang persamaan keduanya.
Korrie Layun Rampan lahir di Samarinda Kaltim pada 17 Agustus 1953. Menulis sejak usia 8 tahun tanpa henti, hingga kini berupa puisi, cerpen, novel, kritik dan esai sastra. Juga menulis biografi sejarah, adat, hukum dan disiplin ilmu lain. Menguasai puluhan bahasa Asing, lalu menerjemahkan karya-karya dunia. Pemenang berbagai lomba sastra dan umum. Pernah sebagai wartawan, penyiar RRI/TVRI Pusat, anggota DPRD dan ketua-ketua lembaga seni.
Antologi puisi ini terbitan Rumah Sastra KLR Kaltim dan Araska Publisher Yogya tahun 2014. Design cover oleh N. Anjala. Kata lirik bermakna ganda dalam design ini. Secara denotatif, lukisan kepala orang lengkap, satu mata kanan tertutup dan satu mata kiri terbuka, menggambarkan orang sedang melirik. Secara konotatif, lirikan mata itu memaknai kandungan nilai-nilai puisi yang retoris dan metaforis. Jadi, design telah mencerminkan kehendak puisi.
Kata Korrie: ”pola saja-sajak ini mengambil inti retoris. Semua sajak ditulis dengan pola bertanya dengan tidak memberikan jawaban. Jawaban selalu bersifat metaforis dan retoris lagi, sehingga dari satu pertanyaan mungkin menghasilkan puluhan jawaban.” Maksudnya, puisi/sajak lirik naratif ini berpola retoris dan metaforis. Hanya timbul pertanyaan, apa dasar semua ini? Perlulah semacam konsep, krido atau proses kreatif sajak lirik naratif.
Ada dua puluh lima judul puisi dalam antologi ukuran 13,5 x 20,5 cm. Layout dikerjakan Djaloe Kehed. Bagi kita melihat tanggal, bulan dan tahun puisi, agak mengejutkan. Betapa tidak, ada dua puluh dua puisi tercipta sekira dalam dua minggu pada bulan dan tahun yang sama. Bulan Desember tahun 2013. Berarti rata-rata hampir dua puisi tercipta dalam satu hari selama dua minggu. Rasanya tidak biasa tetapi itulah keberuntungan yang dialami.
Perbedaan pertama biasanya puisi ditulis dalam bentuk kuplet, bait, baris. Dua puluh lima judul puisi ditulis seperi ini, apakah satu kuplet, bait, baris atau lebih. Panjang, sedang atau pendek. Misalnya “Kepada Soekarno” puisi terpanjang dalam antologi ini.
Terdapat empat bait. Salah satu baitnya: ”Tonil pementasan tak ragu di Bengkulu/Pasir panjang meruas samudera. Hulu melaku. Ombak dan gelombang menerpa/Jepang melapang/Tibalah proklamasi.”
Selebihnya didominasi oleh kuplet,bait atau baris yang mirip paragraf dalam sebuah wacana. Para ahli menyebut paragraf adalah seperangkat kalimat yang logis, sistematis dan memiliki satu pokok pikiran.
Barangkali, belakangan, ada juga satu-dua puisi yang ditulis penyair seperti ini. Bagi Korrie tampaknya merupakan tampilan menarik dalam lirik naratif. Dengan narasi-narasi ini, dia bebas mengungkapkan pikirannya secara meluas.
Contoh paragraf tentang sejarah: ”Trenggono 15) mengaso ketika Portugis mengais Malaka, 16). Kerajaan melebar ke hulu malang yang dikat Ratu Kelinyamat. Garang Pati Unus yang disebut Cu Cu Sumansang merekes persona de grande syo17)di daun-daun cavaleiro18). Tak ada yang jangal dari soko total19) dalam hal sekaten 20) sebagai akulturasi Hindu dan Islam”(petikan puisi “Arus Sungai Nyuatan”). Judul puisi ini sekaligus menjadi nama antologi.
Perbedaan kedua, tidak biasa kalau puisi menggunakan footnote atau cacatan kaki. Satu-dua kata khusus pada judul, bait atau paragraf, terkadang menggunakan footnote untuk menerangkan sesuatu. Biasanya, footnote digunakan pada karya ilmiah seperti skripsi, tesis, desertasi, buku atau kertas kerja seminar. Itupun karya ilmiah dalam tradisi penulisan lama yang kini dilupakan orang. Padahal fungsinya sangat signifikan untuk menerangkan sesuatu.
Bagi Korrie fungsi footnote dalam sajak lirik naratifnya tetap sama. Tidak saja pada judul, tetapi juga pada bait atau paragraf. Bahkan tidak hanya menerangkan pengertian kata dan maksudnya, namun menerangkan segala sesuatu istilah, nama, ideom, ungkapan dan lainnya. Menurut pengamatan kata-kata footnote cenderung kepada nilai-nilai moral, agama, budaya, sejarah, hukum, politik. Apakah sebagai tema atau sekedar lompatan pikiran.
Contoh: ”Xesxes 6) membuang keringat padat di pertempuran marathon 7) hingga dataran plataea 8) Ujung tiada yang kehilangan gaung saat Alexander Agung 9) memapas gunung dan selat gaya merangsek manusia menuju India”(petikan puisi “Harimau”). Xesxes=putra raja Darius dari Persia. Pertempuran marathon= pertempuran pertama Persia melawan Yunani. Dataran plataea = tempat pertempuran Persia dan Yunani. Alexander Agung = Raja Yunani.
Perbedaan ketiga tentang pembahasaan. Lazim bahasa adalah sarana untuk menyampaikan perasaan penyair. Tinggal bagaimana penyair melantunkan puisi berdasarkan jenis dan ungkapan. Bagi Korrie bahasa merupakan segala-galanya. Tak hanya sekedar mengekspresikan perasaan, tetapi sekaligus menyuarakan pikiran dan kehendak secara dominan. Jenis dan ungkapan melampui jenis dan ungkapan puisi yang ada selama ini.
Semisal pembahasaan sajak lirik naratif seperti diakui Korrie, lebih bersifat metaforis dan retoris. Kata tanyanya: di mana (lebib dominan), bukankah, apa, kau tahu, siapa, kah atau tanda tanya (?). Sejauhmana eksistensi dan frekuensi retoris dan metaforis dalam puisi-puisi ini, barangkali perlu pendalaman. Dalam pembahasaan merupakan pembeda dengan corak puisi lainnya. Tinggal bagaimana pembedaan itu menjadi ciri khas puisi Korrie.
Contoh pada bait: ”Siapa ngelindur?/Panas api dapur?/Siapa ngelantur/Kerongkongan kesat anggur?/Karet menarik busur/Api kasur” (petikan puisi “Jembatan Mahakam”). Contoh pada paragraf: ”Siapakah Jan Pitersz Coen?/Siapakah melahirkan Batavia?/Pasar Senen?/Jatinegara?/ Meester Cornelis dan Blok M?/Di mana Kebayoran Lama?/Di mana Menteng dan Kemayoran?/Segala tak!/Tak menteng-menteng” (petikan puisi “Jakarta”).
Bila urutan tahun, mestinya antologi diawal-akhiri puisi “Jakarta” dan “Kepada Soekarno”. Tetapi nyatanya, puisi diawal-akhiri puisi “Arus Sungai Nyuatan” dan “Jakarta”. Sengaja atau tidak, terasa urutan menyiratkan puisi tematik dengan lompatan pikiran dan kehendak yang mendayu-dayu. Dari sini pembahasaan cendrung mencirikan science fiction dalam bentuk puisi. Pembahasaan ini mendasari bahwa hakikatnya puisi adalah kebenaran.
Penulis kritikus sastra, mpr-oos, ketua fosad, pengawas dan dosen uisu











