Berharap Haji Mabrur

Oleh: Dra. Yusna Hilma Sinaga

Kisah dari Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulum al-Din mengisahkan perjalanan seorang ‘Alim yang shalih sedang menempuh perjalanan haji, namanya ‘Ali bin al-Muwaffiq. Kisahnya, Ibnu Mubarok melaksanakan ibadah haji, kelelahan dan tertidur serta bermimpi menyak­sikan dua malaikat turun ke bumi.

Malaikat itu berdialog. “Berapa banyak jamaah haji tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat temannya.

“Enam ratus ribu jamaah,” jawab malaikat yang ditanya. “Tapi, tak satu pun diterima, kecuali seorang tukang sepatu bernama Muwaffaq yang tinggal di Damsyik (Damaskus). Dan berkat dia, maka semua jamaah yang berhaji diterima hajinya,” kata malaikat yang tadi ditanya.

Ibnu Mubarok mendengar percaka­pan malaikat itu, terbangun dari tidurnya. Dia ingin menjumpai Muwaf­faq di Damsyik maka selesai melak­sanakan ibadah haji Ibnu Mubarok mencari Muwaffaq di Damaskus sampai bertemu.

Ketika bertemu Ibnu Mubarok me­nyampaikan mimpinya ketika melak­sanakan ibadah haji. Mendengar cerita Ibnu Mubarok, menangis Muwaffaq dan pingsan karena Muwaf­faq dan istrinya tidak jadi melaksa­nakan haji.

Setelah sadar, Muwaffaq menceri­takan kisah sesungguhnya. Muwaffaq bercerita lebih dari 40 tahun dia berkeinginan melakukan ibadah haji maka terus mengumpulkan uang dari berdagang sepatu dan akhirnya terkumpul 350 dirham (perak).

Ia mempersiapkan diri berangkat bersama istri. Menjelang keberang­katan, istrinya sedang hamil dan men­cium aroma makanan sangat se­dap dari rumah tetangga. Istrinya sangat ingin makanan itu maka Muwaffaq mendatangi rumah tetang­ganya untuk memohon diberikan sedikit makanan yang aromanya sedap itu.

Tetangga Muwaffaq langsung menangis menceritakan kisahnya sudah tiga hari anaknya tidak makan maka hari itu tetangga Muwaffaq melihat seekor Keledai mati di jalan dan diambilnya lalu dimasak untuk dimakan anak-anaknya. Hal itu dilakukan karena tidak punya maka­nan, “Tuan, makanan ini haram buat Tuan,” katanya sambil menangis.

Mendengar itu, tanpa berpikir panjang Muwaffaq kembali ke rumah mengambil tabungannya 350 dirham untuk berhaji diserahkan kepada keluarga itu. “Belanjakan ini untuk anakmu. Inilah perjalanan hajiku,” ungkap Muwaffaq.

Tidak Mudah Menjadi Haji Mabrur

Kisah dari Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulum al-Din bisa menjadi pencerahan buat kita. Hikmah dari kisah ini sangat besar. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’un ayat 1 sampai 3 yang artinya, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.”

Allah SWT dalam Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan sebagai pendusta agama. Hal ini dipertegas lagi dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya, “Barangsiapa berniat melaku­kan kebaikan (misalnya niat haji), kemudian ia tidak jadi melakukannya, maka ia dicatat oleh Allah menda­pat­kan pahala kebaikan (haji) yang sem­purna.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah dari Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulum al-Din itu sejalan dengan Surah Al-Ma’un ayat 1 sampai 3 dan hadits Nabi Muhammad SAW. Kisah Muwaffaq ingin melaksanakan ibadah haji. Namun, karena ada orang miskin sangat membutuhkan bantuan kepada­nya akhirnya tidak jadi berhaji dan karena kesediaannya membantu orang miskin itu, Muwaffaq menjadi haji mabrur.

Hadist Nabi Muhammad SAW dari Jabir Ra yang artinya, “Haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga”. Rasul ditanya: “Apa tanda-tanda mabrurnya?”. Nabi Saw menjawab: “Suka membantu memberikan maka­nan dan santun dalam berbicara.” (HR. Ahmad, al-Tabrani).

Hadits Nabi Muhammad SAW ini bisa diambil satu indikator haji mabrur itu adalah kesediaan berbagi rasa dengan sesama manusia, mampu menyumbangkan sebagian harta kepada fakir miskin atau kaum dhu’afa. Pengertian haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan dengan baik dan benar serta dengan bekal yang halal.

Pengertian Haji Mabrur atau maqbul adalah diterima atau diridhoi Allah SWT maka dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan tuntunan Nabi Muhammad SAW serta berpedoman kepada syarat-syarat dan rukun berhaji.

Berharap menjadi Haji Mabrur maka kita (Anda) harus menata niat berhaji yang benar, semata-mata karena Allah SWT. Lantas, menyiap­kan bekal berhaji yang cukup dari harta yang bersih dan halal. Sejalan dengan hadist Nabi Muhammad SAW menya­takan tanda-tanda mabrur haji sese­orang itu apa bila suka membantu, memberikan makan orang lain dan suka bertutur kata yang lemah lembut.

Keadaan seseorang yang hajinya mabrur terlihat secara alami dalam kehidupan sehari-hari setelah melak­sanakan ibadah haji. Ketika seseorang akan melaksanakan ibadah haji sudah terlihat dengan pola hidup yang berusaha untuk membantu dan memberikan kemudahan kepada orang lain, senantiasa berusaha menghindari pertengkaran dan berkata kotor serta berbuat fasik.

Hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya, “Barangsiapa yang menunai­kan ibadah haji sedang ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan maka ia kembali pulang dalam ke­adaan bersih seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Senantiasa melakukan hubungan silaturahmi, membantu masyarakat kurang mampu, berusaha secara maksimal mengendalikan diri dengan menjaga lidah, tangan dan perbuatan agar tidak merugikan dan menyakiti orang lain.

Memang sesungguhnya ibadah haji itu ibadah Rukun Islam terakhir (kelima) yang merupakan manifestasi dari implementasi empat Rukun Islam sebelumnya. Secara tegas bila empat Rukun Islam telah dilaksanakan dengan baik dan benar maka disem­purnakan dengan Rukun Islam kelima, menunaikan ibadah haji.

Belajar dari sejarah sejumlah tokoh seperti K.H Ahmad Dahlan (Muham­mad Darwis) pendiri organisasi Muhammadiyah. K.H Hasyim Ansyari pendiri Nadhlatul Ulama (NU). Saman­hudi pendiri Sarekat Dagang Islam. Cokroaminoto pendiri Sarekat Islam dan lainnya adalah mereka-mereka yang telah melaksanakan ibadah haji.

Setelah mereka melaksanakan ibadah haji melakukan perubah sosial dan berubah kepribadiannya menjadi lebih baik dan bisa menjadi motivasi bagi orang lain untuk berbuat lebih baik. Haji Mabrur melakukan peru­bahan minimal pada diri sendiri dan lebih baik lagi jika mampu melakukan perubahan di masyarakat meskipun dalam skala kecil. Semoga.

Penulis alumni Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara Medan, dan tenaga pendidik.

()

Baca Juga

Rekomendasi