ALEPPO merupakan kota terbesar kedua Suriah, setelah Damaskus, ibukota Suriah. Kota Aleppo termasuk kota tertua di dunia, sudah ada sejak tahun 2000 SM. Kota ini dulu bernama Halab. Dalam naskah Babilonia Kuno (750 SM), nama Halab sudah disebut, demikian pula nama Aleppo dalam inskripsi Mesir Kuno (abad ke-16 SM).
Aleppo diganti namanya menjadi Beroia oleh Seleucus Niktator (312-64 SM) pada masa Kerajaan Seleukus. Karena letak Aleppo yang sangat strategis sebagai pusat perdagangan, banyak bangsa yang sudah sering menaklukan Aleppo.
Mulai dari bangsa, Hitit (2000 SM), Mesir dan Asiria (abad ke-8 SM), Persia (abad ke-6 SM), Macedonia (332 SM), Romawi (64 SM), Arab (635 M), Tatar (1260), Mongol (1398), Kesultanan Utsmaniyah (1517 M), dan Prancis (1920 M). Kota Aleppo menjadi bagian dari negara Suriah sejak tahun 1944.
Kini, Aleppo hanya tinggal puing setelah lima tahun dilanda konflik. Bangunan hancur, pepohohan kering, dan debu tebal menempel di permukaan mana saja.
Kota yang dahulu indah itu sekarang terlihat suram. Seperti tak ada harapan. Namun, tidak bagi Emenour. sopir perempuan satu-satunya itu percaya dan berharap Aleppo akan dibangun kembali.
"Sebelum perang, Aleppo bahkan lebih indah dari Paris," ujar Emenour, pengemudi taksi di Aleppo.
Profesi seperti itu terbilang langka di Suriah. Namun, demi menyambung hidup setelah anak laki-laki dan suaminya tewas akibat serangan udara, dia nekat melakukan pekerjaan itu.
"Saat mulai menekuni pekerjaan ini, saya sangat takut. Namun setelah lima tahun, orang di sini mulai menerima, perempuan bisa bekerja," kenang Emenour seperti dikutip dari RT, Jumat pekan lalu.
Kekayaan budaya
Menjadi sopir taksi di kota yang tengah bergejolak bukan hal mudah. Setiap hari, dia harus berdoa semoga tak ada peluru nyasar atau jadi sasaran penembak jitu.
"Saya sejauh ini masih hidup. Padahal banyak sniper, dan banyak serangan udara," ujar perempuan yang juga seorang nenek itu.
Sambil berkeliling kota dengan taksinya, Emenour menyatakan kota itu dahulu indah luar biasa. Kota terbesar kedua di Suriah itu terkenal dengan kekayaan budaya.
"Lima tahun sebelum perang, Aleppo seperti Paris, bahkan lebih indah. Sekarang lihatlah kerusakannya. Dahulu sangat megah, sekarang hancur," ujar perempuan berusia 52 tahun itu.
"Tapi saya yakin kita akan membangunnya lagi. Dan yang penting para tentara akan kembali ke keluarga mereka, ke ibu mereka," tuturnya. Anak laki-laki pertama Emenour tewas setahun lalu saat bertempur di Damaskus.
"Tubuhnya terpental ratusan meter dari pos militer. Sementara penembak jitu pemberontak siap menembak siapa saja yang mendekat. Saya menunggu 20 hari agar dia bisa dimakamkan, namun tak bisa," kenangnya.
Sementara anak keduanya, tewas terkena serangan udara. Rumah Emenour rusak oleh bom. Kini dia tinggal bersama kucing-kucing yang dia temukan di jalanan Aleppo di rumah yang disediakan oleh pemerintah Suriah.
Emenour memiliki dua anak perempuan lainnya dan seorang anak laki-laki namun tak tinggal di Aleppo. Dia berharap keluarganya bisa berkumpul kembali.
Pada tahun 2006, Aleppo disebut pusat kebudayaan Islam oleh Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO). Sebelum perang, populasi kota itu mencapai dua juta jiwa.
Banyak sekali gedung-gedung bersejarah termasuk Masjid Agung Aleppo dengan menara magisnya berusia 1.000 tahun, kini semua hancur tinggal puing. (glpt/aljzc/rtc/es)










