Dendang Jiwa

Oleh: Karahayon Suminar

AKU benar-benar terpukul, melihat kondisi ayah begitu rupa. Sangat mengharukan. Rambutnya panjang berantakan. Pakaian beraroma apek, sementara sampah bekas pembungkus makanan dan sebagainya menambah kekumuhan rumah. Istana dulu dibangun ayah, kurasa telah berbalik total. Dari kenangan indah masa kecilku,  kini bagaikan sosok puri kuno yang telah lapuk serta kehilangan cahayanya. Karena sok aku tak mampu berkata sepatahpun. Takut memukul perasaan satu-satunya hati yang kumiliki. Hati ayah.

Aku anak tunggal, ibuku telah enam tahun memenuhi janjinya, kembali pulang kepada Sang Khalik.  Sambil menangis dalam hati, mulutku tak henti bersyukur. Tuhan memanggil ibu saat aku telah dewasa begini dan masih mengizinkan aku untuk bertemu dengan ayah. SMS tukang koran jugalah yang memaksaku untuk pulang. Katanya telah tiga hari koran ayah bertumpuk di depan pintu.  

“Ayah... minum teh manis hangat ya Yah...” bisikku selembut mungkin. Ayah membuka matanya – sangat lemah dan mencoba menunjukkkan kegirangannya. Senyumnya bergetar, matanya mencoba berbinar. Aku tahu itu ekspresi asli, ayah memang sangat rindu padaku. Sambil menyulangi teh hangat, pikiran dan hatiku berkecamuk.

Marahku, respekku serta cintaku baku tarung. Kenapa setiap aku telepon, ayah selalu tertawa renyah dan menutupnya dengan memotivasiku sambil setengan berteriak. Semangat Boen! Semangat Boen! Semangat Nakku! Setelah minum setengah gelas ayah tampak mulai bertenaga, menggeliat membetulkan bantalnya. Ketika aku buka kelopak mata bagian bawahnya, ayah menurut saja tanpa protes.

Aku menyimpulkan, ayah sudah terkena kurang darah. Karena kelopak mata bawahnya tak berwarna pink lagi. Indikasi anemia. Bisa jadi karena kurang tidur atau juga malah kurang asupan. Karena ayah hidup sendiri, hanya dijenguk seminggu dua kali oleh Bik Nur. Tetangga yang kupercayai. Aku transferkan biaya hidup ayah,  listrik, air, langganan koran serta gaji Bik Nur sendiri.     

“Lho Non Boen. Kapan datang?“ sapa Bik Nur mengejutkanku.

“Tadi subuh, naik kereta pertama, bagaimana Bik? Apa kabarnya ?.....” 

“Baik Non. Lho Non Boen kok bisa masuk ?”

“Saya kan punya kunci duplikat Bik, jadi sewaktu-waktu saya pulang ayah tak di rumah saya kan tetap bisa masuk.” Bik Nur yang paham hanya terkekeh tanpa suara.

“O ya Non, hari ini memang jadwal saya berbelanja, sekali belanja untuk tiga hari , sesuai anjuran Non. Saya kira, ayah  sangat kesepian Non“

Ya... dulu, aku memang menganjurkan begitu, karena ayahku sebenarnya orang yang sangat mandiri. Waktu mudanya pernah jadi juru masak di restoran. Itulah membuatku yakin meninggalkan ayah memenuhi panggilan lamaran  kerja di ibukota. Tak terpikir olehku jika ayah akan  begin jadinya. Kulirik ayah sudah lebih bertenaga, mampu duduk di samping jendela.

Karena dibantu Bik Nur, masak pun jadi lebih cepat. Setelah melayani makan siang ayah, aku mengunjungi tetangga baru sebelah rumah. Berkenalan sekalian minta tolong untuk mengecek kondisi ayah. Kebetulan tetangga baru yang Bu Dokter itu sedang tidak berdinas, selain ramah juga bersahabat.

“Tampaknya ayah anda kurang istirahat dan kurang gerak. Nanti saya kasih vitamin dan juga obat tidur. Obat tidurnya boleh diberikan jika sampai jam 1 pagi belum juga bisa tidur. Kalau gampang tidur ya tak perlu diberikan. Tampaknya ayah anda ada  gangguan lambung juga pneumonia, nafasnya pendek-pendek. Mudah-mudahan setelah minum obat besuk pagi jadi segar....”

“Terima kasih bu dokter... saya paham...” 

“Kalau ada apa-apa ketok saja pintu saya.” Kata bu dokter sambil berpamit. Setelah meminumkan obatnya, dengan lembut ayah kuanjurkan untuk nyantai. Syukurlah, nggak sampai setengan jam ayah telah tertidur lelap.

Aku mengontrol halaman belakang rumah, menyapu dan membersihkan rumput yang mulai meliar. Dulu, waktu aku usiaku 7 tahun, ayah memanjakanku dengan membelikan beberapa marmut dan kelinci. Di halaman belakang aku berkutat sepuas hati sampai sore dengan piaraanku.  Kini tinggal kandang besinya penuh karat tertumpuk di sudut.

Tanpa terasa gelap mulai datang. Setelah mandi, aku berniat menawari ayah untuk makan malam. Betapa terkejutku ketika kulihat ada seorang wanita seumuranku sedang mencangkung di tepian tempat tidur, menatapi ayah. Mendengar pintu bergerit, wanita itu pun menoleh padaku, sambil telunjuknya menginsyarati untuk tidak berisik.

Ya Tuhan. Wajah perempuan itu persis aku? Kerna isyaratnya, aku melihat ayah tampak masih pulas. Dengan berjingkat aku mendekatinya, menerima salamnya. Tangan wanita itu lembut dan agak dingin.     

“Saya Dendang Jiwa. Anak ayah juga,” akunya setengah berbisik, tapi di telingaku serasa gelegar halilintar. Anak ayah jug? Sungguh aku terkejut sekaligus terpana.

“Siapa namamu adikku?“ Aku sulit untuk langsung menjawab, aku tata pikir dan hatiku. Tatapannya sungguh sejuk, damai, senyumnya seperti senyum ayah juga. Diam-diam aku merasakan ada keyakinan semakin besar, dia mungkin memang anak ayah juga. Apakah dia saudara kembarku. tapi dirahasiakan oleh kedua orang tuaku? Setahuku anak perempuan memang sering mewarisi gen ayah secara dominan. Terlebih secara pisik. Wanita itu mengangguk sambil menunggu jawabku.

“Saya Boen End Jang. Anak tunggal ayah,” jawabku sengaja tegas.

“Adikku Boen End Jang, tak usahlah kita bertengkar, ketahuilan adikku, sayalah anak pertama ayah. Aku hanya anak imajiner. Dulu sebelum ayah menikahi ibumu, ayah pernah punya kekasih, namanya Tary Eneste. Itulah ibuku.  Ibuku belum bersedia untuk jadi ibu bagi anak-anak ayah. Alasannya karena ibuku anak pertama, harus kuliah dulu untuk menjadi teladan bagi keempat adiknya. Atas kehendak Tuhan, ibumulah yang tertakdir jadi ibu bagi anak ayah. Begitulah adikku.

Jadi, kita dua sama-sama anak ayah, bedanya aku anak imajiner sedangkan engkau anak kenyataan.”

Perlahan aku mulai bisa mencerna penjelasan kakak imajinerku. Walau rasanya sedikit puyeng dan  tiba-tiba hidup ini terasa absurd. Melihat aku masih tercenung, kakakku Dendang Jiwa ini mengira aku masih sulit menerima kenyataan, lalu  menyambungnya dengan;

“Sungguh Boen, aku tak sedikitpun berniat merebut cinta dan perhatian  ayah kepadamu, tidak.  Kita bersaudara. Tetap akan bersaudara sampai kapan pun asal engkau masih mau menganggapku sebagai kakak. Aku datang karena ayah rindu padaku, dua malam selalu mengigau dan memanggilku. Rupanya ayah kita sedang sakit begini.“

Akhirnya, tanpa aku sadari, terkumpul juga keberanianku, untuk berkomunikasi dengan kak Dendang. Hmm. Sejak SMP aku tahu jika ayah seorang pengkhayal. Esais juga cerpenis.

“Ya kak Dendang, aku paham. Memang begitulah ayah kita ini. Seperti pernah diakuinya ketika kutanyakan tentang masa mudanya. Dia memang pernah mencoba memimpikan seorang mahasiswi IKIP untuk menjadi calon ibu bagi anak-anaknya. Persis seperti cerita kakak tadi, rupanya gadis  itu belum bersedia menikah karena masih ingin studi.

Beliau juga berpesan padaku, ayah tidak bisa memberi warisan berupa materi, bisanya cuma membekali hidup anaknya, aku ini, dengan ilmu. Satu pesan ayah yang insya Allah tak akan aku lupakan sampai mati. Dengan agama anakku, insya Allah engkau akan selalu berada di jalan kebenaran dan hidup yang berkah. Dengan ilmu anakku, insya Allah hidupmu akan menjadi terasa lebih mudah dan dengan seni anakku insya Allah hidupmu akan menjadi semakin indah.”

Tiba-tiba kedua tangan ayah meregang melakukan isometrik, untuk menghilangkan pegal-pegal, nafasnya memburu. Aku juga kak Dendang sama-sama diam. Setelah membuka matanya, ayah tersenyum. Kedua lesung pipitnya bertambah dalam dan jelas. Dipandanginya kami dua dan mendadak pandangannya menajami wajah kak Dendang.

“Salam hormat dan cinta ananda ayah, saya anak imajiner ayah – Dendang Jiwa,” ayah pun merangkulkan tangan kanannya memeluk kak Dendang. Aku masuk ke pelukan tangan ayah sebelah kiri.  Telingaku yang menempel di dada ayah, mendengar degup jantung ayah yang berdentum-dentum penuh semangat. Pelukan  ayah terasa hangat, mudah-mudahan saja obat bu dokter yang kuberikan tadi sudah bekerja.   

“Saya terpanggil Yah, dua malam ayah selalu mendesiskan namaku penuh rindu,” kata kak Dendang lembut bermanja membuat lesung pipit ayah kembali tersungging.

“Bagaimana Yah, agak enakan ?  Ayah hanya mengangguk. Makan dulu ya Yah, biar minum obatnya lagi?“ kataku sambil melepas rangkulan ayah.

Tak ayal, kerna girangnya ayah tampak bertenaga dan bersemangat. Dia banyak cerita tentang perjalanan hidupnya, pengalaman hidupnya, mimpi-mimpinya. Lengkap dengan tawa tangis dan duka bahagianya. Sampai kepada kisah pilu  percintaannya, walau tak sampai berdarah-darah tapi cukup mengharukan.  Aku menangkap dan menyimpulkan, ayah sepertinya sedang berkatarsis. Mungkin betul, akhir-akhir ini sangat kesepian. Kak Dendang dan aku bersepakat penuh toleransi untuk ikhlas jadi tumpahan uneg-unegnya.

Ayah menjelaskan padaku. Jika saja dulu bidadarinya yang mahasiswi IKIP itu mau jadi ibu anak-anaknya, maka anak pertamanya akan diberi nama Dendang Jiwa. Asyik mengurai rasa yang lama mengendap di hati tahu-tahu jam telah menunjukkan setengan 2 pagi? Sesuai pesan bu dokter, aku segera mengambil sebutir pil tidur, dengan pandai-pandaiku ayah berkenan meminumnya. Sepuluh menit kemudian ayah menguap dan...

Kembali aku dan kakakku melanjutkan percakapan. Kak Dendang ‘mendemonstrasikan’ kepandaiannya bermejik ria. Dia bisa menembus tembok, masuk kulkas tanpa membuka pintunya, dalam sekejap muncul lagi telah berganti baju layaknya kuntilanak. Dengan kostum putih panjang – rambut terurai menyebarkan bau harum dan wajah pucat pasi. Melihat aku tergigil, dia malah tertawa kegirangan. Masuk tembok, dalam hitungan tak sampai 3 detik. Muncul kembali dengan busana modis bak seorang pramugari. Jalan melenggok senyumnya memesona -  cantik seperti aku he he he he. Asyik menikmati kak Dendang bertiwikrama, tiba-tiba terdengan ayah terbatuk-batuk.

Kami bergegas menghampiri ayah. Ya ampun. Kami terkejut, melihat ada cairan seperti ingus kehitam-hitaman ingin keluar dari kedua lubang hidung ayah. Segera kutarik tisu untuk mengelapinya. Aku yakin ayah merasa dan menyadari, aku yang mengelap ingus kehitaman dari hidungnya. Kedua alisnya mengernyit, mulutnya mecucu mengeriput menyatu dengan hidungnya. Kami berpandangan. Sama-sama tahu kalau ayah sedang merasakan sakit yang sangat. Melihat ayah begitu aku jadi ingat pesan beliau satu lagi. Kalau sedang sakit, tak boleh manja, tak boleh cengeng, tak boleh merengek apalagi menangis meraung-raung. Itu bukan anak ayah. Anak ayah harus kuat menderita – harus kuat menahan sakit. Aku yakin kak Dendang juga tahu itu.

“Boen adikku, mari kita tolong ayah.”

”Caranya kak?” Kak Dendang meraih tangan kananku. Meletakkannya di dahi ayah. Aku terbodoh hanya menuruti kehendak kakakku. Wajah ayah pun mereda, tak mengkerut seperti menahan sakit lagi. Tampak tenang, nafasnya tak tersengal-sengal lagi, ayah tampak tidur kembali dengan lelapnya.

“Aku tak tega melihat ayah menderita sakit seperti itu. Itulah ayah  - sedang melaksanakan ajarannya. Jangan manja jangan cengeng jangan menangis, walau sangat sakit,” kata kak Dendang menunjukkan kepadaku, air mata ayah yang meleleh di kedua pelipisnya. Ya Tuhan. Betapa sakitnya yang telah ayah rasakan tadi. 

“Jadi kak, tanganku di dahi ayah tadi?”

“Boen End Jang adikkuuuu,“ sambar kak Dendang sambil menggandengku menjauh.

“Ayah sekarang dalam keadaan terhipnotis. Maksudku, tadi kakak pinjam tanganmu untuk menghipnotis ayah, karena dalam keadaan terhipnotis ayah tidak lagi merasakan sakit, biar saja beliau sekarang tenang, damai dan lelap. Cara membangunkannya, panggil saja dengan kata Ayah di telinganya. Oke?! “ 

Aku faham, kak Dendang tersenyum melihatku mengangguk-angguk.

“Jangan lupa pesan-pesan ayah, kita anak-anak ayah harus senantiasa rukun. Jika kamu rindu kakak, dimana saja kapan saja, cukup panggil namaku. Sekarang pesan kakakmu ini simpan dalam ingatanmu baik-baik. Mulai besok coba kamu buka-buka semua tulisan dan catatan-catatan ayah yang dua almari itu. Diseleksi, kakak yakin walau kamu sarjana sains kamu harus bisa ‘mengolahnya’. Kamu tulis lagi dan ceriterakan kepada semua orang yang suka membaca. Semoga obsesi dan ekspektasi ayah bisa menginspirasi dan dikenang banyak orang. Karena aku sering mendengar ayah menyebut namaku dan bicara sendiri sambil mengetik sampai pagi.  bla bla bla.“

Suara adzan subuh merambat masuk ke telingaku, aku bergegas menjenguk ayah yang masih lelap. Kak Dendang sudah tak nampak lagi. Betapa terkejutku ketika terpegang tangan ayah sudah sedingin timun di kulkas. Persis seperti ketika ibu mau wafat dulu. Mula-mula kaki ibu yang dingin merambat sampai paha, perut, dada.

Telingaku kutempelkan ke hidung ayah, masih ada nafas ayah walau sangat halus. Kepalaku seperti ditembaki peluru kepanikan, tanpa diperintah kedua kakiku melangkah ke  rumah bu dokter sebelah. Bu dokter yang masih mengenakan mukena pun tergopoh-gopoh untuk segera memeriksa kondisi ayah. Dengan sekali panggil, kak Dendang Jiwa pun berkelebat hadir, mengisyaratiku untuk membangunkan ayah.

“Bangun ayah,” panggilku di telinganya untuk membuka daya hipnotis itu. Tubuh ayah bergetar, terbatuk halus 2 kali. Seiring itu tiba-tiba cairan merah kehitaman meleleh perlahan dari kedua lubang hidung ayah. Dari kedua telinganya, bahkan dari kedua sudut mulutnya. Aku masih merasakan badanku berdebum di lantai, samar-samar masih tertangkap oleh telingaku gumam bu dokter.

“Inalillahi wa ina illaihi ro’jiuuunnnn, almarhum telah wafat kira-kira 3 jam yang lalu....”

Catatan:

Boen End Jang (Jawa halus) = Embun Pagi

Bertiwikrama = berubah wujud

Deli Tua medio Juni 2015

()

Baca Juga

Rekomendasi