Kesetiaan Jawara Tari

Terhadap Senilukis

Oleh: Azmi TS. MEMANG langka apabila ma­ha­guru seni pertunjukkan ja­go melukis, bahkan gaya ta­rikan kuasnya artistik pula. Ke­lihaian meracik tarian kolosal, juga diterapkannya ke dalam ben­tangan kanvas lukisan. Ha­silnya bentangan kreasinya ter­sebut tersaji ke dalam luap­an eks­presi dengan penuh pe­so­na tersendiri. Maestro tari bernama Bagong Kussudiar­djo alias Romo Gong mem­buk­tikan usia sepuh itu bukan­lah penghalang. Selama berka­rir di bidang seni dia telah me­lahirkan 200 koreo dan sudah pernah dipen­tas­kan­nya.

Selain itu dia juga ber­hasil menurunkan ta­le­nta­nya ke­pa­da anak­­nya. Dia juga ber­­hasil men­didik ca­lon se­ni­man tari, dari seluruh nu­san­tara. Dalam pade­po­kan tari di desa Kasihan Ban­tul, dia menggo­dok kreasi tarian art­is­tik­nya. Tak meng­­he­ran­kan tem­pat luas yang me­nam­pung seluruh anak didik un­tuk belajar tarian itu selalu ram­ai. Hasil kreasi tarian Ba­gong sempat menjadi langga­nan persiden Soeharto dan per­dana menteri Mahatir Moham­mad.  Biasanya kalau ada even  koreo tarian anggota padepo­kan­nya kerap mengisi acara ko­losal di istana presiden.

Koreo tarian tung­gal mau­pun massal menjadi sajian yang tak bosan di­ton­ton oleh ma­­­syarakat ketika mereka be­raksi. Selain bakat menari dia juga jago melukis misalnya tentang agresivitas tarian kla­sik Jawa.

Misalnya tentang ta­rian ku­da lumping (jaran ke­­pang), to­koh wayang semar, rang­da (to­peng ba­rong) dan sa­lib jadi fa­voritnya. Lukisan tentang itu terkadang tak hanya satu, tapi di­buat berseri ter­gantung kre­avitasnya. Tokoh semar dalam kisah pewayangan dikemas­nya secara karikatural humoris atau lukisan para pe­nari cantik yang ge­mu­lai, ceria dan ener­gik.

Tanpa disadarinya peristi­wa –peristiwa itu men­jadi daya kreativitas, yang bisa sewaktu diwujudkan menjadi lukisan.  Ki­prahnya di dunia senilukis ma­kin keterusan sampai dia ber­sama Saptoto (pematung), Kusnadi (kritikus), Sumitro (pe­lukis) mendirikan sanggar. Me­reka beradu kreasi dalam Sanggar Pelukis Indonesia, ber­samaan berdirinya ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia). Bagong Kussudiardjo dan rekannya tercatat sebagai ma­ha­siswa perintis pertama di AS­RI.  Saat ini  berubah nama­nya men­jadi ISI (Institut Seni Indonesia) berlokasi di Yog­yakarta.

Karya lukisan Bagong Kus­sudiardjo banyak mengisah­kan tentang gerakan tarian yang agresif dan itu sesuai de­ngan jiwa spon­ta­ni­tas­nya. Secara ke­be­tulan dia memang m­enguasai ge­rakan-gerakan ta­ri, sehingga tak merasa ke­su­litan memindahkan ob­jek lukisan itu.

Begitu pula te­baran warna eks­presi da­lam kanvas­nya me­nyi­rat­kan keingi­nan ku­at me­lestarikan bu­daya kla­sik Jawa agar tak punah. Keli­haian­nya me­mainkan kuas da­lam kan­vas mem­per­kaya genre penari ma­suk ke dalam lukisan. Ke­lincahan gaya penari Jawa kla­sik juga diper­lihatkannya da­lam karya-karya sketsa yang umum­nya hitam putih.

Keahlian itu juga turun ke anak-anaknya, Butet Kertare­djasa (pe­nyair) dan Djaduk Fe­rianto (pe­musik) wa­­laupun da­lam seni ber­beda. Lu­kisan ka­rya Bagong Kussudiardjo jus­tru sema­kin berkualitas di saat dia sudah berusia tujuh puluh ta­hu­nan.Termasuk sepuh, tapi da­ya agre­sivitasnya malah me­ningkat. Fisiknya boleh tua, ta­pi ide brilian tetap bisa me­nyaingi pemuda.

Bagong Kus­sudiardjo, pria ke­lahiran Yog­yakarta 9 Okto­ber 1928 dan meninggal 15 Juni 2004 di makamkan dekat kota kelahirannya. Dia adalah pen­dekar tari yang juga seo­rang jawara lukisan.

Semoga ada lagi generasi ber­ikut yang mengimbangi ki­prahnya itu, paling tidak dari ha­sil karya lukisannya. Para pe­nari kuda lumping dan se­te­rusnya itu adalah membentuk se­buah genre kreasi jawara ta­ri. Genre lukisan tarian ini menunjukkan simbolik keseti­a­an “Romo Gong” kepada bu­dayanya sendiri. Itu menafsir­kan dua artistik berbeda  me­nyatu dalam satu genre lukis­an. Semua itu hanyalah demi kecintaan beliau pada propesi yang sudah menjadi nadi sela­ma kehidupan yang dilaluinya berlangsung.

()

Baca Juga

Rekomendasi