Kepedulian Merawat Para Lansia

Oleh: Muhammad Arifin. DIKISAHKAN, Chiang Kek, seorang pemuda yang menggendong ibunya lari di masa perang dan para penjahat pun iba kepadanya. Kisah tersebut tergambar di sudut tempok Panti Jompo Taman Bodhi Asri (Taba).

Ada juga kisah Wek Ti, seorang gubernur yang berbakti kepada orangtuanya. Bahkan setiap obat untuk orangtuanya selalu dicicipnya. Kisah Chua Sun seorang pemuda yang berbakti, yang senantiasa membantu ibunya dalam hidup yang serba kekurangan juga ikut menghiasi dinding. Tulisan dan gambar memiliki makna yang tersirat agar semua manusia peduli terhadap orangtunya.

Panti Jompo Taba berada di Dusun 15 Desa Muliarejo, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang atau di kawasan Jalan Medan-Binjai Km 13,8 dan memiliki luas 5,8 hektar.

Keberadaan panti ini dinilai sangat membantu para lanjut usia (lansia). Ketika tidak lagi produktif, tidak bisa beraktivitas maksimal, bahkan mungkin ada keluarga yang tidak memperdulikan. Mereka bisa hidup layak, mendapat perhatian dengan baik, tidak hanya kesehatan fisik tetapi mental juga dibimbing.

Siang itu, Kamis (26/1). Sebanyak 64 orang lansia duduk dengan rapi. Ada yang datang menggunakan kursi roda (didorong), berjalan menggunakan alat bantu, sebagian malah melenggang sendiri. Siang itu, mereka mendapat bantuan makan dari seorang donatur. Saat hendak makan, seorang lansia memimpin doa dalam agama Budha.

Meraka lahap menyantap makan sumbangan tersebut, sebagian terpaksa harus disuapi para perawat dan pembantu. Ada juga yang disuapi anaknya sendiri.

Kehidupan di panti jompo itu benar-benar memuliakan manusia. Di usia lanjut, para penghuni panti mendapat perhatian yang baik. Mulai dari fasilitas tempat yang nyaman, asri, bersih, dan fasilitas kesehatan juga tersedia lengkap. Fasilitas ruang fisioterapi. Dokter jaga yang bekerja Senin-Sabtu dan perawat yang bekerja 24 jam. 

Untuk tempat tinggal terlihat sangat permanen, di lokasi yang masih jauh dari kebisingan ditambah suasana yang masih asri. Ada danau kecil dihiasai tanaman perdu yang subur. Kondisi ini membuat para penghuninya menjadi betah.

Kebersihan pun sangat terjaga. Keseriusan pengelola panti berbuah manis. Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan atas rekor Kawasan Perumahan Panti Jompo Terluas yang Dibangun atas Swadaya Masyarakat, Maret 2015. Bahkan, Ketua Yayasan, Kentjana Salim juga mendapat penghargaan atas rekor Pengabdi Kemanusiaan Paling Aktif, Dedikatif dan Konsisten, pada 2008.

Bekerja di panti jompo memang harus ikhlas. Apalagi menghadapi para lansia yang memang sifatnya kembali seperti anak-anak, selalu ingin mendapat perhatian.

Beberapa perawat di sana, Umi Kalsum (perawat di ruang fisioterapi), Risman (perawat senior), dan Ijun (pembantu perawat) menuturkan kepada Anaisa. Risma mengaku, ada 7 perawat yang bekerja untuk menangani para penghuni panti jompo. Mulai dari memandikan dan merawat kesehatan penghuni panti.

Jika ada yang sakit, mereka membawa lansia ke klinik. Jika kondisinya parah, maka dirujuk ke rumah sakit. Tetapi, jika hanya sakit ringan dan butuh istrahat, biasanya para perawat memberi infus.

Ikhlas

Tidak hanya mengecek kesehatan, Risma dengan penuh kesabaran menyuapi para lansia yang sudah tidak bisa makan sendiri. Dua tahun mengabdi, Risma terlihat begitu bahagia.

Hal senada disampaikan Umi Kalsum. Perawat yang bertugas di layanan rehabilitasi medik (fisioterapi) dengan peralatan yang lengkap, setiap pagi menangani 10 orang lansia yang datang. Terkadang ia sendiri yang mendatangi ruangan para lansia yang butuh penangan serius. Misalnya tidak bisa bergerak, tidk bisa berbicara, dan lainnya. 

"Kalau memang tidak bisa bergerak, cepat kita tangani. Kebanyakan di sini stroke, penyakit rematik, asam urat, nyeri pada pinggang belakang, dan ada yang trauma karena jatuh," ucapnya. Sebagai perawat di panti itu, Umi Kalsum mengaku bekerja harus ikhlas karena jika tidak bisa gila.

Pekerja lainnya, Ijun, yang rumahnya tidak jauh dari panti itu, mengaku sudah setahun lebih mengabdikan diri mengurusi para lansia. Setiap hari dia memandikan dan memberi makan para lansia seperti mengurus orangtua sendiri. "Kalau yang ini enak, Bang. Orangnya suka makan," ucap Ijun sambil menunjukkan seorang lansia yang disuapinya.

Sementara Elli ditemani anaknya mendampingi ibunya, Loh Ahong. Ibunya baru sekitar sebulan di panti jompo tersebut. Dia mengaku diajak anggota Ketjana Salim/Bie Bie. Saat itu, dirinya bersama ibunya luntang-lantung mengemis di sejumlah sudut Kota Medan.

"Awalnya, kami mengemis. Saat itu, memang kondisi benar-benar susah. Mamak mengemis karena ingin membayar utang adikku yang kini pergi ke Tanjungbalai. Akibatnya, mamakku tidak mau makan, begitu juga saat awal di panti,” katanya. 

Setiap makan selalu ada yang disisihkan. Katanya, untuk anak yang pergi itu. “Sayang, adikku tidak pernah datang. Aku minta agar dia menjenguk ibu di sini," tuturnya.

Dia mengaku, tinggal bersama ibunya di panti itu secara gratis, yang penting mau ikut merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. "Pak Bie Bie bilang kami kerja di sini, makan dan semua gratis sambil menjaga mamak ya," ucap Elli yang mengaku sangat berterimakasih.

Mewakili pengurus yayasan, Abok mengatakan, awalnya Taba dibangun 2010 di atas lahan 2 hektar dan kini luasnya 5,8 hektar. Bangunan yang dibangun semula hanya kamar untuk panti jompo dan ruangan makan. Dengan banyak donasi, fasilitas pun dilengkapi, ruang meditasi, vihara, ruang serba guna, serta menambah fasilitas kesehatan dan lainnya.

Perkembangan panti, imbuhnya, tidak terlepas dari bantuan masyarakat. Dana yang terkumpul dikembalikan untuk kepentingan masyarakat. Bahkan jika donatur menginginkan namanya ditulis di dinding depan kamar, pihak yayasan pun memenuhi hal itu. Bahkan, ada seorang donatur yang menyumbang dua blok atas nama orangtuanya.

Tidak Mampu

Saat ini, ada 64 orang penghuni panti yang mayoritas sosial. Artinya mereka benar-benar berasal dari masyarakat tidak mampu dan tidak membayar. Diambil dari pinggir-pinggir jalan dan seluruh kebutuhannya ditanggung pihak panti.

Untuk menutupi biaya operasional yang begitu besar, pihak panti membuat aturan pilihan. Untuk penghuni kelas ekonomi membayar Rp2,5 juta per bulan. Sedangkan yang VIP, Rp5 juta per bulan. "Tetapi, yayasan ingin penghuni panti ini harus banyak, sekitar 70 persen dari kalangan orang-orang tidak mampu,” katanya.

Abok mengaku, untuk memenuhi kebutuhan para penghuni panti biayanya tidak sedikit dan memang diperlukan donatur. Untuk kebutuhan konsumsi saja, makan 3 kali sehari, ditambah makan ringan setiap sore dengan bubur kacang hijau dan lainnya. Pengurus yayasan juga harus membayar honor dokter, perawat, pembantu perawat, tukang kebun, tukang masak, dan satpam. 

Banyak yang harus ditanggung membuat pengurus yayasan harus bekerja ekstra keras mencri para donatur yang mau berbagi. "Lihat saja mereka. Belum lama ini dijemput dari pinggir jalan. Karena sudah tua, mengemis dan hidupnya tidak tentu arah. Maka kami langsung membawa ke panti. Kini, mereka tinggal bersama anak dan cucunya. Bahkan cucunya juga ditanggung biaya pendidikannya. Semua itu dilakuakan demi rasa kemanusiaan," ucap Abok.

Abok mengaku, awalnya sempat bingung mengurus para lansia. Tidur bahkan tidak nyenyak karena ditelpon malam-malam saat penghuni panti ada yang sakit atau berulah.

()

Baca Juga

Rekomendasi