Kemiskinan dan Filosofi Kehidupan

Oleh: Nevatuhella.

Rilis data Badan Pusat Statistik ter­baru, jumlah orang mis­kin selama enam bu­lan, yakni dari September 2016 hing­ga Maret 2017 bertambah 6.900 orang. Jumlah ini makin menguat­kan pe­me­rin­tah belum mampu merea­li­sa­sikan janji-janjinya untuk mensejah­te­ra­kan seluruh rakyat. Bahkan Indeks Ke­da­laman Kemiskinan meningkat dari 1,74 menjadi 1,83. Bersamaan pula kenaikan Indeks Keparahan Kemiskinan yang makin tinggi dari 0,44 menjadi 0,48.

Sayang sekali BPS tidak mengumum­kan secara terbuka kepada publik jumlah pe­ningkatan orang kaya bersamaan de­ngan pengumuman jumlah orang miskin. Perlu diketahui, per­tambahan jum­lah orang kaya setiap tahunnya men­capai 100 persen. Kekayaan yang di­mi­liki tiap orang kaya ini rata-rata sebesar 30 juta do­lar AS.  Bahkan ada 192 orang In­do­nesia tercatat sebagai Cen­ta Millionaires dengan kekayaan di­atas 100 juta dolar AS. Sedangkan yang Milliarder, ada 24 orang dengan kekaya­an mencapai 150 juta dolar AS.

Maka tak pelak, kesenjangan yang terjadi antara si miskin dan si kaya sangat jauh. Orang miskin yang jumlahnya 27,77 juta jiwa rata-rata berpenghasilan Rp 300-400 ribu perbu­lan­nya. Sementara si kaya penghasilannya Rp 5-10 juta per­bu­­lan­nya. Ini dua angka yang sangat akro­­batik. Sementara harga kebutuhan pokok sama di pasaran. Kalupun kita bisa ber­kilah, si miskin kan dapat beras de­ngan harga terendah di dunia, dan ber­bagai macam tambahan bantuan keua­ngan lainnya dari pemerintah, itu tidak se­berapa di banding penghasilan orang kaya tadi.

Sibuk-sibuk kementerian yang terkait de­ngan melonjaknya har­ga daging sapi, merupakan berita yang datang dari negeri asing bagi orang miskin. Yang namanya da­ging, susu, keju, buah-buahan, beras ber­kualitas adalah asing bagi orang mis­kin. Orang miskin Indonesia itu makan da­ging sekitar 5 kali setahunnya. Pada Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri. Tiga kali lagi pada pesta tetangga yang kaya raya. Anak yatim yang lumayan, mung­kin bisa sepuluh atau lima belas kali makan daging. Selalu diundang oleh orang-orang kaya yang bersedekah.

Lalu bila dikaitkan dengan filosofi kehidupan, bagi orang-orang yang selalu mencari kebenaran (true minded) miskin atau kaya, satu kebetulan saja. Bukan alasan menjadi kufur dan teraniaya. Orang beragama menyebut, mengambil berkah dari keadaan ataupun kejadian yang ada.

Sebuah cerita, pada suatu hari, akibat re­petan isterinya yang sudah tak ter­ta­hankan, bapak filosofi umat manu­sia Soc­rates, meninggalkan rumah. Ia pergi ke pasar memperhati­kan orang-orang yang berbelanja. Apa yang dida­pat­nya dari pasar? “Ternyata sedikit se­kali apa yang kuperlukan dalam hidup ini!” gu­mamnya. Ia pulang ke rumah dengan hati senang. Maksud pengalaman So­crates ini tentunya banyak sekali apa yang kita miliki sebagai kemubaziran, atau kesia-siaan. Coba kita perhatikan, anda punya deposito milyaran rupiah di bank. Lalu sekian ratus orang kekura­ngan makan dan minum. Apa tak kesia-sia­an yang dimiliki itu. Seyogianya uang yang anda mi­liki itu sebagai ladang amal atau kebaikan anda. Dan me­nurut ajaran aga­ma, sebaliknya uang yang anda mi­liki itu akan memasukkan anda ke ne­raka kelak karena kemuba­ziran­nya. Ten­tunya kajian ini tidak berlaku untuk orang-orang yang tidak beragama. Untuk orang-orang yang punya idealisme ma­terialistis ini menjadi anutannya. Kita yang beragama yang mengatakan ada orang rakus, orang keji dan sebagainya.

Nah, tentang orang miskin di negeri kita ini, sebenarnya banyak jalan men­se­jah­terakannya kalau mau. Berpulang pada mental dan filosofi orang-orang kaya dan orang-orang yang berkuasa.

Pemerintah semestinya punya gagas­an dan motivasi yang kuat untuk adil dan menjalankan keadilan. Seorang presiden di sebuah negara yang sentralistik seperti Indonesia ini harus seorang yang punya kearifan semesta. Punya rasa keadilan yang mendalam. Jauh dari lubuk hatinya bertekad berpikiran adil. Kalau kita contohkan presiden-presiden kita terda­hulu yang pekerjaannya selama jadi Pre­siden sudah dapat kita lihat. Apa mereka punya rasa keadilan yang kuat dan hebat. Ke­lihat­annya tidak!

Para pemimpin kita terdahulu belum bisa dikatakan sebagai bapak dan ibu bangsa yang berhasil. Mere­ka masih terlibat korupsi, sedikitnya memanfaatkan kekuasaan untuk memper­kaya diri sendiri dan mem­per­kaya keluarga. Sulit dan hampir dikatakan tidak ada pemimpin Indonesia sekarang, ataupun generasi mu­da yang bisa menempati posisi pre­siden yang punya rasa berke­adilan super hebat. Bahkan yang muda-muda terlibat korupsi. Semua kesam­bet penyakit pendahulunya, korupsi stadium kronis.

Revolusi mental ala Jokowi, pinomatlah sekarang ada nama atau judulnya. Dari judul ini setidaknya menyiratkan kehendak yang mulia. Dimulai dari mental baik manusialah segala sesuatu akan baik. Memba­yang­­kan seorang Jokowi diantara ratusan bahkan ribuan penjilat, pe­ngam­pu, penggila harta dan penggila perempuan, betapa besarnya tantang­an yang dihadapinya. Lain lagi diseluruh pelosok tanah air, setiap orang yang diberi kuasa sekecil apapun sudah bermental korup.

Ada dua pemodelan Indonesia kini. Model yang pertama adalah golongan si miskin. Yang setip hari bergelut mencari sepiring nasi dan segelas air bersih. Sejumput ikan teri sambal dari jenis ikan teri paling murah.

Di dipan atau meja buruk tertum­puk semangkuk mie instan untuk lauk teman nasi. Anak-anak berang­kat se­kolah dengan isi perut keropos oleh mo­no sodium glutamat (MSG). Mem­­­ba­wa beban di bahu seonggok buku paket yang tebal dan berat bagi tu­buhnya. Hiburan mereka Upin&Ipin, Mas Jarwo dan Boboi Boy yang lucu dan menggembirakan nurani mereka yang masih suci dan polos.

Laki-laki dengan sebatang rokok berkadar nikotin tinggi, terduduk di warung memandang mobil-mobil melintas. Orang­-orang bersepeda motor dengan debu yang mengarak­nya. Di rumah menunggu segantang beras raskin hadiah pe­merin­tah.

Pemodelan orang Indonesia ke­dua, golongan kaya. Di atas meja makan, untuk sarapan sudah tersedia sepiring nasi goreng dari minyak samin. Telur dadar, steak dan emping Aceh yang lemak dan gurih. Segelas susu fresh tersedia di gelas ukuran besar. Setangkup roti dalam porselen menyemarakkan meja makan. Leng­kap dengan selai berbagai rasa. Rasa strawberry yang paling dige­mari anak-anak sedunia, rasa coklat, rasa nenas juga. Ada lagi dalam kulkas sisa pizza dan burger tadi malam yang siap diambil sesukanya. Buah-buahan segala macam siap dimakan karena sudah steril dan higenis.

Makan siang nanti, golongan orang ini akan makan di restoran. Anak anak di pesankan atau diantar ma­kanan empat sehat lima sempurna. Di sekolah yang super mewah mere­ka berteriak-teriak kegirangan ka­rena guru yang profesional di bi­dang­nya. Begitulah fakta yang dapat kita saksikan sekarang ini. Orang-orang miskin menyaksikan episode kehidupan orang-orang kaya ini. Sementara si kaya sama sekali tidak mau ambil peduli.

Pada akhirnya, kita berharap semoga pemerintah dari para pengu­asa mau secara pribadi mematangkan kemanusiaannya lewat filsafat dan agama yang dianutnya. Lihatlah kesemua arah dalam hidup ini. Kalau memang sudah terdaftar sebagai ma­nusia tercela, ya bertaubatlah. Jangan tunggu nasi menjadi bubur. Misalkan sajalah kemiskinan sau­dara-saudara sebangsa anda itu da­tang dari langit, maka tugas andalah mengurainya menjadi kein­dahan yang menyu­burkan iman. Memberikan apa yang anda miliki, bermilyar-milyar jum­lah­nya, yang sebe­nar­nya adalah pin­jaman dari pemilik sejatinya.

Mari belajar dari Socrates, para nabi dan orang-orang suci yang per­nah ada di bumi yang maha megah dan indah ini. Mak­sudnya tentu tidak melulu menyalahkan orang-orang kaya.  Bagaimana peme­rintah ber­usa­­ha sekuatnya menanam­kan rasa keadilan berdasarkan kasih sayang sesama manusia. ***

Penulis adalah esais, pengamat kebijakan publik.

()

Baca Juga

Rekomendasi