Pohon dari Berteduh Sampai Bernafas

Oleh: Fadmin P Malau

Pohon, multifungsi. Pada 21 November selalu diperingati sebagai Hari Pohon dengan memaknai pohon sebagai sumber dari kelestarian lingkungan hidup. Namun, sesungguhnya hampir semua suku bangsa di Indonesia menilai dan melihat pohon multi­fungsi yang universal, termasuk suku Batak. Negara Indonesia berada di daerah tropis sehingga berbagai jenis pohon-pohonan tumbuh subur, berbagai macam tumbuh-tumbuhan ada dan berbagai jenis hewan ada.

Banyak yang tidak tahu Kota Tarutung, ibukota Kabupaten Tapanuli Utara berasal dari nama pohon Tarutung. Memang dalam literatur ilmu pertanian (botani) tidak dite­mukan pohon Tarutung sebab Tarutung arti­nya Durian (asa Batak).

Pohon Tarutung adalah pohon Durian. Bila disebut pohon Durian pasti banyak orang mengetahuinya, sebab buah durian rasanya luar biasa. Rasanya enak dan lezat, makyuss!

Kota tua Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah tempat kelahiran penulis juga berasal dari nama Pohon Kapur Barus yang terkenal ke penjuru dunia. Kota Sibolga juga dari nama pohon Boga. Kota Binjai berasal dari nama sebatang Pohon Binjai (Mangifera caesia) yang batangnya besar tumbuh di tepi Sungai Bingai dan di sekitar pohon Binjai itu tumbuh menjadi kota.

Nama pohon tidak saja menjadi nama kota tetapi juga nama desa/kelurahan/keca­matan untuk hampir semua daerah di Indonesia. Nama Kelurahan Gaharu di Kecamatan Medan Timur berasal dari nama pohon Ga­haru. Kemudian Kampung Durian di Medan Timur dari nama pohon Durian. Kelurahan Gelugur dari nama pohon Asam Gelugur. Kelurahan Jati dari nama pohon Jati.

Kemudian Kelurahan Menteng di Medan Denai berasal dari Pohon Menteng (Baccau­rea racemosa) tumbuhan berbatang keras dan berbuah menyerupai buah duku, rasanya masam manis dan banyak lagi desa/kelurahan di Kota Medan berasal dari nama pohon.

Bukan saja di Medan tetapi diberbagai kota lainnya di Indonesia seperti di Jakarta banyak berasal dari nama pohon. Menteng menjadi nama Kecamatan di Jakarta Pusat, sebuah kawasan elite tempat pejabat dan artis bermukim dari nama pohon Menteng dan memang dahulu tumbuh subur Pohon Menteng di daerah itu.

Nama daerah Muara Kapuk di Jakarta yang kini menjadi kompleks perumahan super mewah Pantai Indah Kapuk (PIK) juga berasal dari nama Pohon Kapuk Muara (Ceiba Pentandra). Begitu juga dengan daerah Gandaria, Cilandak di Jakarta Selatan berasal dari nama Pohon Gandaria Cilandak (Bouea macrophylla)

Sama halnya dengan Kota Medan, di Kota Jakarta juga banyak nama kelurahan dari nama pohon seperti Kelurahan Cempaka Putih (Michelia alba), Kelurahan Gambir, Kebon Kelapa (Cocos nucifera), Kebon Rambutan, Kebon Siri, Mangga Dua, Kebon Kacang dan yang lainnya.

Tempat tumbuhnya dan fungsi pohon

Berdasarkan asal usul nama kota/kelu­ra­han/desa itu muncul berdasarkan nama pohon yang banyak tumbuhsubur di daerah itu maka dibuatlah nama daerah itu berdasarkan nama pohon yang ada.

Sama halnya dengan Kota Tarutung karena banyak pohon Durian maka masyarakat setempat kala itu memberi nama daerah itu menjadi Kota Tarutung. Buktinya sampai kini masih tumbuh subur pohon durian di kota Tarutung.

Masyarakat Tarutung perca­ya, asal muasal nama Kota Tarutung dari pohon Tarutung. Ceritanya 200 tahun lalu, di bawah pohon durian yang kini berada tepat di depan rumah dinas Bupati Tapanuli Utara itu para pedagang dari berbagai kecamatan bertemu untuk berdagang hasil bumi yang dahulu dikenal dengan barter (tu­kar-menukar barang dagangan, terutama hasil bumi).

Lokasi tempat bertemunya para pedagang hasil bumi di bawah pohon Tarutung (durian) di depan rumah dinas bupati Tapanuli Utara itu berdiri pohon Tarutung (durian) yang usianya sudah ratusan tahun. Konon ceritanya pohon durian yang ada sekarang adalah pohon durian yang ada dahulu. Jadi usia pohon Durian itu sudah berusia 200 tahun lebih.

Pohon durian di pusat kota Tarutung itu memang luar biasa dalam segi usia. Sulit dijumpai ada pohon durian berusia 200 tahun lebih berada di tengah-tengah keramaian, pemukiman dan aktivitas manusia. Boleh jadi ada pohon durian berusia ratusan tahun akan tetapi berada di tengah hutan. Ekosistem mendukung dari keberadaan pohon durian itu.

 Bermula, dahulu rindang pohon Durian itu, tumbuh subur di lokasi itu membuat tem­pat orang-orang berteduh, berkumpul dan lantas muncul ide untuk melakukan transaksi jual-beli (berdagang) yang waktu itu belum ada pasar khusus berdagang. Wajar jika ada pohon rindang, terlindung dari sinar matahari, sejuk dan nyaman dijadikan tempat berda­gang.

 Kehadiran berbegai jenis pohon bagi suku Batak memiliki makna dan kekuatan tersendiri yang dinilai bila berada di bawah pohon itu sangat tepat untuk menyelesaikan perseli­sihan, satu perkara. Hampir sama maknanya dengan ruang Pengadilan saat ini. Pohon yang dinilai suku Batak sangat baik sebagai tempat menyelesaikan perkara disebut pohon Hariara.

Pohon Hariara banyak tumbuh di desa-desa Tapanuli ini juga awalnya lokasi pema­kaman yang baik seperti tambak. Melihat makna dari pohon Hariara itu tidak heran setiap orang melintas di seputaran pohon Ha­riara selalu berlaku sopan, tidak berani bicara kasar, kotor, memaki karena diyakini bisa mendapat bala. Pohon Hariara dikera­matkan sehingga sesuatu keputusan yang diputuskan dibawah pohon Hariara sesuatu yang keramat, sakral maka keputusan itu harus dilaksanakan karena dinilai satu kepu­tusan yang sakral.

Pohon bagi masyarakat Tapanuli, mulai dari tempat berteduh, tempat berdagang, men­jadi nama kota, tempat menyelesaikan per­kara, sampai tempat peristirahatan terakhir (makam) disamping fungsi-fungsi lain dalam hidup kehidupan manusia sekarang ini.

Bicara fungsi pohon sudah sangat banyak yang mengetahui dan meng­kajinya. Pohon berfungsi menahan laju air. Hal ini berdasarkan penelitian bahwa hutan mampu menyerap air ke dalam tanah sampai 60-80 persen. Artinya pohon mampu meningkatkan cadangan air tanah. Akar pohon juga berfungsi mencegah erosi tanah.

Pohon mampu menjaga kesuburan tanah sebab air hujan tidak langsung jatuh ke tanah sehingga lapisan tanah berhumus tidak tergerus membuat tanah menjadi subur. Faktanya bila permu­kaan tanah banyak ditanami pohon maka butir-butir air hujan tidak langsung kepermukaan tanah tetapi ditahan daun, ranting dan batang pohon.

Pohon menghasilkan oksigen dan menyerap (mengurangi) karbon­diok­sida). Oksigen adalah gas yang diper­lukan manusia dan hewan untuk bernapas. Faktanya pohon melakukan fotosintesis yang menghasilkan gas oksigen dan gula. Hebatnya pada saat melakukan fotosintesis tanaman meng­hisap gas karbondioksida yang beracun. Masih berdasarkan data penelitian setiap 1 hektar hutan tropis bisa mengubah 3,7 ton CO2 menjadi 2 ton O2.

Faktanya, pohon mampu men­ciptakan lingkungan yang nyaman sebab pohon yang rindang membuat rasa nyaman, sejuk, mencegah kebisi­ngan, rasa panas dan membuat keinda­han pemandangan. Dari rasa nyaman itu karena bebas dari pencemaran udara. Begitu banyak fungsi dan manfaat pohon. Namun, mengapa manusia masih enggan menanam pohon dan peringatan Hari Pohon setiap tahun umumnya diisi dengan acara sere­monial menanam pohon. Sayangnya masih sedikit yang menanam. dan setelah itu berlalu begitu saja. ***

Penulis Pengurus Majelis Lingkungan Hidup PW. Muhammadiyah Sumatera Utara, Dosen Fakultas Pertanian UMSU Medan.

()

Baca Juga

Rekomendasi