Oleh: Tohong P Harahap
KABUPATEN Padang Lawas Utara (Paluta) memiliki berbagai keindahan alam dan potensi pariwisata yang menarik untuk dikunjungi. Sangat disayangkan, potensi tersebut kurang dimanfaatkan dan kurang diminati oleh warga pada saat momen libur Idulfitri.
Seperti objek wisata Candi Bahal di Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Selama libur Idulfitri kurang diminati dan minim dikunjungi wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisawatan dari luar Paluta
Pantauan wartawan, sejak lebaran pertama Minggu (25/6) hingga lebaran ketiga Selasa (27/6) kemarin, jalan lintas Gunungtua- Portibi atau sebaliknya terlihat minim mobil pribadi, mobil truk dan sepeda motor menuju ke arah Candi Bahal Portibi.
Salah seorang pengunjung Irdan Harahap (45), kepada Analisa, mengaku sengaja datang ke Candi Bahal dari Desa Padanghunik bersama keluarganya untuk mengobati rasa penasaran istri dan anaknya untuk melihat langsung kemegahan Candi Bahal.
"Mumpung sekarang bisa pulang kampung, sekalian saja saya membawa mereka jalan-jalan ke sini. Soalnya mereka penasaran sekali ingin melihat langsung kemegahan Candi Bahal dan Buah Balakka yang tumbuh menghiasi Candi Bahal,” katanya.
Dia berharap pemerintah daerah untuk memperhatikan objek wisata Candi Bahal tersebut, dengan memperbaiki beberapa fasilitas pendukung agar benar-benar disukai pengunjung baik mancanegara dan domestik. Dia telah melihat langsung kemegahan candi bahal ini, namun sangat disayangkan beberapa fasilitas pendukung yang ada di sekitar Candi belum dibenahi dan diperhatikan oleh pihak terkait.
“Kita berharap semoga Pemda Paluta benar-benar serius memperhatikan dan membenahinya sehingga dapat menambah PAD dan nanti benar-benar di sukai wisawatan," ungkapnya.
Senada disampaikan Agustina Siregar (30), yang mengeluhkan infrastruktur jalan yang berlubang menuju objek wisata Candi Bahal ini. Selain itu, lanjutnya, fasilitas di kawasan wisata itu juga minim, seperti penginapan, pusat informasi, sanitasi serta fasilitas pendukung lainnya.
"Jalan menuju lokasi wisata candi sudah banyak sekali yang berlubang dan rusak. Selain itu, tidak ada lampu penerangan jalan, sehingga jalur tersebut rawan kecelakaan,” katanya.
Agustina menilai pemerintah daerah juga punya andil besar dalam menjaga kelestarian dan memajukan aset kebudayaan yang ada saat ini. Misalnya dengan membuat akses jalan yang lebih bagus dan beraspal menuju obyek wisata Candi Bahal. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah untuk menuju ke lokasi tersebut.
Selain itu, jika akses jalan sudah bagus, obyek wisata candi akan sering dikunjungi oleh wisatawan setiap harinya. Coba dibayangkan betapa ruginya daerah ini, dan masyarakat akibat sejuta pesona objek wisata ternyata tidak menarik minat warga untuk dibuat liburan, karena kurangnya sentuhan dan polesan terhadap pariwisata itu.
Padahal jika fasilitas mendukung di tempat obyek wisata baik wisata sejarah dan alamnya di wilayah Paluta, para warga Paluta tidak akan berbondong-bondong memilih berlibur ke luar kota dengan tujuan Sibolga, Parapat, Berastagi dan Medan.
Selain itu, candi atau biaro yang berdiri tersebut merupakan kekayaan budaya yang nilainya cukup tinggi, dan layak dijual sebagai objek wisata keberbagai negara.
Promosi wisata budaya harus terus digencarkan untuk menarik minat wisatawan dalam maupun manca negara. Hanya sayangnya belum ada literatur memadai yang bisa didapat pengunjung kalau mengunjungi candi-candi indah itu.











