Marsoban

Oleh: Roy Martin Simamora. Soban dalam bahasa Batak berarti kayu bakar. Parsoban­an merupakan kata yang merujuk pada tempat mencari soban (kayu bakar). Sedangkan kata marsoban adalah kata kerja yang berarti mencari kayu bakar. Marsoban adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang Batak pada masanya dan mungkin masih dilakukan hingga sekarang (hanya pada daerah tertentu saja). Marsoban tak hanya ke­giatan mencari kayu bakar semata, tetapi menyimpan sebuah interaksi sosial kemasyarakatan yang amat kuat antarsesama manusia.

Bahkan, ada banyak tembang lagu yang mengulas tentang soban. Pada bait-bait lagunya tersemat kata soban. Dari anak-anak hingga orang dewasa turut serta melan­tun­kan lagu-lagu itu. Dimana-mana. Di lapo tuak hingga ke kafe-kafe di penjuru kota; dari satu pesta perni­ka­han hingga pesta-pesta besar lainnya. Sebut saja lagu Marok­kap dung Matua karya Eddy Silito­nga, lagu Diparsobanan yang dipopu­lerkan oleh Marsada Band serta lagu-lagu lainnya yang turut me­nye­mat­kan kata Soban, Marsoban, ataupun Parsobanan dalam setiap bait lagu­nya.

Sejak kecil, saya suka mencari soban di hutan-biasanya disebut tombak-bersama teman atau sanak saudara. Kegiatan itu dilakukan sepulang dari sekolah. Lazimnya, soban yang diambil dari tombak adalah soban yang sudah tua dan kering, patahan reranting pohon yang jatuh, atau sisa tebangan pohon yang telah lama dibiarkan menge­ring. Bukan sekedar mar­soban se­mata, marsoban menjadi ruang bagi parsoban(orang yang mencari kayu bakar) untuk berin­ teraksi satu sama lain. Bercakap-cakap seraya mencari soban yang kering diantara semak belukar atau dibawah timbu­nan daun kering yang basah oleh hujan kemarin malam.

Tiap parsoban punya cerita se­lingan. Ada yang melempar canda, humor, bermain tebak-tebakan (hutissa) masa kecil yang tidak bisa lekang dalam ingatan saya. Bersen­da gurau, canda-tawa adalah eks­pre­si jiwa pada diri manusia, apa­lagi ditengah hutan yang sejuk, ha­nya ada suara bebu­rung dan "nya­nyian alam lainnya." Melupakan keruwetan hidup yang penuh luka, pilu sendu yang begitu pahit. Jika di kota orang-orang mencari kenya­manan dan ketenangan di kafe-kafe, dite­ngah kerasnya zaman yang tidak bisa diprediksi keda­ta­ngannya. Kaum urban yang kadang diliputi depresi dan stress luarbiasa. Marso­ban, barangkali adalah antite­sis dari kehidupan kota yang dipe­nuhi manusia-manusia modern yang sedang dilanda kegalauan hi­dup dan rumit. Bagi saya, ke tom­bak adalah sebuah kenis­cayaan demi melepas segala kepenatan dalam diri, merenung dan menik­mati nyanyian alam.

Marsoban tidak mengenal batas waktu, batas usia. Aktivitas itu bisa dilakukan oleh siapa saja, baik muda ataupun tua. Jika soban sudah terkumpul dari tombak, ia kemu­dian dikumpulkan pada satu tem­pat. Panjang-pendeknya soban ber­va­riasi. Ada yang bisa mencapai panjang dua meter atau malah kurang dari satu meter. Jika mele­bihi kebutuhan, biasanya akan dipotong pendek-pendek dengan ukuran yang sama sebelum dibawa pulang ke rumah. Soban-soban itu lalu diikat dengan tali yang terbuat dari kulit kayu yang sudah dibuat sedemikian rupa. Kulit kayu yang dipercaya mampu bertahan lama, apalagi hingga kering. Soban-soban itu lalu direkatkan kuat agar tidak terlepas dari temali ketika diangkat.

Soban-soban yang sudah dikum­pul dari tombak selanjutnya dibawa pulang. Bisa sampai tiga kali bolak-balik karena terlalu banyak soban. Jadi mesti diantar semampunya saja. Beban kayu yang ringan atau­pun berat memang tak jadi persoa­lan. Se­­mua punya tugas masing-masing. Anak-anak mem­bawa so­ban yang ringan-ringan, sedangkan yang lebih tua, otot yang kuat dan tubuh yang proporsional membawa beban yang luma­yan berat. Jika waktu marsoban telah usai, setiap orang kem­bali pulang ke rumah, melintasi jalanan basah, penuh ilalang, ranting-ranting kecil yang suatu waktu menghalangi jalan pulang.

Sepanjang jalan, parsoban masih asyik bercakap-cakap tentang apa saja. Seolah-olah sebuah isyarat melupakan beban yang dipanggul di atas kepala maupun pundak. Interaksi sosial tidak berakhir disitu. Jika beruntung, parsoban mungkin bertemu dengan parso­ban-parsoban lain, atau parjuma (petani) yang kebetulan melintas dari jalan yang sama. Tersenyum satu sama lain, menanyakan kabar atau sekedar berbasa-basi. Di jalan parsoban masih dengan kesibu­kannya, se­dang­kan hari sudah mulai malam. Setibanya di rumah, soban-soban yang ditaruh pada satu tempat. Bia­sanya ditaruh di sam­ping rumah yang penuh pula de­ngan soban-so­ban lain. Esok hari­nya, soban-soban itu diperiksa kem­bali. Jika soban masih basah, atau belum ter­lalu ke­ring, dijemur kembali diterik mata­hari. Soban-soban besar biasa­nya dipotong-potong menjadi ba­gian-bagian kecil agar bisa digu­nakan untuk perapian. Soban-soban kecil langsung diper­gunakan untuk ke­per­luan sehari-hari, seperti me­ma­sak, atau dijual ke­pada pendu­duk yang mem­butuh­kan kayu bakar.

Ada pula yang membawa soban-soban untuk keperluan di sopo yang ada di juma (ladang-beberapa tem­pat berbeda penye­butannya). So­ban-soban itu biasanya dipakai untuk ke­per­luan membakar ikan kepala batu ataupun sekedar mem­buat perapian di tataring guna menghangatkan diri jika musim penghujan telah tiba. Ada keper­cayaan, timus (asap) yang dihasil­kan dari perapian berfungsi menga­wetkan atap-atap rumah. Marsoban itu memiliki filosofi yang dalam. Bisa dilihat saat pertama kali me­nyalakan apinya, sangat sulit sekali bisa membuat sobannya menyala. Terkadang saat apinya menyala pun bisa mati lagi karena tertimpa soban yang besar atau karena sobannya basah dan faktor lainnya, tapi se­telah apinya me­nyala bahkan kalian memasukkan soban besar dan basah pun akan terbakar.

Dulu, minyak tanah belum ada. Kalaupun ada harganya terbilang mahal dan sulit ditemukan. Orang-orang di kampung mengandalkan soban untuk dipakai memulai aktivitas setiap hari. Oppung boru pernah bilang pada saya bahwa api yang dihasilkan dari soban menim­bulkan efek tersendiri pada masa­kan. Ada citarasa yang unik, asli dan otentik. Sangat berbeda dengan alat-alat modern yang digunakan manusia modern dewasa ini. Alat modern, instan dan praktis itu mem­per­cepat, mempersingkat waktu manusia dalam melakukan peker­jaan rutin. Nasehat Oppung boru saya barangkali me­nyiratkan pesan bahwa menggunakan alat modern itu memang mengubah waktu manusia dengan cepat, tetapi melu­pakan esensi kenikmatan dan per­jua­ngan mendapatkan hasil yang baik, citarasa yang baik mem­butuhkan proses yang panjang.

Marsoban membuat saya merasa dekat dengan orang-orang yang saya kasihi.Barangkali, tidak ba­nyak ditemui muda-mudi Batak me­lakukan kegiatan marsoban se­perti yang dilakukan di zaman saya. Kegiatan marsoban lambat-laun ditinggalkan. Sebabnya ada dua: pertama, tombak mulai meranggas karena dirusak oleh tangan-tangan jahil dan dijajah kaum feodal. Kedua, meskipun tombak masih ada, muda-mudi Batak mulai me­ning­galkan kegiatan itu karena arus teknologi yang kain hari kian cepat. Muda-mudi Batak lebih memilih sibuk dengan kegiatan dunia maya ketimbang melestarikan kegiatan-kegiatan leluhur Batak zaman dulu. Setidaknya, muda-mudi Batak ikut terjun melestarikan budaya Batak agar tidak lekang dimakan zaman dan semakin dilupakan.

Pada titik ini, bagi saya, marso­ban, selain mencari kayu-kayu ke­ring juga mengajarkan kita agar dekat dengan alam. Para leluhur Batak mampu bertahan hidup di tengah rimba sumuk hutan yang lebat dan sunyi. Muda-mudi Batak harus ikut melestarikan kehidupan yang ter­simpan disana. Jika dulu, sewaktu saya masih bersekolah di huta, sangat dilarang keras oleh paratetua kami menebang pohon dengan semba­rangan. Hanya po­hon-pohon tertentu saja yang boleh ditebang.

Pernah suatu ketika, Oppung doli saya berpesan "Alam menye­diakan kehidupan pada kita. Pohon-pohon itu adalah hasil kehidupan. Kita harus menjaganya. Tak boleh menebang pohon secara seram­pa­ngan. Pohon memang tak berte­riak kesa­kitan ketika ditebang. Tapi, manusia harus mampu mera­sakan dan menunjukkan penghar­gaan ke­pada mereka. Tanpa pohon-pohon itu manusia tidak akan bisa meme­nuhi kebutuhan hidup manu­sia dan menikmati oksigen. Jika hutan telah tiada, dari­mana kita ke­lak mendapat oksigen? Tanah tidak dapat meng­ha­silkan oksigen bagi penghidupan manusia. Hanya hutan beserta pohon-pohon hijau nan segar itu."

Saya beruntung pernah dilahir­kan, dibesarkan dan berinter­aksi dalam kehidupan sosial huta, kehi­dupan alam tombak dan budaya marsoban. Setidaknya, ada pelaja­ran penting yang saya dapatkan kala itu dan kelak bisa saya bagikan kepada generasi berikutnya. Saya akan mengingatnya sebagai kena­ngan yang berharga pada diri saya. Rasa-rasanya, mengingat kehidu­pan dulu dan waktu yang sudah terlewati begitu jauh, ingin saya berkata: "Beta tu tombak!" "Beta marsoban akka, Do­ngan!." ****

Penulis adalah Alumnus Hua-Shih College of Education, National Dong Hwa University, Taiwan

()

Baca Juga

Rekomendasi