Oleh: Deddy Kristian Aritonang. Semakin lama tantangan yang dihadapi para guru di Indonesia semakin berat. Di era digital sekarang, ilmu pengetahuan telah mengalami transformasi menjadi sebuah komoditas publik yang bisa didapatkan dengan mudah, oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Artinya, guru bukan lagi sebagai sumber utama bagi peserta didik untuk menggali ilmu seperti di tahun-tahun silam. Lihat saja, metode pengajaran konvensional sudah mulai ditinggalkan. Sistem belajar CBSA (Catat Buku Sampai Abis) tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman. Para orang tua pun kian lebih selektif dalam memilih lembaga pendidikan yang metode pengajarannya berbasis teknologi bagi anak-anaknya.
Semua itu terjadi karena perubahan zaman yang begitu cepat. Mengajar tidak lagi sebatas pada guru melakukan ceramah ditemani oleh buku teks sebagai acuan belajar pokok. Sekarang pemanfaatan teknologi memungkinkan pembelajaran tidak cuma berlangsung di dalam ruangan kelas. Dewasa ini metode pengajaran dengan memanfaatkan kemajuan teknologi bisa dilihat dari pembelajaran memakai sistem teleconferencing, pemanfaatan blog, MOOC (Massive Open Online Courses) dan masih banyak lagi.
Maka benarlah ungkapan lawas filsuf Yunani, Heracletos (540-480 SM) “nothing endures but changes.”(tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan). Manusia harus mampu beradaptasi, termasuk guru. Guru harus bisa menyesuaikan dirinya dengan perubahan yang begitu dinamis saat ini bila tidak mau terlindas oleh roda perubahan itu sendiri.
Paradoks Zaman Digital
Salah satu fenomena yang menjadi tantangan terbesar bagi guru-guru saat ini adalah murid-murid yang lahir di era digital. Exposure yang begitu kuat terhadap teknologi menjadikan peserta didik sering disebut-sebut sebagai ‘manusia-manusia digital.’Mengapa demikian? Karena mereka lahir di era tahun 2000-an keatas. Dan di tahun-tahun itulah perkembangan teknologi mengalami perubahan yang sangat dahsyat.
Maka tak mengherankan bila anak-anak balita saja sudah mahir mengoperasikan gawai pintar dengan model layar sentuh (touchscreen). Tanpa diajari, mereka sudah bisa membuka aplikasi game atau youtube. Ini terjadi karena disekeliling mereka setiap harinya begitu banyak manusia yang menggunakan gawai. Bila pada usia dini saja anak-anak sudah mampu semahir dan seterampil itu menggunakan teknologi, bayangkan ketika mereka sudah menginjak usia SD, SMP dan SMA. Dan memang kebanyakan pelajar sekarang, apalagi di kota-kota, merupakan pengguna ponsel pintar, pengakses internet aktif dan juga tergolong mampu mengoperasikan komputer.
Akan tetapi yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa internet itu diibaratkan seperti tong sampah dan para pengguna internet diasosiasikan sebagai pemulung. Para pemulung harus memilah-milah di antara tumpukan sampah mana barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi untuk dijual atau didaur ulang. Jadi tidak semua tumpukan sampah itu berguna bagi mereka. Demikan halnya dengan informasi yang tersedia di internet. Tidak semua konten informasi bermanfaat bagi penggunanya apalagi yang bisa meningkatkan pengetahuan.
Jadi meskipun para pelajar relatif lebih mafhum dalam menggunakan teknologi internet, mereka belum cukup matang dan kritis dalam memilih konsumsi informasi yang tepat dan sesuai kebutuhan belajar. Malah, kebanyakan mereka yang sering disebut generasi Milenial atau generasi Z cenderung menghabiskan waktu menggunakan gawai untuk hal-hal yang bersifat hiburan. Mereka lebih suka berselancar di aplikasi-aplikasi messenger, meng-update status, saling berkomentar, melakukan swafoto atau live di Instagram dan Facebook. Artinya, konsumsi internet kurang diberdayakan pada kegiatan yang bisa mendukung pembelajaran. Bahkan bila tak mendapatkan pengawasan dan pendampingan yang serius dari guru atau orang tua, mereka bisa mengalami adiksi yang parah atau bahkan terjerumus dalam perilaku amoral sebagai dampak negatif dari teknologi yang dikenal sebagai cyber crime.
Mau Berbenah
Di sinilah guru sebenarnya punya peran penting. Sebagai sosok yang telah matang dan cukup kritis (guru harusnya memang demikian adanya), guru bisa hadir sebagai mediator dan fasilitator pembelajaran berbasis teknologi. Tujuan ini hanya bisa dicapai jika guru mau dan mampu membuka diri untuk belajar dan terus belajar. Minimal para guru tidak tertinggal jauh dari peserta didik soal urusan menggunakan ponsel pintar untuk mengakses ilmu pengetahuan, mengoperasikan komputer atau laptop.
Kesejahteraan guru bila dibandingkan dengan di masa-masa lalu saat ini relatif lebih baik meski masih terdapat polemik kesenjangan antara guru honor, guru swasta dan guru PNS. Ini berkat dana yang masuk ke rekening para guru yang telah lulus sertifikasi sehingga menjadi penerima tunjangan profesi guru (TPG).
TPG selain dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan taraf kehidupan para pahlawan tanpa tanda jasa ini, juga sebagai dorongan agar guru-guru mau meningkatkan kualitas ilmu dan pengajarannya. Tapi ternyata justru cukup banyak guru-guru lebih mengalokasikan dana itu untuk hal-hal yang bersifat konsumtif. Dilansir dari laman CNN Indonesia, penggunaan dana TPG kabarnya banyak digunakan untuk membeli mobil daripada meningkatkan kompetensi. Memang, dana itu adalah hak para guru yang sudah lulus sertifikasi.
Tapi, perlu diingat, dengan menerima dana itu berarti para guru telah masuk kategori guru yang profesional. Dan guru yang profesional pastilah memiliki totalitas dalam peningkatan kualitas dan kompetensinya. Sah-sah saja membeli barang-barang seperti mobil atau ponsel pintar mahal ketika dana TPG cair. Hanya saja perlu juga sebuah keseimbangan dengan cara mengalokasikan dana tadi untuk keperluan mengikuti seminar, pelatihan, membeli buku-buku referensi sebagai acuan dalam mengajar.
Guru harus tetap menjunjung marwah sebagai pahlawan pendidikan. Jika dulu, ketika guru belum sesejahtera sekarang, banyak yang mengabdi secara tulus dengan komitmen yang tinggi untuk bersungguh-sungguh menjalankan tugas yang mulia, maka seharusnya motivasi itu semakin tinggi tatkala kesejahteraan mulai diperhatikan dan mengalami perbaikan.
Guru harus terus belajar dan berbenah. Semangat itu harus dibawa terus. Terkadang ada saja oknum-oknum guru generasi tua yang suka berdalih dengan mengatakan bahwa mereka tak perlu lagi belajar terutama dalam memahami teknologi sebagai pendukung pembelajaran. ‘Biarlah guru-guru muda saja yang belajar memanfaatkan teknologi dalam mengajar.” Begitu kira-kira kata-kata para guru tua ini. Mereka menganggap usia yang sudah tua tidak lagi efisien dalam mempelajari teknologi.
Guru-guru seperti ini cenderung mengidap penyakit TBC (Tidak Bisa Computer). Tapi yang ironis, kebanyakan dari mereka justru memiliki ponsel pintar berbasis android dengan model keypad Qwerty yang sama dengan laptop atau komputer. Selain itu mereka juga rata-rata memiliki akun media sosial. Artinya, untuk keperluan entertainment seperti media sosial, mereka bisa melek, tapi untuk keperluan mengajar dengan memanfaatkan teknologi, mereka cenderung abai dan suka berdalih. Belajar tidak mengenal batasan usia. Siapa saja, berapapun usianya, bisa belajar tanpa harus diberi batasan. Ini yang harus disadari oleh setiap guru. Hanya dengan terus belajar sajalah mereka akan mampu menghadapi perubahan zaman. Mudah-mudahan guru-guru kita tersadarkan dan mau berbenah demi pendidikan kita yang lebih baik. Selamat Hari Guru. ***
Penulis adalah alumnus Pasca sarjana Unimed, berprofesi sebagai Dosen PTS dan Guru SMP/SMA Sutomo 2 Medan.











