Aplikasi Konsep Rancang dari Sarang Semut

Oleh: Isnaini Kharisma. Semut merupakan  se­rangga yang berko­muni­tas dan ber­struk­tur rapi dalam hal organisasi. Berbagai penelitian menun­juk­kan, makhluk Allah ini memiliki tatanan sosial yang siste­matis di kalangan hewan. Di dalam sa­rangnya, ada pe­mim­pin yang dikenal de­ngan sebutan ratu, namun ada pula bagian lqqin yang memiliki tugas dan fungsi berbeda.

Dosen Arsitektur Universitas Panca Budi Medan, Dr Raflis Tanjung, ST, MT, IAI mengatakan, beberapa bagian sistematis itu, di antaranya bidang pertahanan dan keamanan bertugas mengamankan dan mempertahankan komunitas masyarakatnya dari ancaman luar. Hal ini juga berkaitan dengan bidang kontruksi yang bertugas merancang bangun gedung hunian layak, aman, dan nyaman dari ancaman pihak mana pun.

Hewan yang hidup bermasyarakat dan berkelompok ini memiliki keunikan, yakni ketajaman indra, sikap hati-hati, dan etos kerja yang tinggi. Sistem kehidupan sosial mereka sangat kompleks dengan teknologi, sistem kerja, kedisip­linan, jaringan komunikasi, dan perta­hanan. Hal itu justru sulit diterapkan di dunia manusia, bahkan dalam suatu perusahaan internasional maupun dunia militer.

Lorong-Lorong

"Kontruksi sarang semut didominasi bentuk vertikal. Di dalamnya terdapat banyak lorong yang mungkin jika kita masuk ke dalamnya, akan sulit sekali ke luar dengan selamat," paparnya.

Umumnya, sebuah sarang memiliki 20 lantai di bagian permukaan dan 20 lantai lainnya di dalam tanah. "Fungsi setiap lantai di tentukan oleh temperatur di lantai tersebut. Lantai yang paling hangat biasanya digunakan khusus untuk tempat merawat dan membesarkan anak-anak semut. Sarangnya mempunyai ruang-ruang khusus (zona) dan setiap ruang mempunyai fungsi sesuai tugas masing-masing semut.”

Jadi, yang ditekankan pada aspek utilitas, dalam hal arsitektur, adalah pengaturan ruang yang baik, didasarkan pada fungsi, hubungan antarruang, dan teknologi bangunan (pencahayaan, penghawaan, dan lain sebagainya). Pengaturan seperti ini terdapat dalam sarang semut.

Sarang semut dirancang sedemikian rupa seperti halnya rumah berventilasi yang diperlukan untuk membangun jalan, sehingga menghubungkan bagian-bagian pada jarak pendek antarkamar. Juga dibangun jalan raya untuk mengangkut makanan dan cara lain untuk interko­neksi. Semut menjadikan perkam­pungan di dalam tanah dan membangun ru­mahnya terdiri  atap, ruang tengah, dan kamar yang bertingkat-tingkat.

Sirkulasi

Raflis menjelaskan, antara sarang semut dan rumah sakit juga memiliki aspek kesamaan, seperti dari aspek tata ruang dan sirkulasi. Zona ruang pada sarang semut dapat dikatakan jauh lebih teratur, karena tidak terdapat perpo­tongan-perpotongan sirkulasi yang tidak diperlukan.

"Untuk proses perancangan rumah sakit, sistem pengaturan semacam ini juga telah dikenal. Terdapat semacam jalur  cul de sac (jalur buntu) untuk menem­patkan ruang-ruang yang membu­tuhkan ketenangan dan privasi tinggi, misalnya ruang bedah, ruang bersalin, dan ruang rawat intensif (ICU). Dengan cara ini, diharapkan pengunjung rumah sakit yang tidak berkepentingan tidak melewati ruang-ruang tersebut," jelasnya.

Belajar dari arsitektur sarang semut, tampak dari skema perletakan ruang, terdapat tiga zona besar dengan hirarki dan pemisahan jalur sirkulasi yang jelas di dalamnya. Zona pertama adalah zona publik, terdapat pintu masuk, ruang penjaga, dan ruang besar sebagai pengi­kat jalur-jalur sirkulasi dari segala arah. Dipisahkan dengan suatu jalur sirkulasi mendatar, di bawah area publik ini terdapat zona penyimpanan.

Sarang semut memiliki beberapa pintu masuk, yaitu atas dan samping. Maka, hendaknya rumah memiliki dua pintu masuk, yaitu pintu utama dan pintu kedua. Pintu utama untuk masuk ke ruang tamu dan digunakan sebagai area publik. Pintu kedua dari ruang keluarga, dapur, atau carport (atap tambahan untuk perlindungan mobil) berfungsi sebagai pintu masuk ke area privat dan servis bagi anggota keluarga apabila di ruang tamu sedang ada tamu.

Keistimewaan lain dari sarang semut, yaitu meskipun sarang ini meliputi area yang sangat luas, dengan kedalaman yang berbeda dari permukaan tanah, suhu di dalam setiap ruang tetap konstan dan seragam sepanjang hari. "Sarang semut yang dapat tertembus cahaya matahari, penga­turan elemen rumah tinggal juga harus mempertimbangkan aspek sirkulasi udara dan cahaya matahari seperti peletakan jendela untuk memberikan penerangan ruang dari sinar matahari, pengaturan arus udara atau angin, dan melakukan pe­nga­matan dari dalam ke luar.”

Raflis menambahkan, dari kisah semut yang terdapat dalam Alquran, berhu­bungan dengan konsep ruang sarang semut dalam pengembangan arsitektur islami. Terdapat hikmah yang dapat diambil, bahwa manusia sebenarnya dapat mencontoh arsitektur di alam.

Rumah tinggal dengan konsep ruang sarang semut bertitik pusat pada makna kata masa kini yang berarti rumah tinggal, pada suatu rumah tinggal akan terdapat di ruang-ruang yang mempunyai fungsi masing-masing sehingga tercipta keluarga yang damai, bahagia, tentram, dan tenang. Bukaan fungsi dan keindahan semata, pemaknaan terdalam yang menentukan tinggi-rendahnya nilai suatu karya arsitektur justru dilihat dari ke­mam­puannya mengantarkan manusia kepada kesadaran adanya kekuasaan dan keesaan sang pencipta.

"Hal inilah yang tepat dilakukan binatang kecil seperti semut yang mem­bangun sarangnya dengan kemampuan yang diilhamkan kepadanya. Sarang-sarang yang mereka bangun membawa kita tidak hanya pada kekaguman akan aspek-aspek kekokohan, kegunaan, dan keindahan yang sangat sempurna," Katanya.

()

Baca Juga

Rekomendasi