Tentang Polemik Sastra Puisi Esai Denny J.A

Oleh: Riduan Situmorang

DUA kali saya mengikuti lomba menulis puisi esai yang diadakan Denny J.A. Uniknya, pada setiap lomba itu, saya selalu “berhasil”. Pertama, pada 2014, saya menjadi juara II dengan judul “Balada Cinta Upiak dan Togar” yang kemudian terangkum dalam Konspirasi Suci bersama penyair Lampung, Isbedy Stiawan ZS, dan penulis novel dari Bandung, Burhan Siddiq. Kedua, saya menjadi salah satu dari 10 juara favorit dengan judul “Baris-Baris Tanya untuk Indonesia” yang kemudian dibukukan ke Asmaraloka Cabe-Cabean.

Harus saya akui, saya sangat beruntung men­dapatkan uang “durian runtuh” dari hasil lomba itu meski pada lomba yang kedua, ke­tika saya tanya melalui facebook, seseorang yang sebelumnya mengaku panitia menga­ta­kan bahwa hadiah dari lomba itu sudah ha­ngus. Saat itu, hadiah untuk masing-masing juara favorit Rp 2 jt. Aneh juga sebenarnya. Namun, ketika dinyatakan sudah hangus, saya tak mencoba memintanya lagi. Yang pasti, harus saya akui bahwa hadiah dari lomba pertama membuat saya sangat nyaman melanjutkan kuliah. Saya men­syukurinya sebagai berkah.

Masih ada hal lain yang membuat saya bersyukur pernah ikut lomba menulis puisi esai tersebut. Hal itu adalah karena pada kedua buku itu, Konspirasi Suci dan Asmaraloka Cabe-Cabean, Joko Pinurbo hadir sebagai pembuat “pengantar”. Joko Pinurbo tentu bukan nama yang asing lagi dalam kesu­sastraan Indonesia. Joko Pinurbo, dengan nama sebutan Jokpin, sudah menjadi cerita sendiri dalam sastra Nusantara. Namun, saya tak lantas menganggap diri sebagai sastrawan, apalagi sejajar dengan sastrawan lain hanya karena karya itu.

Bukan pengagum, apalagi pengikut

Saya tetap pada posisi semula, sebagai­mana sering saya ung­kap dalam berbagai tulisan dan omongan, bahwa saya bukan sastrawan. Saya hanya penikmat sastra. Penikmat, da­lam benak saya, tentu saja bukan sastrawan. Sastrawan itu gelar kehormatan. Dikatakan gelar kehormatan karena gelar itu merupakan gelar pengakuan dari banyak pihak. Gelar ini tak cukup dengan bekal pamer karya semata, apalagi kalau dengan bekal hasutan dan uang. Sederhana saja, saya sering membuat puisi tak lantas membuat saya jadi sastrawan. Orang banyak juga melakukan demikian.

Nah, sebenarnya alasan lain mengapa saya ikutan menulis pada puisi esai Denny JA saat itu adalah karena pada pengumumgan lomba tersebut ada seruan yang menurut saya sangat menarik, menggelitik, ramah, dan persuasif: “yang bukan sastrawan boleh nimbrung”. Kurang lebih, begitu promosi lomba menulis itu dibuat. Nah, di sanalah posisi saya berada: “yang bukan sastrawan”. Maka, benar saran seorang sastrawan senior di Sumut bahwa saya tak perlu bangga karena menang. Na­mun, karena posisi saya “bukan sastra­wan”, saya tetap memilih bersyukur.

Saat ini, polemik puisi esai kembali ber­gejolak. Bahkan, di Sumut, gerakan semacam penolakan pada Denny JA benar-benar me­nguat. Beberapa media lokal Sumut menu­lis­kannya dengan sangat “meriah” di rubrik Minggu. Lalu, posisi saya di mana? Seba­gai­mana dimuat salah satu media lokal Sumut, posisi saya sederhana saja: bukan pengagum, apalagi pengikut Denny JA. Saya yakin itu seyakin-yakinnya. Atas dasar itulah saya me­yakini bahwa peserta yang ikut lomba pada perhelatan puisi esai yang dibuat Denny JA sebelum-sebelumnya juga bukan penga­gum, apalagi pengikut Denny JA.

Saya tahu beberapa nama sastrawan Sumut yang ikut pada lomba puisi esai Denny JA. Saya juga tahu bahwa beberapa nama itu ter­masuk agung di kalangan sastrawan Sumut. Namun, sependek pengetahuan saya, mereka bukanlah pengagum Denny JA. Baiklah, karena masalah Denny JA adalah perihal ketokohannya dalam sastra, izinkan saya membahasnya dalam artikel singkat ini. Harus diulangi sekali lagi, posisi saya bukan sastrawan. Saya hanya penikmat sastra yang kebetulan secara tak langsung ada pada pu­saran (polemik) puisi esai itu.

Masalah ketokohan Denny JA sebagai sastrawan sebenarnya sudah sangat lama. Sependek pengetahuan saya, ini bermula dari “klaim” Denny JA sebagai salah satu sastrawan paling berpengaruh sebagaimana terangkum dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Masalah ini berke­lebat lalu berujung di pengadilan. Aneh me­mang. Bagaimana mungkin masalah kesusas­traan menjadi “proyek” pengadilan. Ini rebut-rebutan suara layaknya demokrasi atau debat sastra? Lama kelamaan, masalah ini ke­mudian berubah menjadi semacam perke­lahian antara Saut Situmorang dan Denny JA.

Terus terang, saya tak mengenal Saut Situmorang, kecuali dari karyanya. Saya juga tak mengenal Denny JA, kecuali setelah lom­ba. Namun, keduanya dalam benak saya adalah penyair. Bedanya, saya lebih mengenal Saut Situmorang sebagai penyair ulung, se­mentara Denny JA sebagai tukang survei dan konsultan politik. Dalam benak saya juga, kebanyakan orang, terutama sastrawan, pasti juga lebih mengenal Denny JA sebagai konsultan politik. Maaf kalau saya salah. Maaf dari saya ini sebenarnya tak membe­res­kan masalah.

Karena itu, kebetulan Denny JA merupa­kan tukang survei, saran saya, ada baiknya beliau juga membuat survei tentang ketoko­hannya dengan satu tujuan: apakah dia lebih dikenal masyarakat sebagai sastrawan atau konsultan politik? Apabila kemudian Bung Denny JA lebih dikenal sebagai sastrawan, mungkin namanya yang masuk sebagai 33 sastrawan paling berpengaruh di Indonesia dapat diterima dengan senang hati. Tetapi sudahlah, jangan hal itu kita usik lagi. Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpe­ngaruh sudah terbit.

Kepala Bs dompet

Tak ada gunanya selalu mengutuk dan me­ngutuk. Kalau kita kemudian membera­ngus, itu sama saja kita kembali pada keja­hatan Orde Baru yang “suka” membredel. Memang harus diakui, buku ini sangat kontroversial. Tetapi, kontroversial bukan be­rarti bahwa buku ini salah. Kontroversi justru bisa melahirkan perbaikan ke depan. Sebagai perbaikan, tentu buku ini bukan menjadi patokan. Artinya, ke-33 nama yang ada di sana bukanlah yang sebenar-benarnya paling berpengaruh, kalaupun berpengaruh, itu hanya bagi dan menurut Tim 8.

Masalahnya, apakah Tim 8 merupakan per­wakilan Indonesia? Kapan kita memilih­nya? Sampai di sini, masalahnya sebenarnya sudah beres. Lagipula, standardisasi yang dibuat Tim 8 masih kendor, jauh dari standar teruji dan diakui. Di dalam pengantar buku, Tim 8 (Catat, Tim 8, bukan Indonesia) meru­muskan empat kriteria untuk diperas menjadi 33 tokoh berpengaruh: pengaruhnya berskala nasional; pengaruhnya relatif berkesinam­bungan; dia menempati posisi kunci, penting, dan menentukan; serta dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang.

Akan tetapi, alih-alih mematuhi keempat kriteria tersebut, Tim 8 secara sadar mengakui bahwa itu bukan patokan kaku. Simak saja pengakuan mereka ini, “tokoh sastra dinilai layak masuk dalam 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh apabila sekurang-kurangnya memenuhi satu dari empat kriteria berikut….” Yang pasti, andai Tim 8 itu adalah perwakilan resmi Indonesia, saya juga akan menolak Denny JA. Saya tak mengenalnya sebagai penyair. Masih banyak sastrawan yang jauh lebih berpengaruh daripada Denny JA. Siapa Denny JA?

Namun, karena ini proyek Tim 8, ya sudah, itu kan bagi dan menurut mereka (Tim 8). Andai saya punya uang, saya juga bisa mem­buat Tim 9 untuk membuat proyek. Saya bisa membuat Denny JA tak masuk. Zaman sekarang masanya kapital. Isi kepala tak perlu lagi. Yang penting, isi dompet. Falsafah co­gito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada) ­su­dah ditukar emo ergo sum (aku belanja, maka aku ada). Saya yakin, keberadaan Denny JA pada deretan sastrawan lebih beraroma emo daripada cogito.

Saya tak menampik Denny JA juga bisa membuat puisi. Tetapi, kalau hanya membuat puisi, banyak orang juga melakukannya. Puisi Fadly Zon pada masa Pilkada DKI Jakarta kemarin bahkan dikutip berbagai media, dibagikan ramai-ramai melalui media sosial, ditampilkan secara live di berbagai stasiun televisi. Namun, hal itu bukan karena isi ke­pala Fadly Zon. Ini lebih pada isi dom­petnya. Sampai di titik ini, saya yakin, Anda sudah paham mengapa Denny JA masuk sebagai sastrawan paling berpengaruh! ***

Penulis, Penikmat Sastra, Aktif Berkebudayaan dan Berkesenian di PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) dan TWF (Toba Writers Forum)

()

Baca Juga

Rekomendasi