Bincang Perempuan

“Saya Cabe Mulut Kamu Nak!”

Oleh: Adelina Savitri Lubis
([email protected])

JIKA harga cabai melambung, dari Rp. 20.000 per kilogram (kg) menjadi Rp. 40.000 per kg, apakah kita masih berani untuk menga­takan "Saya cabe mulut kamu nanti ya, Nak!"

Kalimat itu spontan keluar dari bibir Nona kepada Manda, Sarah, dan Ira di satu sore pada Kamis (1/3). Tak ada reaksi yang paling pas, se­lain tertawa saat ketiganya mendengar ucapan Nona.

"Kamu kesal ya Non, harga cabai naik?" ta­nya Manda

Nona tersenyum saja, namun belum lagi dia menjawab,Sarah sudah langsung menyahuti kalimat Manda.

"Hahaha, atau jangan-jangan, kamu benar-benar pernah mencabe mulut anak kamu?" sahut Manda.

"Tidak. Belum pernah, tapi aku sudah pernah mengalami," jawab Nona.

"Wah, serius? seperti apa rasanya?" selidik Ira.

"Pedas Non?" timpal Manda.

"Panas?" tambah Sarah.

"Segala rasa semuanya ada saat itu. Tapi kalian kok malah bertanya tentang rasanya, tidak penasaran ingin tahu mengapa ibu men­cabe mulutku saat itu?" bilang Nona.

Hahaha...., ketiganya malah tertawa.

"Kami tidak penasaran Non. Rasa ingin tahu kami sudah tergantikan oleh kelucuan yang kami bayangkan saat ibu mu mencabe mulutmu, hahaha," sahut Manda.

"Aduh...,langsung terbayang bagaimana merah padam wajah Nona saat itu. Hahaha," sambung Ira.

"Hahahahaha," tawa Sarah.

Agaknya dia telah kehilangan kata, karena perutnya habis dikocok tawa. Wajar saja, apa­lagi hal itu terjadi pada Nona. Perempuan, teman mereka yang dikenal sebagai sosok manja, dan anak baik-baik. Hahaha.

“Aduh, kalian jangan salah fokus dong. Ini tentang cabai loh. Harga cabai yang melam­bung, bukan tentang mulutku yang pernah dica­be ibuku,” beber Nona.

“Bayangkan. Apa kalian tidak pusing me­mikirkan harga tadi?” kata Nona lagi.

Ketiganya menggeleng sembari menahan tawa. Hihihi.

“Tapi bolehkah kita bercerita tentang kejadi­an ibu mencabe mulut kamu saja Non, daripada harga cabai yang melambung?” bilang Ira.

“Iya Non. Rasanya kok lebih membaha­giakan kisahmu itu ya,” sahut Manda.

“Ceritakanlah...ceritakanlah,” ucap Sarah sembari tertawa.

Nona pun diam saja. Dia tak menyahuti lagi tingkah ketiga temannya yang tawanya tak juga berhenti. Sementara Ira, Manda, dan Sarah ma­sih asyik masyuk dalam bayangan mereka ke­tika mulut Nona dicabai oleh ibunya. Lengkap dengan tawa yang tak juga berhenti.

Beberapa menit kemudian, Manda tiba-tiba terdiam. Melalui jari jemarinya dia memberi kode kepada Ira dan Sarah.

“Kalian sudah lihat sosmed?” bisiknya kepada kedua temannya.

“Apa?” tanya Sarah

“Lihat ini. Nona membuat status di akun sosmednya,” jelas Manda.

“Apa katanya Man?” sahut Ira.

“Dia bilang begini. Keinginan 2018 yang belum tercapai: Ketika harga cabai melambung, di situ rasanya aku ingin mencabe bibir teman­ku,” beber Manda perlahan.

“Apa? Hahahaha,” sahut Sarah.

“Dan semua ini hanya gara-gara harga cabai yang melambung ya?” bilang Ira.

“Aku juga mau buat status tandingan. Cabe! Apa yang kamu lakukan itu, sungguh jahat!. Hahahahha,” kata Manda terkekeh puas.

()

Baca Juga

Rekomendasi