Daya Tarik Serampang 12

Oleh: J Anto.

TARI Serampang 12 seolah tak lekang waktu. Diciptakan pada 1940-an oleh Guru Sauti. Tari pergaulan yang lahir saat adab pergaulan masih banyak tabu, telah menasional bahkan menginternasional. Sejumlah sanggar mengajarkan tarian ini dengan beragam tafsir. Ini yang membuat Jose Risal terpanggil memurnikan kembali tari tersebut.

Jose Rizal Firdaus (71) saat dijumpai di kantornya, di Kompleks Ruko Perumahan Bumi Asri, Rabu (11/4) bertutur, ia tak terlalu ingat persis tahunnya, tapi menu­rutnya  berkisar 1990-an. Saat itu Lapangan Merdeka sudah sesak oleh para seniman, para pejabat, dan masyarakat umum.

Hari itu sebuah hajatan budaya akbar hendak digelar, Pekan Budaya Melayu. Ia waktu itu sebagai ketua panitia. Menteri Pariwisata Joop Ave hadir membuka acara itu. Rencananya usai pembukaan dilanjutkan  lomba tari  Serampang 12.

Beberapa menit menjelang pembukaan, Joop Ave berbisik, “Pak Jose, nanti jadi ‘kan saya menari Serampang 12?”

Jose Rizal tiba-tiba merasa kakinya diinjak Gubernur  Sumut yang duduk di sebelahnya. “Menteri kok disuruh menari?” bisik gubernur.

“Bukan saya yang menyuruh, Pak. Pak menteri sendiri yang mau.” Sebelumnya, saat menemani audensi bertemu Walikota Medan Bachtiar Djafar, menteri tersebut memang langsung antusias begitu men­dengar dalam gelaran itu diadakan lomba tari Serampang 12.

“Wah tari Serampang 12? Saya bisa itu, Pak Jose. Nanti saya juga mau menari Serampang 12,” ujar Joop Ave.

Jose kaget, sekaligus penasaran men­dengar permintaan sang menteri. Di benak­nya langsung berkeriapan sejumlah tanya. “Apakah Joop Ave nanti benar-benar bisa menari Serampang 12? Dengan badan tinggi dan bongsor seperti itu, bagaimana ia bergerak? Dari siapa Pak Menteri belajar menari Serampang 12?”

Setengah tergagap, ia lalu bertanya kepada Joop Ave agar tak tersinggung.  “Maaf, apa Bapak sebelumnya pernah belajar tari Serampang 12?”

“Lho, saya pernah menjadi pasangan Ibu Fatmawati saat belajar tari Serampang 12 dari Guru Sauti,” ujar Joop Ave. Lalu sang menteri pun buka kartu.

Pada 1954, Presiden Soekarno rupanya pernah mengundang Guru Sauti  ke Istana Negara. Guru Sauti diundang khusus untuk mengajar Serampang 12 kepada  Fatmawati dan beberapa isteri pejabat lain. Soekarno memang dikenal sebagai presiden yang cinta seni, termasuk seni tari.

Soekarno, begitu tuturan Joop Ave, seorang pencem­buru. Hanya kepada orang yang sudah dipercaya, Fatmawati boleh belajar menari berpasangan. Pilihan jatuh pada Joop Ave. Ia salah satu orang keperc­a­yaan Soekarno, saat itu menjabat Kepala Jurumasak Rumah Tangga Istana.

Pada 1950 - 1960-an, masyarakat me­mang dilanda demam tari Serampang 12. Tak hanya di Medan dan kota-kota lain di Sumut, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Begitulah Joop Ave akhirnya membuat kejutan pada Pekan Budaya Melayu itu, tampil menari Serampang 12.

“Saya pun ikut menari di samping beliau, takut ada gerakan tari yang beliau lupa,” ujar Jose Risal.

Tari Perkenalan

Tari Serampang 12 memang tari legen­daris. Pemerintah pada 2014 telah mene­tapkan sebagai warisan budaya tak benda.  Keberadaan tari itu tak bisa dipisahkan dari maestro penciptanya, Guru Sauti. Padahal sebagai seniman, semasa hidup ia juga menciptakan beberapa  tarian lain, seperti tari Lenggang Patah Sembilan, Lenggok (Tan­jung Katung, Jambu Merah), Mak Inang (Pulau Kampai), Campak Bunga Pelipur Lara dan Sapu Tangan (Cik Na Sayang, Bercerai Kasih). Tapi bicara Sauti, identik Serampang 12.

Tari  Serampang 12 diciptakannya pada 1940-an dan diubah ulang antara 1950 - 1960. Tari ini dikembangkan Guru Sauti dari tarian tradisional Melayu yang berkembang di masa Kesultanan Serdang. Sauti sendiri lahir di Kampung Besar, Pantai Cermin, 1903. Saat lahir, ia ditinggal mati ayahnya. Oleh ibunya, Sabridjat, Sauti lalu dibawa pindah ke Kesultanan Serdang. Ibunya bekerja di bagian rumah tangga Istana Serdang. Tugasnya sebagai jurumasak istana. 

“Itu sebabnya ayah saya bisa sekolah guru karena telah jadi kerabat istana,” tutur Achiruddin Sauti (80) dan Makmur Sauti (70),  dua dari 11 anak Guru Sauti saat ditemui di Perbaungan, Selasa (10/4).

Tari Serampang 12 memiliki ciri gerakan yang lincah. Gerak kaki yang banyak melompat-lompat dan gerak tangan yang cepat serta lirikan mata.

Disebut tari Serampang 12, karena terdiri dari 12 ragam tari. Ragam I adalah tari permulaan, menggambarkan pertemuan pertama dua muda-mudi yang sama-sama terpukau pada pandang pertama. Karena itu, menurut Jose Rose Risal, yang ‘berguru sejak 1953 pada Angku Sauti, ragam I tari itu lebih memerlihatkan ekspresi terkejut dari masing-masing muda-mudi itu. Terkejut karena saling terpesona.

“Karena zaman dulu adab belum sebebas zaman now, maka mereka hanya saling curi pandang. Sekalipun laki-laki bisa lebih bebas memandang perempuan, namun perempuan hanya bisa curi-curi pandang,” tutur pendiri Lembaga Studi Tari Patria itu. Lembaga ini didirikan  pada 1979. Salah satu misinya, meneruskan misi Angku Sauti, panggilan Jose Risal terhadap gurunya. Maklum, saat pertama diantar ibunya, ia masih berusia 6 tahun. Ia bahkan murid terkecil saat itu.

Dimurnikan

“Dulu OK Adram, pasangan menari Angku Sauti pernah memberi saran agar tari Serampang 12 tidak sembarang diajarkan ke orang, khawatir nanti turun kualitasnya,” ujar Jose Risal. Hanya mereka yang datang belajar saja yang dilatih. Sebaliknya Sauti justru berpendapat agar tari itu disebarkan terlebih dahulu ke masyarakat.

Soal kekhawatiran OK Adram, Angku Sauti menjawab kurang lebih begini, “Usah khawatir Orang Kaya, nanti kalau sudah tersebar, Serampang 12 kita perbaiki.” Namun saat justru di era kejayaan tari itu, pada 1963 Sauti berpulang ke pangkuan Illahi tanpa sempat menunaikan janjinya.

“Itu sebabnya sebagai murid Angku Sauti, saya merasa terpanggil untuk mengem­balikan tari Serampang 12  seperti konsep awalnya,” tuturnya. Terlanjur sudah menye­bar kemana-mana, berbagai nuansa perbe­daan tak urung muncul.

“Karena masih tahap saling berserobok pandang, keduanya saling terpukau, jadi tak mungkin sudah saling tersenyum,” katanya. Dalam ragam lain, ia juga kerap menjumpai adegan saat sang dara memperbaiki kerah baju yang menurun. Ada penari yang diajarkan hanya menjepit baju di pundak, sementara ia mengajarkan tangan penari menaikkan kerah baju.

Ragam II-VI  bercerita saat cinta mulai meresap, tingkah laku pemuda yang kas­maran sampai adegan saat si gadis membalas isyarat yang disampaikan si pemuda. Ragam VII-VIII menggambarkan saat sepasang muda-mudi itu mulai tumbuh kesepahaman.

“Ragam IX disebut tari lonjak, simbol menunggu restu kedua orang tua. Sedang ragam X tari datang-mendatangi atau pinang-meminang dan ragam XI tari rupa-rupa jalan yang menggambarkan proses mengantar pengantin ke pelaminan,” tutur Jose Risal. Ragam XII adalah tari sapu tangan sebagai simbol telah menyatunya dua hati yang saling mencintai dalam ikatan perkawinan.

“Bayangkan, dari ragam I sampai XI, tidak ada sama sekali adegan persentuhan antara muda-mudi yang sedang kasmaran itu. Bahkan saat sudah kawin pun, hanya digambarkan lewat adegan dua saputangan yang saling bersentuhan,” katanya. Ia memberi catatan, setiap guru atau penari Serampang 12, tidak boleh lupa dengan konteks waktu lahirnya tari tersebut.

Tari tersebut juga tak lepas dari konteks politik saat Indonesia baru lepas dari belenggu penjajahan. Saat itu Presiden Soekarno, getol ingin menggantikan tarian-tarian dansa yang kebarat-baratan. Soekarno meminta setiap daerah mengirimkan tarian yang sesuai adat ketimuran untuk dipo­pulerkan.

“Sauti yang waktu itu bekerja di Jawatan Kebudayaan Sumatera Utara menawarkan Serampang 12 dan Soekarno me­nga­pre­sia­sinya. Pada 1955 rombongan penari Seram­pang 12  dipimpin Guru Sauti diundang ke Istana Presiden di Bogor. Salah satu anggota rombongan itu yang masih hidup adalah Khairuddin Dahlan atau Tok Udin.

Ia pemain musik pengiring  Sauti  sejak 1959. Tok Udin mengenal Sauti saat mengajar di Sanggar Melati pimpinan Ida Batubara. Pemusik lain yang ikut rombongan adalah pemain akordeon Dahlan Sinaga, dan pemain gendang Tutur Surbakti. Keduanya pemusik asal Binjai. Tok Udin waktu itu masih remaja, tapi sudah mahir memukul gendang melayu.

“Di Istana berkumpul seluruh seniman, ada banyak tarian dipertunjukan, saat ditarikan Serampang 12, Bung Karno langsung bilang, ‘ini tari yang sesuai budaya ketimuran’,” tutur Tok Udin saat dijumpai di rumahnya di Batangkuis, Senin (9/4).

Sejak, itu Tok Udin yang lahir di Mabar 4 Maret 1942 ikut berkeliling ke berbagai negara sebagai maestro gendang melayu mengikuti rombongan Sauti. Tiongkok, Perancis, Jepang, Malaysia adalah yang pernah dikunjunginya.

Sudah lebih setengah abad Guru Sauti meninggalkan karya besarnya untuk bangsa ini. Sudah tak terhitung orang yang meme­lajari tari Serampang 12. Mereka kini banyak yang menjadi guru tari Serampang12. Mereka tersebar di berbagai kota, tak hanya di Indonesia, bahkan di luar negeri. Buku-buku pelajaran menulis tentang tari ini. Guru-guru kesenian mengajarkan tari tersebut  kepada murid mereka. Orang sampai saat ini, masih banyak yang  tersihir dengan tarian tersebut.

Tapi apa sebenarnya inti dari menari tarian Serampang 12 menurut Guru Sauti sendiri? “Menari itu intinya menahan tenaga. Kalau tenagamu 10 keluarkan 7 saja saat menari, supaya gerakan jadi lembut, bukan gemulai seperti wadam sebagai dipahami orang selama ini.” Itulah nasehat Guru Sauti kepada Jose Rizal. Sebuah nasihat yang telah dipraktikkan untuk menjaga agar tari Serampang 12 sesuai konsep awalnya.

()

Baca Juga

Rekomendasi