Bacha Bazi:

Kehidupan Rahasia Gelap Pedofilia di Afghanistan

SELAMA bertahun-tahun Afgha­nistan merahasiakan sisi tergelapnya, tradisi memelihara bocah di bawah umur untuk ke­puasan seksual. Banyak bocah yang meninggal dibunuh setelah mencoba melarikan diri.

Secara etimologis, "bacha bazi" adalah istilah slang ini ter­diri dari kata bacha berarti anak-anak dan bazi yang berarti per­mainan, sehingga artinya kurang lebih "bermain bersama anak lelaki". Selain menari, tugas mereka adalah menemani si pemilik dalam aktivitas yang bersifat seksual.

Pada akhirnya, praktik ini ke­rap dijadikan sebagai ajang pros­titusi anak terselubung yang ber­kaitan dengan praktik pornografi anak serta perbudakan seksual.

Meski tak seluruhnya, dalam beberapa kasus ada remaja kor­ban bacha bazi yang dijadikan kanal penyalur hasrat homosek­sual sang pemilik, sementara yang lain bercampur dengan hasrat pedofilia.

Aib Terselubung Afgha­nistan

Pada 2017 silam Departemen Pertahanan AS berhasil men­cegah publikasi laporan indepen­den tentang situasi sosial politik di Afghanistan. Di dalamnya ter­muat sebuah rahasia gelap yang mengakar lama di negeri yang kerap disebut sebagai kuburan kerajaan itu, yakni tradisi pedofilia kaum penguasa dan bertahta.

Musuh dalam Selimut

Laporan tersebut menyimpan bom waktu. Koalisi barat mem­butuhkan bantuan para warlords (panglima perang) dan pe­muka suku. Namun kebia­saan mereka memelihara bocah Bacha Bazi alias bocah penari untuk dijadikan budak seks menem­patkan militer AS dalam posisi pelik.

Pentagon tidak berdaya meng­gusur praktik yang telah men­darah daging tersebut tanpa me­micu amarah para penguasa lokal.

Kebiadaban sebagai Sta­tus Sosial

Keberadaan Bacha Bazi berkaitan erat dengan status so­sial di Afghanistan. Mereka tidak dipan­dang terlarang atau homo­seksual dalam masyarakat yang cendrung miso­gi­nik, melainkan sebagai budak seks yang halal. Para bocah itu pandai menari dan tidak jarang mengalami penin­dasan atau kekerasan dari para patronnya. Dalam beberapa ka­sus, bocah Bacha Bazi dibunuh dan disiksa apabila mencoba melarikan diri.

Dosa Kolektif Afghanis­tan

Pada 2013 silam Komisi In­dependen Hak Azasi Manusia membuat laporan mendalam ten­tang budaya tercela itu. Menurut AIHRC sebanyak 56% pelaku pedofilia yang melibatkan Bacha Bazi berusia antara 31 hingga 50 tahun. Meski diklaim sebagai tradisi penguasa, 64% pelaku Bacha Bazi merupakan warga biasa.

Petaka Dipaksakan

Ironisnya pelaku diuntungkan oleh situasi muram pendidikan dini di Afghanistan. Sekitar 87% bocah Bacha Bazi mengaku tidak bersekolah dan 58% tidak bisa membaca.

Hampir semua bocah meng­klaim dipaksa melakukan hu­bungan seksual. Sekitar 90% korban berusia antara 13 hingga 18 tahun.

Simalakama Moral Ser­dadu AS

Seorang perwira militer AS dikabarkan dipecat lantaran memukul seorang koman­dan militer Afghanistan ketika dia mene­mukan seorang bocah diborgol di atas ran­jang pribadi sang komandan. Kisah serupa menimpa sejumlah perwira lain yang ditugaskan mengawal mi­liter Afghanistan pasca penarikan mundur pasukan AS di Afgha­nistan.

Uang Lancarkan Prak­tik Sesat

Sejak 2017 pemerintah Afgha­nistan mulai aktif memburu para pelaku pedofilia, antara lain de­ngan mengharamkan Bacha Bazi. Namun menurut laporan UNI­CEF, proses penyidikan sering berakhir kosong tanpa dakwaan. Berbagai pihak mencurigai maraknya praktik nepotisme dan korupsi mempersulit upaya meng­akhiri praktik sesat tersebut.

Masa Depan Suram

Sebagian besar korban Bacha Bazi ditolak keluarga lantaran dianggap memba­wa aib. Banyak yang melarikan diri sebagai pe­ngungsi, sementara yang lain berusaha mencari nafkah lewat satu-satunya kemam­puan menari yang mereka pelajari sebagai Bacha Bazi. (wkp/dwc/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi