Oleh: MH Heikal
Polkadot adalah pola. Bentuknya lingkaran-lingkaran yang biasanya berukuran dan berwarna sama. Polkadot cukup sering ditemukan pada pakaian anak-anak. Tahun 1965 Bob Dylan disampul singelnya mengenakan kemeja bermotif polkadot hijau. Sebelumnya tahun 1940 lagu berjudul “Polka Dots and Moonbeams” populer. Lagu ini merupakan rekaman pertama Frank Sinatra. Selama setahun pertama lagu tersebut, berbagai rancangan mode membuat cetakan kain berpola polkadot.
Lebih dari itu, ada seorang seniman wanita yang sangat “tergila-gila” pada polkadot. Namanya Yayoi Kusama. Usianya kini 89 tahun. Dia lahir di Matsumoto, Nagano, Jepang. Masa kecilnya penuh trauma meski berasal dari keluarga pedagang yang kaya raya.
Pada beberapa kesempatan, Yayoi menyebut karya seninya merupakan representasi kekerasan di masa kecil. Ibunya adalah sosok yang keras. Ayahnya suka berselingkuh.
Jaring, titik dan bunga-bunga merupakan citra masa kecil yang dia dapat saat mengalami kekerasan. Saat telah dewasa dia memilih menerjemahkan rasa takut dan halusinasinya sebagai karya seni.
Tepatnya ketika berusia 10 tahun, dia sering mengalami halusinasi. Dia berhalusinasi melihat bunga-bunga berbicara kepada dirinya. Selain itu, justru menginspirasinya, dia berhalusinasi melihat bintik-bintik padat. Yayoi terpesona pada bebatuan putih halus yang tersebar di dasar sungai dekat rumahnya. Kemungkinan besar inilah yang membuat Yayoi suka pada bintik berpola.
Yayoi sempat belajar di Kyoto City Specialist School of Arts selama satu tahun (1948-1949). Disinilah dia belajar membuat Nihonga (kaligrafi tradisional Jepang). Tahun 1957 konflik keluarganya terjadi. Dia memutuskan pindah ke Amerika Serikat. Awalnya di kota Seattle. Kemudian ke New York, setelah berkomunikasi dengan Georgia O’Keffee.
Di Amerika, Yayoi menjadi tokoh sentral aliran avant-garde dan menerima berbagai pujian. Karya-karya Yayoi selama disana dipamerkan bersanding dengan karya seniman ternama Amerika.
Sejak 1960 hingga 1968, Yayoi mengadakan pameran-pameran mengejutkan dan spektakuler. Berbagai pertunjukan besar seni juga digelar untuk mengampayekan sikapnya.
Tahun 1966 untuk pertama kalinya dia berpartisipasi dalam Venice Biennale ke-33. Saat itulah Yayoi memamerkan ratusan bola cermin di luar ruangan yang dijuluki “karpet kinetik”. Karya inilah yang disebut dengan nama Narcissus Garden.
Pada 1973, Yayoi pulang ke Jepang sebab kesehatannya memburuk. Dia mengikuti berbagai terapi, hingga sempat dirawat -atas kehendaknya sendiri- di rumah sakit jiwa. Meski demikian di saat seperti itu pun Yayoi terus berkarya. Di saat ini pula ia menulis novel, puisi dan menerbitkannya.
Yayoi Kusama, wanita penuh dengan peluang. Dia merancang desain interior. Menulis novel. Bahkan melakukan syuting film. Tahun 1989 dia kembali ke kancah seni internasional.
Pada 1993 Yayoi kembali mengikuti Venice Biennale dengan karyanya Mirror Room (Pumpkin). Sebuah karya instalasi yang memenuhi ruangan cermin dengan pola polka dot yang menjadi ciri khasnya.
Yayoi menganggap bahwa satu polkadot berbentuk seperti matahari. Simbol energi dunia dan kehidupan kita dan bulan yang sifatnya tenang. Bundar, lembut, berwarna, tak berasa dan tak bermakna. Polkadot telah menjadi aliran. Polkadot adalah jalan menuju ketidakterbatasan.
Polkadot, jaring dan labu menjadi unsur yang tidak bisa dilepaskan dalam karya-karya Yayoi. Menariknya pula, polkadot ini dapat dihubungkan dengan tubuh dan konsepnya tentang pengaburan diri. Selain pendekatan uniknya pada ruang.
Di usia sepuh kini, Yayoi masih melangsungkan berbagai pameran diberbagai penjuru dunia. Bahkan saat ini, 130 karyanya dipamerkan di Jakarta. Tepatanya di Museum Seni Modern dan Kontemporer di Nusantara (Macan). Pameran ini berlangsung sejak 12 Mei hingga 9 September 2018.
Lewat karya seni berciri khas polkadot Yayoi Kusama mendunia. Dia menganggap manusia serupa titik polkadot. Manusia dengan manusia lainnya, bersama-sama, seharusnya menyatu di dunia yang merupakan surga.










