AMBAR atau amber adalah resin pohon yang menjadi fosil dan dihargai karena warna serta kecantikannya. Ambar berkualitas bagus digunakan dalam pembuatan barang permata dan ornamen. Meski tidak termineralisasi, ambar sering digolongkan sebagai sebuah batu permata.
Ambar sering disalahpahami terbentuk dari getah pohon; padahal tidak. Getah adalah cairan yang bersirkulasi melalui sistem pembuluhnya tanaman, sedangkan resin merupakan substansi organik amorf setengah-padat yang dikeluarkan dalam kantung dan kanal (saluran) melalui sel epitelium pada tanaman.
Sebagian besar amber di dunia ini berumur 30 sampai 90 juta tahun. Karena dulunya adalah resin pohon yang lunak dan lengket, kadang-kadang di dalam amber terdapat serangga dan bahkan hewan vertebrata yang kecil.
Seiring dengan perjalanan waktu, satu demi satu fosil hewan yang terperangkap dalam amber akhirnya terkuak. Kini ditemukan fosil bayi ular di amber. Bayi ular yang masih terawat dengan baik ini jadi pertama dari jenisnya yang pernah ditemukan dalam bentuk fosil di sebuah ambar di Myanmar. Menurut para ahli paleontologi, dengan usia 99 juta tahun, fosil ini juga merupakan ular tertua di wilayah tersebut.
Para peneliti memberi nama spesies ular terbaru ini Xiaophis myanmarensis. Ia tampaknya masih berhubungan dengan sekelompok ular modern yang ditemukan di Asia Tenggara, termasuk ular pipa yang tidak beracun. “Belum pernah melihat fosil bayi ular sebelumnya. Menemukan ular berusia hampir 100 juta tahun ini tentu saja sangat menakjubkan,”ujar Michael Caldwell, ahli fosil reptil dari University Alberta yang melakukan penelitian.
“Tidak jelas apakah baru dilahirkan atau menetas dari telur. Namun, berdasarkan ukuran dan tahap perkembangannya, ular ini terlihat memang masih bayi,” imbuhnya. Ambar lain yang juga ditemukan di tambang Myanmar, menyimpan sepotong kulit ular dengan garis terang dan gelap – kemungkinan berasal dari Xiaophis dewasa atau jenis lain.
Para peneliti tidak bisa membuktikan bahwa itu adalah kulit ular. Namun, ukuran, bentuk, dan susunannya menunjukkan ke arah sana. Jika nanti terbukti benar, maka itu juga menjadi kulit ular tertua yang pernah ditemukan dalam sebuah ambar.
Berukuran kurang dari dua inci, ular ini sangat kecil dan sulit dilihat dengan mata telanjang. Namun, pindai sinar x memungkinkan tim peneliti untuk mempelajari bentuk dan posisi tulang ular – termasuk 97 tulang belakangnya yang ajaib.
Berdasarkan data tersebut, ular kuno ini tampaknya mirip dengan yang berasal dari super benua Gondwana, yang ada pada akhir zaman Kapur (Cretaceous). Fosil ini juga memiliki fitur yang tidak ada lagi pada spesies modern, seperti taji tulang berbentuk V di bagian bawah ekornya.
Taji tersebut kemungkinan berfungsi untuk melindungi arteri di sepanjang ekor dan berguna untuk menstabilkan tubuh ular yang tidak memiliki tangan dan kaki.
“Sepertinya tidak ada lagi ular terawetkan yang usianya lebih tua dari ini,” jelas John Scanlon, ahli paleontologi di University of New South Wales. Menurut Scanlon, fosil kadal mungkin berlimpah di wilayah utara yang merupakan pecahan super benua Laurasia, namun ular sangat jarang.
“Memang ada fosil ular lain dengan usia yang sama, tetapi mereka berasal dari endapan laut di sekitar Mediterania sehingga diklasifikasikan sebagai spesies akuatik. Xiaophis sendiri jelas berasal dari daratan dan mirip dengan ular yang hidup di tanah dan menggali lubang,” tambahnya.
Bayi ular di dalam ambar ini diketahui kehilangan tulang tengkoraknya. Padahal, itu bisa memberikan banyak informasi mengenai ekologi, habitat, serta hubungannya dengan ular lain.
Menurut para ilmuwan, embrio ular tadi memberikan data berharga terkait bagaimana ular modern berevolusi demikian juga menyoroti lingkungan prasejarah. Spesies baru itu adalah ular Mesozoic pertama yang ditemukan di lingkungan berhutan, sehingga mengindikasikan anek ragam ekologi lebih besar di antara ular-ular pertama dari perkiraan sebelumnya. Era Mesozoic, juga dikenal sebagai “zaman dinosaurus” atau “zaman reptil. ” (fxnc/bbc/es)











