Medan, (Analisa). Pada 2007, sepucuk surat melayang ke rumah dr. Sofyan Tan. Saat itu, anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu belum jadi anggota dewan. Si pengirim surat, Lisnawati Ginting, seorang remaja dari Desa Huta Tonga, Kabupaten Dairi.
Lisna saat itu baru tamat SMA. Remaja desa itu ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Apa daya, orangtuanya hanya petani kecil dan tengah sakit-sakitan. Mereka tak punya biaya untuk mewujudkan impian putrinya. Itu sebabnya Lisa Ginting menulis sepucuk surat ke dr. Sofyan Tan. Ia berharap tokoh pendidikan Sumut itu bisa membantu memecahkan masalahnya.
Gayung bersambut. Butuh waktu sebulan, bagi Sofyan Tan untuk melacak tempat tinggal hingga akhirnya bisa bertatap muka langsung dengan Lisna Ginting dan orangtuanya.
"Lisna Ginting lalu saya jadikan anak asuh saya. Uang kuliah kos, transpor saya yang tanggung, sampai akhirnya ia jadi sarjana hukum.," ucapnya.
Lalu 2014 saat dr. Sofyan Tan terpilih jadi anggota DPR RI, Lisna diangkat jadi asisten pribadinya di Jakarta. Gajinya Rp5 juta. Melihat potensinya, Lisna disekolahkan lagi untuk mengambil pendidikan S2 hukum. Lisna kini sudah bergelar master hukum. Oleh Sekretariat Jenderal DPR RI, Lisnawati Ginting kini diangkat jadi tenaga ahli. Gaji yang diterimanya dua kali Iipat lebih dari sebelumnya.
Menggunting kemiskinan
Apa makna dari cerita di atas?
"Saya mungkin tidak bisa memberantas kemiskinan, tapi lewat pendidikan kita bisa menggunting kemiskinan seperti yang dialami Lisa Ginting," tutur dr. Sofyan Tan.
Kisah itu dituturkannya di depan sekitar seribu massa yang menghadiri acara ulang tahun usianya yang ke-59 tahun di Jambur Halilintar, Jalan Jamin Ginting., Minggu (23/9). Massa berasal dari para abang becak, komunitas muda-mudi dan ibu-ibu rumah tangga yang berasal dari berbagai kecamatan di Medan Johor dan Medan Tuntungan. Halaman jambur siang itu berubah jadi lautan becak motor.
Lisna Ginting juga hadir pada acara ulang tahun siang itu. Tentu bukan sekali ini saja dr Sofyan Tan merayakan ulang tahun bersama kelompok masyarakat marginal. Jauh sebelum jadi anggota DPRI, ia juga pernah merayakan ulang tahun bersama warga masyarakat yang tinggal di pinggiran Sungai Deli. Mereka warga miskin kota yang kerap jadi langganan banjir. Ia juga pernah membawa seratusan anak asuh nonton film bareng di sebuah mal. Kali lain ia menjamu para anak asuh menikmati ayam goreng dari sebuah franchise terkenal.
"Umumnya orang yang pernah miskin bisa menghayati seperti apa tidak enaknya miskin. Karena itu saya telah mewakafkan diri untuk berjuang memperbaiki anak-anak dari keluarga miskin agar mereka keluar dari jerat kemiskinan," katanya. Pendidikan adalah media untuk menggunting kemiskinan itu. Menurut Sofyan Tan, orang boleh miskin secara materi, namun orang tak boleh miskin hati dan miskin pendidikan.
Selama empat tahun sebagai anggota dewan, Sofyan Tan telah berjuang keras agar anggaran yang ada di pusat (APBN) "mengalir" ke Sumatera Utara agar bisa dinikmati masyarakat miskin. Hal itu untuk memastikan agar hak mereka untuk mendapat pendidikan terjamin. Bersama anggota timnya, mereka telah menyisir ke sekolah-sekolah, ke desa-desa di Deliserdang, Serdang Bedagai, Tebingtinggi dan Medan untuk mendapatkan data-data anak-anak miskin yang akurat.
Perlu diperjuangkan
Meskipun begitu, Sofyan Tan menilai masih banyak permasalahan-permasalahan di Sumatera Utara khususnya di bidang pendidikan yang harus diperjuangkan. Melihat permasalahan tersebut, ia akan memperjuangkannya kembali menjadi calon legislatif untuk DPR RI dari daerah pemilihan Sumut.
"Bagi saya masing-masing kandidat memiliki kesempatan yang sama untuk menang. Strategi khusus memang tidak ada kecuali menjumpai pemilih tersebut," katanya.
Baginya, perhatian perjuangan pendidikan selama ini di Sumut tidak terlihat, "Meskipun masih banyak lagi permasalahan pendidikan, tetapi dengan waktu empat tahun saya menjabat dengan memberikan bantuan dan mengunjungi 1.920 sekolah.
Pengaduan-pengaduan soal gedung yang bocor dan lainnya mulai berkurang. Untuk Indonesia pintar jatah anak-anak yang kurang mampu untuk kita perjuangkan juga belum tercapai," ucapnya.
Sedikitnya, hampir 100.000 anak di Sumut yang telah mendapatkan Kartu Indonesia Pintar sehingga pendidikan mereka terjamin. Mereka anak-anak SD, SMP, SMA atau yang sederajat yang ada di 1.994 sekolah. Sementara jumlah mahasiswa yang berhasil difasilitasi kuliah secara gratis di PTN dan PTS saat ini berjumlah 1.100 orang.
Sebanyak 152 sekolah, juga telah dibantu untuk direhabilitasi, mendapat pengadaan tambahan ruang kelas baru, laboratorium dan perpustakaan. Baik sekolah swasta dan negeri. Sofyan Tan tak rela tempat mengelola proses belajar mengajar seperti "kandang ayam".
Menikmati kisah orang-orang kecil
Namun perhatian dan kepedulian Sofyan Tan tak hanya tertuju pada pendidikan di Sumut. Pada perayaan ulang tahunnya, hadir juga Yenti atau kerap dipanggil Yayuk beserta suami dan ibunya. Yayuk seorang warga Kelurahan Kuala Bekala, Medan Johor. Pada 2013, ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Tragis, kaki kirinya harus diamputasi. Ia sempat koma dan mengalami krisis.
Wajar, perempuan mana yang ingin hidup dengan satu kaki, atau selamanya duduk di atas kursi roda. Namun 6 bulan setelah itu, hidup Yayuk berubah. Suatu hari ia dijenguk dr. Sofyan Tan di rumahnya. Yayuk mendapat bantuan kaki palsu dari dr. Sofyan Tan. Perlahan, kepercayaan Yayuk mulai pulih. Ia mulai ceria lagi. Ia juga mulai beraktivitas seperti sebelumnya, semisal membantu kembali ibunya berjualan lontong malam. Lakon hidup pun kembali terasa normal baginya.
"Seumur hidup saya tidak akan melupakan kebaik hati Pak Sofyan Tan," tutur Yayuk. Kebahagiaan hidup Yayuk makin lengkap sejak ia membina keluarga sekalipun belum mendapat momongan. Yayuk kini punya kesibukan baru mengelola bengkel las bersama suaminya.
Ia juga telah lincah mengendarai kembali sepeda motor, bahkan kadang menyetir mobil untuk mengantar jerjak atau pagar besi pesanan pelanggannya.
Menghadiri perayaan ulang tahun dr. Sofyan Tan memang tak hanya menikmati berbagai hidangan rakyat yang maknyus mulai cimpa (lapet), bakso, martabak telor, mi ayam, sate padang, tapi juga menikmati kisah-kisah perjuangan orang kecil bersama dr. Sofyan Tan dalam menemukan kembali harkat kemanusiaan mereka. (ja/ns)











