Oleh: Rhinto Sustono
DARI banyaknya jenis batu akik di bumi nusantara, varian batu pancawarna menjadi salah satu yang tergolong melimpah. Dari jenis batu inilah yang kerap memunculkan akik bergambar. Setidaknya pecinta dan kolektor akik menglasifikasikan dalam 7 golongan.
Sejak ratusan tahun silam, kandungan bumi Indonesia memang memberikan kekayaan melimpah, khususnya menyangkut batu akik. Sebut saja bahan batu akik terkenal dari Garut dengan batu cincin hijaunya. Kemudian dari Pacitan, Jawa Timur, dan dari Pulau Bacan, Halmahera (Maluku Utara.
Bumi Andalas juga tidak mau kalah, dari sisi utara Sumatera, Aceh, Sumatera Utara, hingga Bengkulu dan Lampung juga punya kekayaan akik dari ragam jenisnya. Kita juga pasti idak lupa dengan batu sunge dareh yang terkenal dari Sumatera Barat.
Dari sekian banyaknya kekayaan alam yang dieksplorasi sejak zaman kerajaan itu, seberapa banyakkah jumlah batu bergambar yang memiliki nilai keterukuran secara proporsional, sesuai dengan anatomis gambarannya? Baik yang bergambar manusia, binatang, dan benda-benda lainnya, yang memang benar terukur dan terstandarisasi dari segi bahan dan kualifikasi gambarnya.
Ternyata, meskipun ketersediaan bahan baku batunya melimpah, namun tidak terlalu banyak atau malah jarang ditemukan batu yang memiliki gambar sesuai proporsi dan berstandarisasi. Padahal, keutuhan gambar, kekhasan, keunikan warna yang ditimbulkan, dan ukurannya bisa menjadikan batu bergambar itu dihargai selangit.
Era keemasan akik di nusantara sekira empat tahunan lalu, varian batu akik bergambar atau motif pernah menyeruak di tengah melambungnya harga akik bacan, giok aceh, bio solar aceh, fire opal, dan lainnya. Akik bergambar yang juga kerap disebut sebagai batu kekuasaan Tuhan ini, sering memunculkan motif yang unik dan memiliki penggemar tersendiri.
Ibunegara saat itu, Ani Yudhoyono bahkan pernah mengunggah akik bergambar di akun instagramnya. Motif lafadz Allah pada batu yang dimilikinya itu, sempat menggemparkan. Bahkan seorang pemilik akik bergambar naga di Sumatera Utara, kala itu juga pernah membanderol akiknya senilai Rp18 miliar. Luar biasa.
Pada setiap usai kontes, juga muncul akik pancawarna bermotif unik yang menjadi buah bibir karena memenangkan kontes. Dari ribuan jenis batu pancawarna, batu jasper milik Edwin warga Gorontalo yang menemukan batu tersebut di salah satu sungai di Mamuju sempat menyedot perhatian pecinta dan kolektor akik di tanah air.
Dalam liontin pancawarna itu, selain bergambar kepala banteng, juga terdapat sejumlah gambar hewan lain yang terlukis cantik dan indah. Di atas kepala bantengnya, terdapat gambar seekor burung pelatuk sedang bertengger, sedangkan di depan moncong banteng terlihat sebentuk kepala burung elang dan gambar kepala orang utan.
Karena keunikannya, batu itu pun sengaja dibuat timbal-balik, sebab di lain sisinya juga terdapat guratan alami bergambar wajah manusia serta gambar unggas seperti burung pelatuk, ayam, dan kodok. Si empunya batu itu pun menjuluki batu kesayangannya sebagai lambang kekuatan dan kedamaian.
Setidaknya ada 7 motif akik bergambar yang bisa dikoleksi atau dikenakan pada setiap kesempatan. Paling banyak yang bermotif tulisan kaligrafi. Untuk motif ini tidak semata kaligrafi Arab berlafazkan Allahdan Muhammad, tapi ada juga beraksara Jawa maupun China. Ada juga yang bermotif sebangun simetris sempurna, misalnya bermotif kacamata, motif segitiga, motif roda, dan motif-motif simetris lainnya.
Motif unik lainnya menyerupai tokoh mitologi, misalnya tokoh miologi Jawa, Nyi Roro Kidul, tokoh kartun, dan tokoh-tokoh lainnya. Namun kerap terjadi, kemiripan gambaran tokohnya hanya maksimal 90 persen. Motif lanskap pemandangan juga paling sering dijumpai, misalnya gunung, pantai, lautan, dll.
Ada pula motif binatang dan tumbuhan. Tak semata binatang air, tapi juga hewan darat dan jenis unggas hingga jenis hewan dalam mitologi masyarakat nusantara. Misalnya ikan, banteng, elang, naga. Pun bermotif ragam tumbuhan seperti teratai, anggrek, dan lainnya.
Yang lebih unik lagi, adanya fosil tumbuhan atau binatang asli di dalam batunya. Misalnya fosil semut atau lalat yang erprangkap di dalamnya. Varian ini bisa melambungkan harga jualnya karena dipastikan jenis ini sangat langka.
Motif lainnya yang sering ditemukan yakni bermotif abstrak dengan berbagai perpaduan warna dan goresan gambarnya. Meskipun begitu, jenis pancawarna abstrak ini tetap saja banyak peminatnya.
Dalam banyak hal, batu bergambar ini tidak hanya dikenakan sebagai mata cincin. Keunikan gambarnya agar lebih utuh kerap diberi pengikat untuk kesempurnaan bentuknya. Misalnya jika hanya kepala binatang saja yang tergambar di batunya, maka akan dikreasikan dengan pengikat berbentuk tubuh hewan, sehingga bentuknya menjadi sempurna. Intinya, batu bermotif akan lebih menarik jika mendapat sentuhan tangan-tangan kreatif.











