Sumur Miring
NELANGSA
mulut senang sekali mengumbar kata
tidak peduli nasib tangan
mulut senang menghancurkan tenang:
tangan gelisah, tak mampu bekerja - bimbang
tangan cuma sanggup berjalan
sedangkan mulut terus lari - tak mengenal kehengingan
tangan kewalahan:
satu belumselesai
lain datangbertubi-tubi.
tangan lelah
tapi kata terus berlimpah
kapan mulut berhenti, memberi kesempatan
kepada tangan mewujudkan seluruh perkataan?
tanpa perbuatan, kata-kata
bukankah sia-sia?
KARMA
masa ganti masa,
kata ganti kata,
nada ganti nada,
mata ganti mata,
tangan ganti tangan,
hidup ganti hidup,
mati gan timati.
taburlah!
tuailah!
Itov Sakha
O, MONAS (1)
betapa susah payah berada di puncakmu
kekasih, apakah arti sebongkah emas
jangan tunggu Godot tuk dukung timnas kita
banyak patung kecil di kotak kaca museum Monas
tak ada jersey kesebelasan garuda
dan sekadar replika piala dunia
ayolah, sayang. agar monumen tak siasia
mungkin betul Bung Karno lupa
meminta sebelas pemuda hebat
bisa bermain dengan baik, benar dan penuh cinta
o, betapa menyedihkan,
apa karena nenek moyang kita seorang pelaut?
mengarungi ombak. berlayar, menulis kabar petualangan
dan sajak cinta tentang apa saja
: kecuali sepakpuisi
6122018, Gunung Maligas
O, MONAS (2)
di bawah kaki-kaki monas
dua puluh dua bocah, berpeluh
bertelanjang dada. o, betapa indahnya
rumput-rumput hijau berlumpur
mereka ceria, polos dan lugu dilindas bola
si objek bundar usang milik seorang bocah,
seperti membusung dada. itu bola tak berkeluh kesah
di bawah lubang-lubang hidung
si peluit pasrah kena ingus-ludah, di mulut bocah wasit
yang tambun. dia merangkap pemain di babak kedua, ah.
astaga, kusaksikan rumput-rumput mulai melempar bola!
ikut bermain dengan bocah-bocah
o, betapa makmurnya negeriku
di bawah kemilau emas, ribuan pasukan
bersenjata lengkap. mereka berpeluh sampai elus dada
: menunggu usai permainan di babak kedua!
7122018, Gunung Maligas
BENDERA (2)
mungkin banyak lelaki tampak lebih manis
sebab mereguk susu cap nona
daripada produk sejenis bermerek
entah banyak orang lupa, panji-panji telah dijahit
dari tabiat alam: gelora pepohonan, tanah air
dan kelopak matahari
banyak orang lupa panji pemberontakan
disulut dari akar kemiskinan yang terbiar
dan kuasa pembodohan atas manusia, megah berkibar
oh, ibu. banyak orang alpa getah getih
penanda dari alam, sebagai bendera dari rahim-Nya
memutihkan tulang belulang
memerahkan denyut darah
o, mendera-dera jiwa pikiran anak manusia
: banyak orang lupa warna bendera dan rasa merdeka?
8122018, Gunung Maligas










