Di Bulan Ada Molekul Air Bergerak

di-bulan-ada-molekul-air-bergerak

SEMUA orang tahu dan sadar betul air adalah sumber kehidupan. Instrumen Lu­nar Reconnaissance Orbiter (LRO) NA­SA baru saja menemukan "molekul air bergerak" di sisi dekat Bulan. Temuan ini bisa menguntungkan bagi misi manusia ke Bulan di masa yang akan datang.

Satelit alami Bumi ini dulu dianggap sebagai tempat yang kering dan berdebu. Tetapi se­iring waktu gambaran itu berubah. Bulan tidak sekering seperti yang dulu diperkirakan.

Hal ini diungkap penelitian pada 2017 oleh Brown University, Amerika Serikat. Stu­di itu menyarankan mungkin ada se­jumlah besar air di dalam batuan bulan. Temuan tersebut merupakan perubahan besar, sebab semula sebagian besar air di Bulan diperkirakan terletak di dekat ku­tubnya.

Selain berhasil mendeteksi molekul air di Bulan menggunakan data dari LRO, tim ilmuwan juga mengidentifikasi peri­laku kelembapan selama siklus harian Bulan. Para peneliti sebelumnya berasum­si sumber utama air, ion hidrogen dari angin matahari akan terputus ketika Bumi melakukan perjalanan antara Bulan dan Matahari.

Tetapi temuan baru ini tidak melihat penurunan ketika Bumi memutus angin ma­tahari ke Bulan. Ini menunjukkan Bu­lan bisa jadi menampung sumber air yang lebih berkelanjutan daripada yang di­yakini sebelumnya. Para peneliti dalam riset mengatakan temuan ini membuka kesempatan untuk memanen air dari tanah dalam misi masa depan.

Amanda Hendrix, ilmuwan senior Planetary Science Institute sekaligus penulis utama makalah ini mengatakan, "Hasil ini membantu memahami siklus air bulan dan pada akhirnya akan mem­ban­tu ilmuwan belajar tentang akse­si­bi­litas air yang dapat digunakan oleh ma­nusia dalam misi masa depan ke Bulan.”

Ia menuturkan air bulan berpotensi da­pat digunakan oleh manusia untuk mem­buat bahan bakar atau digunakan un­tuk perisai radiasi atau manajemen ter­mal. “Jika bahan-bahan ini tidak perlu di­luncurkan dari Bumi, maka membuat misi masa depan penjelajahan lebih ter­jangkau."

Air permukaan diidentifikasi dalam populasi molekul yang terikat pada tanah bulan, atau regolith. Jumlah dan lokasi bervariasi berdasarkan waktu harian.

Air ini lebih umum di garis lintang yang lebih tinggi dan cenderung melom­pat-lompat saat permukaan memanas. Siang hari di Bulan bisa mencapai 127 de­rajat Celsius.

Baru

Kurt Retherford, peneliti utama instrumen Lyman Alpha Mapping Project (LAMP) dari Southwest Research Institute di San Antonio, Texas, AS, mengata­kan temuan ini adalah hasil baru yang penting tentang air bulan.

“Kami baru-baru ini meng­ubah mode pe­ngumpulan cahaya LAMP untuk me­ngukur sinyal yang dipantulkan pada siang hari di bulan dengan lebih presisi, me­mungkinkan kami untuk melacak lebih aku­rat di mana air berada dan berapa ba­­nyak yang ada," katanya.

LAMP adalah spektograf ultraviolet yang dibangun untuk memetakan pantulan panjang gelombang ultralight pada per­mukaan Bulan. Para ilmuwan menje­las­kan bagaimana pengukuran LAMP dari lapisan molekul yang me­nempel semen­tara di permukaan membantu menentukan perubahan hidrasi bulan.

Air tetap terikat pada regolith sampai siang hari di Bulan ketika suhu permukaan bulan cenderung memuncak. Selanjutnya, molekul air secara termal mengalami desorbsi dan dapat "melompat" ke lokasi terdekat yang cukup dingin bagi molekul untuk menempel pada atmosfer lemah bulan, sampai suhu turun dan molekul kembali ke permukaan.

Temuan ini mengesankan karena mo­lekul air sulit dideteksi dari orbit. Ca­haya memantul dari permukaan Bulan mem­buatnya sulit untuk mendeteksi molekul air yang bergerak.

Sebelumnya molekul air yang "me­lompat" dianggap sebagai anomali atau artefak dari cara cahaya memantul. Tetapi sekarang LAMP telah menunjuk­kan air se­benarnya bergerak di sekitar per­mukaan.

John Keller, wakil ilmuwan proyek LRO dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Maryland, AS, me­ngatakan, "Hasil ini merupakan langkah pen­ting dalam memajukan kisah air di Bu­lan dan merupakan hasil akumulasi data selama bertahun-tahun dari misi LRO." (grl/btr/ar)

()

Baca Juga

Rekomendasi