Mantan Wakil Bupati Gagal Dongkrak Suara PKB, Ini Kata Pengamat

Mantan Wakil Bupati Gagal Dongkrak Suara PKB, Ini Kata Pengamat
Mantan Wakil Bupati Gagal Dongkrak Suara PKB, Ini Kata Pengamat (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Berdasarkan data dari website resmi KPU, https://pemilu2024.kpu.go.id , hingga hari Sabtu, 17 Februari 2024 pukul 19:30 WIB, terdapat beberapa mantan Kepala Daerah yang berat memenangkan Pileg.

Salah satunya mantan Wakil Bupati Serdang Bedagai masa jabatan 2014-2015, Syahrianto yang suara Pemilihnya jauh dari harapan. Bahkan dari hasil suara PKB, Syahrianto berada di urutan ke 6 khusus Caleg PKB.

Urutan suara PKB terbanyak diperoleh Ashari Tambunan, diikuti Rania Adiba, Suryani Paskah, Robah Mahzuni dan Mikhael Banyamin.

Dari 33,5 persen data yang masuk, Syahrianto yang maju dari PKB hanya mampu mendulang suara sebanyak 4.442 suara. Ini menandakan jika dirinya tidak mampu menarik hati masyarakat.

Menurut Pengamat Politik Sumatera Utara, Warjio menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan mantan Kepala Daerah tak bisa menarik hati masyarakat pada Pemilu 2024 ini.

Menurutnya, setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan mantan Kepala Daerah tak mampu bersaing memperebutkan suara rakyat.

"Pertama, fenomenanya banyaknya Kepala daerah yang ingin maju kembali khususnya di legislatif karena menurutnya masih banyak masyarakat yang berpihak dengannya, namun nyatanya berbalik," ungkap Warjio, Minggu (18/2).

Ia menilai para caleg yang berasal dari mantan Kepala Daerah lupa jika sebenarnya banyak masyarakat yang tidak menginginkannya kembali.

"Ada 3 faktor, ya mungkin selama ini di daerah, banyak memberikan kekecewaan di masyarakat, sehingga masyarakat sudah tidak lagi mempercayainya," jelasnya.

Kemudian yang kedua menurut Dosen di Universitas Sumatera Utara ini juga dipengaruhi karena mesin politik yang dimiliki kepala daerah ini maju sebagai calon legislatif tidak berjalan.

"Jadi kalo dulu kepala daerah kenapa bisa kuat secara politik karena ada mesin birokrasi yang tersusun terstruktur, namun kini mesin itu sudah tidak bisa diharapkan lagi," tambahnya.

Dan faktor ketiga menurut Warjio, karena pejabat yang mengikuti Pileg ini rata-rata masih baru berada di dalam partai yang mengusungnya maju pada Pemilihan Legislatif 2024 ini.

"Dia tidak punya pengalaman, tidak punya tim yang kuat mendelegasikan apa yang dia inginkan, dan kalah saing dengan kader yang sudah lama berada di partai," tandasnya.

(JW/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi