Palas Miliki Potensi Jadi Kota Beragam Cagar

Palas Miliki Potensi Jadi Kota Beragam Cagar
Candi Sipamutung, peninggalan agama Buddha di Padanglawas (Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Padanglawas)

Analisadaily.com, Padanglawas - Kabupaten Padanglawas memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kota beragam cagar. Hal itu mengingat banyak situs bersejarah di daerah itu.

Pj Bupati Padanglawas (Palas) Edy Junaedi Harahap mengatakan, Padanglawas memiliki beragam cagar budaya dan situs yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

" Padanglawas itu banyak menyimpan situs bersejarah dan sangat potensial untuk dikembangkan," kata Edy.

Edy menjelaskan, Padanglawas bukan hanya daerah penghasil Sawit, tetapi juga daerah yang memiliki peradaban tua yang pernah ada di Nusantara.

Keberadaan peradaban tua itu dapat dilihat dari beragam candi yang ada di Padanglawas. Peraih Pejabat Pratama Teladan Tingkat Nasional 2018 itu menuturkan bahwa candi - candi di Palas dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Palas sudah ditempati ratusan tahun silam.

"Saat ini sedang kita data, dan menjadi target ke depan untuk kita jual. Daerah harus memiliki beragam sektor yang mampu dijual untuk kemajuan masyarakatnya," kata Edy.

Salah satu candi yang paling mudah diakses saat ini adalah Si Djoreng Belangah. Candi ini merupakan situs sejarah peradaban Buddha di Desa Padang Garugur, Kecamatan Barumun Tengah. Candi ini telah teregistrasi sebagai cagar budaya dengan terbitnya SK Menteri No PM.88/PW.007/MKP/2011 dan sampai saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh.

"Bukan hanya itu, informasi yang kita peroleh ada beberapa candi lahi jumlahnya cukup banyak. Ini bukti bahwa sudah ada peradapan di Palas ratusan tahun silam yang harus kita revitalisasi kembali," ujarnya.

Selain.itu ada juga Candi Bahal, Sipamutung, Sangkilon, Pagaranbira, Sijoreng Belanga. Candi tersebut merupakan peninggalan Hindu-Buddha namun tidak diketahui kerajaan apa saja yang pernah bermukim di sana.

Hanya saja, perlu diketahui candi-candi tersebut berasal dari era Hindu-Buddha muncul sebelum abad 12. Terkhusus di Candi Si Djoreng Belanga, dapat ditandai dengan ditemukan sebuah prasasti batu berangka tahun 1101 Saka atau sama dengan tahun 1179 Masehi oleh seorang epigraf (ahli membaca tulisan kuno) bernama Louis Charles Damais.

Sehingga menurut Erond kekayaan itu dapat dijaga dan dilestarikan. Karena semakin dilestarikan nilainya akan semakin mahal serta mampu dikembangkan sebagai kawasan cagar. Candi ini sangat perlu dilestarikan.

Sebab, dapat menjadi pusat pembelajaran era Hindu Buddha di Sumut. Pada tahun 2018, pemerintah melakukan pemugaran terhadap candi ini karena 70 persen bangunannya masih utuh.

"Candi ini dapat dijadikan pusat pembelajaran sekaligus destinasi wisata," ungkap Edy

(ATS/CSP)

Baca Juga

Rekomendasi