Dari Tempat Jual Ikan, Xianyukou Jadi Kawasan Padat Wisatawan

Dari Tempat Jual Ikan, Xianyukou Jadi Kawasan Padat Wisatawan
Xianyukou Street, salah satu kawasan di Beijing yang padat wisatawan (Analisadaily/nirwansyah sukartara)

Analisadaily.com, Beijing - Kamis, 25 Juni 2026, saya harus meninggalkan Chongqing dan beranjak ke Beijing. Saya dan beberapa jurnalis dari Sumatera lainnya yang dibawa Konsul Jenderal Tiongkok di Medan tiba di Beijing International Airport sekitar pukul 12.30.

Sebelum memulai agenda sore, rombongan terlebih dahulu beristirahat di Peace Hotel Beijing yang berada di kawasan pusat kota. Dari jendela hotel terlihat gedung-gedung modern menjulang tinggi, menjadi gambaran bagaimana Beijing berkembang menjadi salah satu metropolitan yang cukup besar di dunia.

Menjelang pukul 16.00 waktu setempat, saya melanjutkan perjalanan menuju kawasan bersejarah Xianyukou Street dan Dashilan. Namun, seperti kota-kota besar lainnya, Beijing tidak luput dari kepadatan lalu lintas. Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan yang bergerak perlahan. Suasana jam pulang kerja begitu terasa.

Ribuan pekerja tampak bergegas meninggalkan kantor-kantor pemerintahan Beijing. Wisatawan juga padat memenuhi jalan raya, trotoar, hingga stasiun transportasi umum. Perjalanan yang seharusnya singkat menjadi lebih panjang karena kemacetan. Namun, pemandangan itu justru memperlihatkan denyut kehidupan ibu kota Tiongkok yang sesungguhnya.

Sesampainya di kawasan Qianmen, suasana langsung berubah. Deretan bangunan tua bergaya tradisional Tiongkok berdiri berdampingan dengan toko-toko modern. Inilah salah satu kawasan paling penting dalam sejarah Beijing.

Berfoto di salah satu kafe yang menjual kuliner legend khas Beijing dan pernah dikunjungi Xi Jinping
Banyak warga setempat menyebut kawasan Xianyukou dan Dashilan sebagai jantung "Beijing Lama". Bahkan kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik nol perkembangan Kota Beijing, tempat denyut perdagangan dan kehidupan masyarakat tumbuh sejak ratusan tahun silam.

Di sepanjang kawasan tersebut, wisatawan dapat berjalan kaki menikmati suasana kota tua. Tersedia pula kereta wisata kecil yang membawa pengunjung menyusuri jalan-jalan bersejarah tanpa harus berjalan jauh. Kehadiran kereta itu menambah daya tarik kawasan yang setiap hari dipadati wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dari Pasar Ikan

Langkah pertama saya memasuki Xianyukou Street. Nama Xianyukou berarti "Gerbang Ikan Segar" menyimpan kisah panjang perjalanan perdagangan Beijing.

Kawasan Dashilan
Pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing, kawasan ini merupakan pusat perdagangan hasil perikanan. “Jadi kalau di Beijing ada nama di belakangnya seperti ini tentang ikan. Berarti dulunya itu jual ikan,” ujar William, seorang Tour Guide di Kota Beijing.

Karena aktivitas jual beli ikan yang begitu ramai, kawasan ini berkembang menjadi pasar ikan terbesar di luar Gerbang Qianmen dulunya. Bahkan masyarakat Beijing memiliki ungkapan lama yang menyebut bahwa Xianyukou lebih dahulu terkenal dibandingkan Dashilan.

Kini, aroma ikan segar telah lama menghilang. Sebagai gantinya, kawasan ini menjelma menjadi surga kuliner tradisional Beijing. Deretan restoran, kedai makanan, hingga toko jajanan berjajar di kiri dan kanan jalan.

Suasana sore itu terasa hidup. Wisatawan berjalan santai sambil menikmati berbagai kuliner khas Beijing yang ditawarkan para pedagang.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Tanghulu. Jajanan tradisional ini berupa buah-buahan yang ditusuk seperti sate, kemudian dibalut lapisan gula cair panas hingga mengeras menjadi kristal bening. Buah ceri menjadi salah satu varian favorit yang banyak diburu wisatawan. Ketika digigit, lapisan gula yang renyah berpadu dengan rasa segar buah di dalamnya.

Tak jauh dari sana, pedagang lain menawarkan minuman khas berupa air somboi yang memberikan sensasi segar di tengah cuaca musim panas Beijing.

Sementara itu, kepulan uap dari gerobak-gerobak makanan mengundang pengunjung untuk mencicipi berbagai jenis steamed bun atau bakpau yang dijual dengan aneka isian.

“Nah di sini Presiden Xi Jinping pernah makan,” ucap Wiliam sambil menunjukan salah satu cafe di kawasan tersebut.

Perpaduan aroma makanan, bangunan kuno, dan keramaian wisatawan menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan.

Dashilan

Hanya beberapa langkah dari Xianyukou, berdiri kawasan Dashilan yang menjadi simbol perdagangan Beijing selama lebih dari 500 tahun. Nama Dashilan secara harfiah berarti "Pagar Besar" atau "Gerbang Besar". Nama tersebut berasal dari pagar kayu raksasa yang dahulu digunakan untuk melindungi kawasan perdagangan saat malam hari.

Sejarah Dashilan bermula sejak abad ke-15 pada masa Dinasti Ming. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat bisnis terbesar dan tersibuk di Beijing.

Pedagang kain, obat tradisional, teh, perhiasan, hingga restoran terkenal berkumpul di tempat. Hingga kini, Dashilan tetap menjadi salah satu pusat perdagangan sekaligus destinasi wisata sejarah paling populer di Beijing.

Saat senja mulai turun dan lampu-lampu toko menyala, kawasan Xianyukou dan Dashilan tampil semakin memikat. Jalan-jalan batu yang telah dilewati jutaan langkah selama berabad-abad itu seolah masih menyimpan cerita para pedagang, pelancong, dan masyarakat yang pernah menjadi bagian dari sejarah panjang ibu kota Tiongkok.

Penulis:  Nirwansyah Sukartara
Editor:  Bambang Riyanto

Baca Juga

Rekomendasi