HWPL dan IPYG Latih Generasi Muda Menjadi Pelopor Perdamaian Lewat Dialog Lintas Agama

HWPL dan IPYG Latih Generasi Muda Menjadi Pelopor Perdamaian Lewat Dialog Lintas Agama
Gelar Youth Interfaith Dialogue Training HWPL bersama International Peace Youth Group (IPYG) menggelar Youth Interfaith Dialogue Training secara daring pada Sabtu (4/7/2026). (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) bersama International Peace Youth Group (IPYG) menggelar Youth Interfaith Dialogue Training secara daring pada Sabtu (4/7). Kegiatan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk memperdalam pemahaman tentang keberagaman sekaligus mengasah kemampuan membangun dialog yang damai antarumat beragama.

Dalam siaran pers yang diterima Analisadaily.com, Rabu (15/7/2026), dijelaskan pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari program Youth Empowerment Peace Class (YEPC) yang memberikan kesempatan kepada peserta terpilih untuk mempraktikkan dialog lintas agama sebagai bagian dari pembentukan kepemimpinan perdamaian.

Ketua IPYG Indonesia, Tiurma, mengatakan program YEPC dirancang untuk membekali generasi muda agar mampu menjadi pemimpin yang membawa perubahan positif di tengah masyarakat.
“Melalui program YEPC, kami ingin membentuk generasi muda menjadi Peace Envoys dan Peace Ambassadors yang dapat mewakili Indonesia. Kami juga berharap semakin banyak pemimpin muda yang terlibat aktif dalam berbagai inisiatif perdamaian sehingga nilai-nilai perdamaian dapat diwujudkan dalam tindakan nyata di masyarakat,” ujarnya.

Pelatihan dikemas dalam bentuk dialog lintas agama dengan menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda, yakni Pembina Komunitas Gurukula, Darmadi, yang mewakili agama Hindu; Ketua ISNU Tangerang, Abdullah Ubaid, yang mewakili agama Islam; serta pengajar Komunitas Berean, Thomas, yang mewakili agama Kristen.

Dalam setiap sesi, peserta diajak memahami pandangan masing-masing agama berdasarkan kitab suci tanpa memperdebatkan perbedaan doktrin. Melalui dialog yang terbuka dan saling menghormati, mereka didorong untuk menemukan nilai-nilai universal yang dapat menjadi landasan hidup berdampingan secara damai.

Darmadi menegaskan bahwa perdamaian berawal dari kesadaran manusia terhadap hubungan dengan Tuhan dan seluruh ciptaan.
“Tuhan adalah pemilik segala sesuatu dan hadir dalam setiap bagian dari ciptaan-Nya. Sebagaimana orang tua tidak menginginkan perpecahan di dalam keluarganya, demikian pula Tuhan menghendaki umat manusia hidup dalam persatuan dan saling peduli,” katanya.

Sementara itu, Abdullah Ubaid menekankan pentingnya menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sesungguhnya Allah itu dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu, ataupun dimensi alam semesta. Karena itu, kita hendaknya senantiasa mengingat kebesaran-Nya dan menyadari bahwa Dia selalu bersama kita,” ujarnya.

Dari perspektif Kristen, Thomas menjelaskan bahwa perdamaian sejati bermula dari perubahan dalam diri manusia.
“Peperangan sering kali bermula dari konflik di dalam diri manusia. Karena itu, peperangan terbesar adalah peperangan rohani yang dimenangkan bukan melalui kekerasan, melainkan melalui kasih dan firman kebenaran. Dalam Alkitab, api juga digunakan sebagai lambang firman Tuhan,” jelasnya.

Sepanjang pelatihan, peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan merefleksikan berbagai nilai yang dimiliki bersama oleh setiap tradisi keagamaan. Banyak peserta mengaku memperoleh pemahaman baru tentang pentingnya dialog yang saling menghormati serta semakin menghargai keberagaman.

Melalui program Youth Empowerment Peace Class dan Youth Interfaith Dialogue Training, HWPL dan IPYG berupaya melahirkan generasi muda yang mampu menjadi pelopor perdamaian dengan memperkuat dialog antarumat beragama, membangun kerja sama lintas komunitas, serta mendorong terciptanya kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang majemuk. (MUL)

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi