Nelayan Tanjung Beringin Tak Melaut Akibat Angin Kencang dan Kelangkaan Solar (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Serdang Bedagai - Aktivitas para nelayan di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dalam sepekan terakhir nyaris terhenti. Hal tersebut terjadi akibat angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda perairan Selat Melaka.
Selain angin kencang, para nelayan juga mengeluhkan sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang juga membuat banyak nelayan memilih tidak melaut dan menambatkan perahu atau kapal motor di tangkahan mereka masing-masing.
Ucok (54) salah seorang nelayan di kecamatan ini mengatakan, para nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut untuk mencari ikan karena cuaca yang tidak bersahabat. Selain itu, kelangkaan solar juga menjadi kendala utama untuk berangkat melaut.
"Sudah sekitar satu minggu kami tidak pergi melaut karena angin kencang. Kemudian solar juga susah didapat. Kalaupun berangkat, hasil tangkapan belum tentu cukup untuk menutupi biaya belanja dan kebutuhan selama menginap di laut," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (15/7/2026).
Menurut Ucok, biaya operasional melaut cukup besar, sehingga nelayan berharap hasil tangkapan mampu menutupi seluruh pengeluaran. Namun, kondisi cuaca buruk membuat mereka khawatir terhadap keselamatan saat berada di laut.
Parcil (30) salah seorang nelayan jaring gembung mengatakan bahwa akibat akibat angin kencang dua hari mereka di laut, namun tidak ada hasil hanya mendapat 3 Kg ikan gembung kiring dan dijual maka masing-masung anak buah kapalnya (ABK) bergaji Rp 10 ribu.
Hal senada juga disampaikan Hery (45) bahwa mereka mereka melakukan selama dua malam, juga tidak mendapatkan ikan dan kalau pun hanya sedikit dan kami masing-masing mendapat gaji Rp 15 ribu per orang ABK.
Sementara itu, Usup (50) seorang pengusaha sampan di Tanjung Beringin mengatakan para nelayan saat ini sangat terpukul akibat dua persoalan yang terjadi bersamaan, yakni cuaca buruk dan sulitnya mendapatkan solar.
Ia menjelaskan, pengisian BBM bagi nelayan dilakukan di Stasiun Pengisian Diesel Nelayan (SPDN) yang melayani penyaluran solar dan Pertalite bagi nelayan serta masyarakat di Dusun I, Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin.
Menurut Usup, harga solar yang tertera di SPDN sebesar Rp 6.800 per liter. Namun, setelah ditambah biaya pengangkutan menggunakan jeriken, harga yang dibayar nelayan bisa mencapai sekitar Rp 7.800 per liter. Selain itu, masih ada nelayan yang belum memiliki barcode sehingga kesulitan memperoleh solar.
Para nelayan berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengatasi kelangkaan solar serta memastikan distribusi BBM bagi nelayan berjalan lancar. Mereka juga berharap kondisi cuaca segera membaik agar dapat kembali melaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
(BAH/RZD)